Apa yang dicari dari kehidupan ini, seseorang bersamangat mengumpukan dan menumpuk kekayaan, seseorang berusaha keras mempengaruhi masyarakat banyak untuk menjadi penguasa, seseorang menjadi terkuat dan tercantik untuk memuaskan pasangannya, semua itu dilakukan semata-mata karena merasa dengan semua itu dapat menggapai kebagahagiaan dalam hidupnya, kebahagiaan menurut versi dan persepsi dorongan nafsunya belaka.
Setelah semua didapatkan apa yang menjadi harapan kebahagiaannya itu, mampukah menenangkan hati dan pikiranya, atau yang didapatkan kebahagian semu dan menjadi hiasan duniawi, dan yang terpenting apakah kebahagiaan yang didapatkan itu memliki manfaat untuk dirinya dan lingkungannya?
Sederhananya Untuk bahagia memang kita memerlukan banyak kesenangan; tetapi orang yang sedang menikmati kesenangan belum tentu bahagia, carilah kebahagiaan akan menemukan kesenangan, tapi kalau hanya mencari kesenangan belum tentu mendatangkan kebahagian.
Rosulullah bersabda dalam sabdanya : ““Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi).
Setiap yang berpuasa itu dalam bulan Romadhon yang ditunggu-tunggu adalah waktunya berbuka puasa, dan ketika tiba waktunya berbuka terpenuhi kebahagiaan yang dinanti-nantikan, dengan segelas air dan makanan secukupnya sudah dapat memenuhi kebahagiaan, dan tidak sedikit untuk memenuhi hasrat tertentu semua yang diinginkan agar dapat memuaskan hasrat nafsu makannya, setelah buka puasa yang dimakan hanya itu-itu saja, membeli bukan yang dibutukan bukan apa yang diinginkan.
Lihatlah wajah-wajah berharap-harap penuh kebahagiaan di detik-detik adzan magrib dikumandangkan, dalam detik-detik menunggu buka tersebut terasa waktu bergerak lambat sekali, anak-anak berulang kali menanyakan jam berapa, bebera kali mata tertuju pada jam berharap segera masuk waktu berbuka, dan ketika waktunya tiba begitu bahagianya semua dengan mengucapkan alhamdulillah dengan penuh kebahagiaan.
Dan yang jarang dibahas adalah bagaimana kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya, karena sesungguhnya inilah yang menjadi pucak segala kebahagiaan, menjumpai Allah nanti penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan, karena rasa cinta dan takwanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, berjumpa dengan Allah pasti ditempat yang paling istimewa, dan di waktu yang paling istimewa dengan fasilitas yang sangat istimewa pula, yaitu di surganya Allah Subhanahu wataala, ini terlukiskan dalam surat Al kafhi 107 berikut :
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal”.
Kerinduan dan kebahagiaan kepada Allah menjadi motivasi terbesar bagi setiap makhluk termasuk manusia, kerinduan akan terwujud jika mampu mewujudkan cinta dan ketaqwaan menjadi landasan gerak ibadah, dalam setiap beribadah harusnya diniatkan untuk Allah, bukan untuk yang lain, dan kita harus sadar dengan kesadaran yang final bahwa kita tidak boleh mensekutukan Allah dengan apapun, sehingga pertemuan kita menjadi indah dan membahagiakan, ini yang tegaskan oelh Allah dalam ayat berikutnya surat Al-Kahfi ayat 110:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
Isyarat amal soleh itu ada dalam ibadah puasa (shaum), terdapat kebahagiaan bagi yang berpuasa, satu diantaranya adalah kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah Robul ‘Alamiin, kenapa puasa bukan ibadah yang alin yang menjadi sarana bertemu Allah dengan penuh kebahagiaan, karena puasa adalah simpul dari semua ibadah dengan penuh keikhlasan dan keimanan yang paling tinggi, dan ini tergambar dalam hadist Qudsi berikut ini :
Dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW., bersabda: “Allah ‘Azzawajalla berfirman dalam hadits qudsi: “Semua amal perbuatan anak Adam yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai dari kemaksiatan serta dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang diantara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seorang atau dilawan dengan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya saya adalah sedang- berpuasa.”
Dalam hadist di atas begitu spesialnya puasa, hingga dalam bahasa indah, Allah katakan puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan balasanya, dalam satu diantarnya balasan itu adalah diberikan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah. Subhanallah.
