Ayah Haji Nursoleh Hasyim. Ponpes Ashabul Fikri Baros Serang Banten
Sebelumnya saya telah menulis tentang Magnetika Rizki, dan satu fokusnya adalah menerangkan tentang ciri kehidupan yaitu vibrasi atau getaran, seluruh makhluk yang ada disemesta itu hidup karena memiliki getaran, yang membedakanya getaran rendah dan lainnya memiliki getaran tinggi. Semakin tinggi getarannya semakin kuat juga gelombang yang dihasilkan dan akan berdampak titik balik dari resonansi gelombang itu.
Nah karena makhluk hidup di semesta ini juga memiliki vibrasi atau getaran, dan getaran itu akan menimbulkan gelombang dan frekuensi, ini artinya semesta itu dapat menangkap getaran yang kita munculkan dalam diri, dan gelombang yang kita paparkan itulah kita sedang menebarkan informasi apa yang kita alami dan ketahui. Jadi getaran itu salah satu komunikasi kita dengan makhluk Allah yang lain dengan kejujuran dan murni sifatnya, kita bicara dengan seseorang seseungguhnya yang keluar adalah gelombang dan frekuensi juga, dan suara yang kita ucapkan pada hakikatnya gelombang dan frekuensi, sehingga kita dapat menangkap pesan informasi yang disampaikan.
Pernakah merasakan ketertarikan pada satu tempat yang indah, pemandangan yang mempesona, ketika tertarik dengan panorama itulah sesungguhnya kita sedang mendapatkan vibrasi dari alam tersebut, ketika berjumpa dengan seseorang kemudian merasa tenang dan bahagia, maka sesunggunya kita sedang mendapatlan vibrasi kebaikan dan kebahagiaan seseorang itu, tapi bisa jadi kita mendapatkan vibrasi kurang baik, bertemu dengan seseorang koq tidak nyaman dan tidak bahagia, dan itulah vibrasi yang dipancarkan orang tersebut kurang baik, begitu juga pada tempat kita merasakan kurang nyaman tempat itu, itu tandanya tempat tersebut memiliki aura vibrasi yang buruk.
Vibrasi akan memancarkan gelombang, frekuensi dan juga akan memancarkan resonansi, pancaran resonasi dari vibrasi itu tergantung subjek yang bergetar (vibrasi) dan yang menerimanya. Seseorang akan memancarkan vibrasi yang baik jika mampu mengelolanya dengan kebaikan, menaikan vibrasi yang postif banyak caranya dengan solat, dzikir, berkumpulkan dengan orang-orang baik, dan bisa juga berkunjung ke tempat-tempat terbaik dan mulia, misalnya masjid dan majelis ilmu.
Kalaulah kita solat dan berdzikir dengan khusu’ dan benar, akan merasakan ketenangan dan kedamian, itu artinya vibrasi kita sedang tinggi, atau kita berkunjung ke rumah orang-orang shaleh seperti kiyai dan guru, kita merasa tenang dan bahagia, berati kita sedang mendapatkan paparan vibrasi yang baik dari kiyai dan guru. Begitu juga tempat yang memiliki vibrasi tinggi adalah masjid dan majelis-majelis ilmu, kita akan merasakan ketenangan dan kedamian berarti kita telah mendaptkan paparan kebaikan dari tempat itu.
Karena vibrasi akan menimbulkan gelombang dan frekuensi, maka carilah orang, makhluk dan tempat yang memiliki vibrasi yang tinggi kebaikannya, dalam sebuah perjalanan misalnya duduk bersama dengan mereka yang memiliki vibrasi yang rendah, dan dengan sendirinya tidaklah nyaman dan indah perjalanan itu, karena vibrasi yang dikeluarkannya vibrasi rendah, sehingga gelombang dan frekuensinya saling tidak nyambung dan berantakan, wajarlah dalam perjalanan itu tidak ditemukan kedamaian dan keindahan dalam perjalanan tersebut.
Seseorang meskipun telah meninggal dunia tapi memiliki vibrasi yang tinggi, kita dapat menangkap gelombang dan frekeunsinya sampai sekarang, resonansi pancaran vibrasinya dapat kita rasakan dinikmati sampai sekarang, sebut saja Kanjeng Nabi Muahmmad SAW, subhanallah, Rosulullah itu memiliki vibrasi sangat luar biasa tinggi sekali, sehingga sapaan vibrasinya bisa kita tangkap setiap saat, jika kita mengingatnya dan menyembutkan namanya dengan solawat kepadanya, terbayang kasih sayangnya meskipun kita belum bertemu dengannya, terbayang kelembutnya meskipun kita belum pernah mencium tangannya, terbayang pesona cahaya diwajahnya meskipun kita belum pernah melihat raut wajahnya, sholuu ala nabi.
Maka wajarlah jika Kanjeng Nabi kita Muhammad, mengajarkan kita amalan yang tidak akan putus meski seseorang itu telah meninggal dunia, tertuang dalam Hadist Nabi sebagai berikut :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (HR. Muslim nomor 1631).
Seseorang yang memiliki resonansi pancaran vibrasi yang tinggi itu ada tiga kelompok, yaitu , mereka yang beramal jariayah kita masih hidup dunia, mereka yang memiliki ilmu dan mengajarkan dan memenfaatkanya untuk kepentingna umat dan meraka yang mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi generasi yang sholeh yang mampu mendoakan leluhurunya.
(Olin. NS)
