Dalam sebuah percakapan dengan saudaraku muncul pertanyaan kepada saya, “memangnya bisa seseorang yang sudah berusia sepertku ini dapat menata ulang kehidupan ini agar lebih baik lagi ?”, saya jawab dengan spontan, “ya bisa lah, terangantung kita mau merubahnya atau tidak, karena semua orang memilki daya untuk merubah segala sesuatu agar lebih baik dan bahagia”.
Dan sangat jelas sekali itu dijawab oleh Allah dalam Al-Quran Surat Ar-Rad ayat 11, sebagai berikut : “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Seluruh apa yang Allah ciptakan yang ada di bumi ini pada hakikatnya untuk kebahagian manusia, fasiltas yang lengkap dari semesta sudah dihamparkan untuk dapat kita nikmati dan syukuri, dan untuk melalukan proses penyusukuran tersebut Allah berikan potensi ilmu, kecerdasan dan juga keahliaannya, agar kita sebagai manusia mampu menggunakan potensi tersebut dipergunakan secara maksimal, lantas bagaimana mengaktivasi potensi itu menjadi aktual yang dapat kita rasakan dan manfaatkan.
Dan dari sinilah saya berangkat untuk sama-sama mengkaji bagaimana potensi ilmu, qodroh dan irradah itu bisa aktivasi, dengan kajian yang sederhana agar kita bersama bisa mempelajari dan memahaminya.
Kita mulai dari dari Al-Quran dalam surat Al-Baqarah ayat 31, Allah berfirman :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”.
Allah telah memberikan seluruh nama-nama benda di alam ini, bukan sekadar nama itu hanya definisinya saja, tapi juga makna dan fungsinya setiap benda-benda tersebut, yang kemudian kita sebut dengan mengilmui setiap benda, setiap peristiwa dan setiap kejadian dalam memori diri dan memori semesta, karena setiap kejadian di semseta itu sesungguhnya menyimpan memori kehidupannya yang tersimpan rapih, kita diberikan tugas Allah itu membacanya agar mampu mengakses memori diri dan semesta itu untuk kehidupan .
Bukankah wahyu pertama yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu adalah “membaca”, ini tertuang dalam Al-Quran surat Al-Alaq ayat 1-5, sebagai beikut :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Ada mengandung tiga makna yang terungkap yaitu pertama : ada anjuran dan sekaligus perintah membaca, kewajiaban kita untuk dapat membaca segala sesuatu dengan selalu menyertakan Allah didalamnya, artinya ilmu itu sesungguhnya sudah diberikan dalam bentuk potensi dalam diri kita, tugas kita untuk mengativasinya dan mempergunakan untuk kemaslahatan diri, kemaslahatan manusia dan semesta ini agar lebih baik dan bermanfaat, dengan kata lain ilmu itu dpat memberikan daya hidup, daya raga dan daya sadar kita sebagai makhluk Allah diamanati menjadi kahlifah di atas bumi ini. Untuk memahami tiga daya itu nanti saya akan membuat tulisan sendiri dengan judul “mengopitmalkan Daya Manusia”.
Kedua : kita langsung diberikan contoh kasus pembelajaran agar kita dapat memfungsikan daya kita, Allah SWT berfirman,” Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”, darah (Alaq) itu artinya hubungan atau ketersambungan, dengan hubungan dan ketersambungan yang sangat kompleks, karena alaq jamak dari alaqoot, artinya manusia tercipta karena sebuah hubungan dari ayah dan ibu, hubungan itu diwujudkan dalam bercinta, ya… dengan cinta, dari proses hubungan itu bertemunya sperma yang dipancarkan darinya dengan banyaknya kira 200 juta hingga 500 juta sperma yang mengejar satu ovum yang menunggu dirahim, hanya satu yang dapat menemuinya dan yang lainnya gugur secara alami, yang satu itu sebagai pemenang untuk mendapatkan ovum itu, kemudian menjadi darah yang bergntung di dinding rahim yang kokoh dan terlindungi kuat, dalam kurun wakru tertentu menjadi daging dan tulang belulang, dan terbentuklah otak yang nanti akan menjadi pusat memori manusia, sehingga Allah meniupkan ruhnya, maka terjadi fase pertama kehidupan seorang manusia di alam Rahim.
Kehidupan di alam Rahim janin tersebut mampu menyerap nutrisi dan makanan yang disuplai oleh ibunya tersebut, tapi bukan hanya nutrisi saja yang dapat diserap oeg bayi, tapi seluruh informasi baik yang datang dari ibunya dan juga yang datang dari seluruh kejadianya sekililingnya, yang kemudian dirasakan oleh ibunya tersebut dapat mempengaruhi kondisi bayi yang ada dalam kandungan, termasuk juga menyerap seluruh infomasi gentika dari ayah dan ibunya. Dan fase ini juga bayi sudah mendapatan informasi dari bapak dan ibunya dengan mentranfer DNA keduanya.
Ketiga : Allah Subhanahu wataala telah memberikan kepada manusia seluruh kemampuan untuk dapat hidup dunia dengan kebahagiaan, hanya saya saja ada beberpa yang diberikan dalam bentuk potensi yang harus dimunculkan dengan cara tertentu, sehingga Allah mengatakan “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” apaya yang tidak diketahui itu bukan tidak memilikinya dalam bentuk kemampuan atau daya, memiliki daya tersebut hanya belum mampu kita mengakses ilmu, kecerdasaan dan keahlian tersebut.
Dan untuk Meredisain kecerdasan kita itu, dengan melakukan proses kesadaran dengan cara mengilmui setiap kejadian diri dan semesta, melalui proses pembacaan, membaca kitab diri kita, dan membaca bukan hanya membaca dalam arti harfiah, tapi juga membaca dalam sebuah arti dan makna, maka mengapa diwajibkan untuk menuntut ilmu itu agar kita mampu membaca diri dan semesta, dengan kemampuan itu kita bisa menjalani hidup dengan kebahagian, karena hidup itu terasa mudah, terasa lapang dan terasa indah karena kita memiliki semua ilmu yang dibutuhkan. Untuk itu teruslah berkumpul dengan orang-orang berilmu dan orang-orang soleh, dalam majelisnya didalam pergaulannya. Dari itu semua saya hanya ingin mengatakan yuk terus belajar, ayuuklah terus mengaji. (Ns.olin)
