You are currently viewing JANGAN SAMPAI MENUA DAN TIDAK KUAT LAGI (Nadzar belum terlaksana)

JANGAN SAMPAI MENUA DAN TIDAK KUAT LAGI (Nadzar belum terlaksana)

Malam itu saya tersentak ketika dalam obrolan malam itu bersama Mang Haji Yamin, beliau adalah Paman sekaligus mentor dalam perjuangan membangun pesantren Ashaul Fikri, beliau dengan suara pelan, serius dan tajam berkata :

“Kembali dan luruskan niat..!” berkata dengan tatapan matanya menembus alam bawah sadarku. Sambil berfikir dan merasakan apa yang salah dalam menjalankan dan mengembangkan Pondok Pesantren ini, karena begitu banyak kesalahan yang telah saya lakukan, sehingga sulit sekali mana kesalahan yang dialamatkan ke saya itu,  tentang bergesernya niat awal, sehingga gesernya niat akan melencengkan seluruh aktivitas perjuangan itu sendiri, sedang pikiran yang menerawang terdengar lagi kalimat susulannya.

“ Satu diataranya adalah penamaan setiap gedung bangunan di Pondok, yang sudah diniatkan menggunakan nama-nama surat dalam Al-Qur’an” Ujarnya.

“iya Benar Mang haji” aku mengakui itu.

“Dari ucapan itu terhalang keinginan untuk membangunkan sebuah gedung atas nama Keluarga Besar Bani Nasim, yang akan di danai dari bantuan keluarga besar secara gotong royong”. Timpahnya

“Kenapa ada nama banguan dengan nama Baitul ‘Atik, yang memang bukan dari nama Surat dalam Al-Qur’an, inikan yang merubah niat pertama itu”. Tambahnya

“Astagfirullah, aku benar-benar melakukan kesalahan prinsif dalam niat itu”  jawabku.

Berkisahlah tentang niat begitu sangat penting sekali, menjadi landasan dan pondasi dari setiap gerakan perjuangan tersebut, jika niat awal bergeser dan melenceng akan berpengaruh besar dari aktvitas yang dikerjakan, dan Allah tidak akan meridhoi dalam amal yang kita lakukan, dan terlebih alam juga tidak akan mendukung dan merestui setiap langkah-langkah kita.

“Lakukan istikhoroh ulang tentang nama itu, dan mohon ampun terhadap kesalahan tersebut” nasihatnya.

“Baiklah, aku akui kesalahan itu, dan siap memperbaikinya” Jawabku.

Malam semakin larut justru menambah kaya gagasan yang muncul dalam obrolan, dan satu permintaan atau mungkin itu usulan dari Mang Haji,

“Sepertinya ada satu bangunan yang di pojok itu, saya lihat sudah bertahun-tahun mangkrak, dan belum juga selesai, itu kenapa belum selesai juga? “ tanya Mang haji Yamin.

“kurang dana Mang Haji” aku jawab dalam hati, tidak berani kami ungkapkan. Tapi aku yakin siapapun akan tahu itu kalau ada bangunan yang belum selesai-selesai satu diatara penyebabnya adalah kekurangan modal. Dan kemudian ceritakan kisah bangunan itu.

Masih teringat pada tahun 2018 lalu, sudah cukup lama hampir 5 tahun yang lalu, dalam satu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan saya, membangun 2 lokal  dan 2 lantai asrama santri yang permanen, karena selama ini kami bangun hanya semi permanen.

Ketika peletakan batu pertama bersama KH. Andrian MK Pimpinan Pondok Pesantren La Tansa, KH. Mujiburahman Pimpinan Pesantren Assaadah, dan Kiyai -kiyai yang lain menyaksikan dan mendoakan bangunan yang kami akan bangun tersebut, dalam diamkan terucapkan nadzar “saya akan berjalan kaki dari Pesantren Ashabul Fikri Baros menuju Serang sambil melafalkan dzikir dan kalimah toyibah jika bangun itu selesai”.

Sehingga dalam baitan doaku “Ya Allah, jangan buat kami tidak berdaya dengan nadzraku ini, dengan menua usiaku, bertambah umurku, pelan-pelan kekuatan dan kesehatan fisik mulai berkurang, sehingga aku tidak mampu menjalankan nadzarku dengan sempurna, untuk berjalan dari Pesantren menuju Serang, Ampuni aku ya Allah dan engkaulah arhama rohimin, irhamna”.

Alhamdulillah doaku mulai terbuka dengan lembut, Allah mengirimkan orang-orang baik utusanmu Ya Allah, diatarnya adalah Mang Haji Yamin, beliau adalah Insyur Sipil, tahu bagaimana membangun bangunan yang baik, karena itu memang ilmu dan pengalamannya.

Menyemangati, memotiviasi dan bahkan memberikan cahaya penerang dari kebuntuan dan gelapnya jalan untuk menyelesaikan itu.

“Biar saya yang hendel, merencakan ulang bangun itu dan sekigus yang mengawal proyek banguan itu dengan sukarela dan ikhlas karena Allah Ta’ala” ujar Mang Haji Yamin.

Tak tertahan bahagianya saya, sampai-sampai air mata tak kuasa ku tahan, inilah Karunia Allah, hadza min fadhli robi, yang Allah berikan kepada kami, mendengar ini saja sudah merasa selesai satu masalah bangunan itu, semoga Allah mudahkan semua itu. Aamiin.

Bagi kami ini sungguh dramatis, mungkin saja bagi mereka yang memiliki kapital lebih itu hal yang biasa, dapat membayar tenaga ahli dengan mudahnya, bagi kami dihadirkan seorang ahli oleh Allah sungguh luar biasa. Alhamdulillah.

Sehingga malam itu langsung direncanakan dan dihitung kebutuhan anggaranya, dari catatan dan perhitunganya kamu harus menyiapkan sekitar Rp. 75.000.000 (tujuh puluh lima juta rupiah), untuk menyelesaikan lantai bawah dan insyaallah langsung bisa dipakai bangunan itu.

Ketemu angka tuhuh puluh lima juta rupiah saja sudah sangat bersyukur, meskipun uangnya masih dalam bentuk gaib (belum ada wujudnya), Insyallah Allah akan yang mewujudkannya dengan kehendaknya, dengan kuasanya dan dengan caranya.

Allah akan menggerakan dan mengutus makhluk-makhluknya yang sholeh, mukhlisin dan muhsinin, semoga kita satu diataranya yang menjadi perantaranya itu. aamiin

Leave a Reply