Mentadaburi Surat Al-Alaq 1-5
Membaca literasi tentang asbabun nuzul surat Al-Alaq adalah wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW di Gua hiro gunung Nur, dalam kesendiran ketika melakukan proses perenungan diri, dalam keheningan malam tiba-tiba masuklah kedalam goa tersebut seorang laki-laki menjumpai Nabi Muhammad dengan mengatakan dan memerintah untuk membaca sesuatu.
“Wahai Muhammad, Bacalah..!” Perintah Jibril
“Saya tidak bisa membaca” Jawab Nabi Muhammad
Mendengar yang diperintahnya untuk menbaca, maka Jibril mendekap Muhammad dengan dekapan yang kuat, kemudian Jibril mengulang lagi perintahnya
“Wahai Muhammad, bacalah..! “ Perintah Jibril
“Saya tidak bisa menjawab” Jawab Nabi Muhammad
Dan mendengar jawab itu yang sama, Malaikat Jibril mendekapnya dengan lebih kuat, seraya mengulang perintah itu sekali lagi.
“Wahai Muhammad, Bacalah..!” Perintah Jibril
“Saya tidak bisa membaca.” JAwab Nabi Muhammad lagi
Hingga yang ketiga kali, kemudian Jibril membantu membacakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammadm dan kemudian dinamai dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq, turun pertama dengan 5 ayat.
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dalam banyak kajian dan buku-buku sirah nabi ini dikisahkan tentang turunnya wahyu pertama yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, dan ini sekalian menjadi surat keputusan dari Allah tentang pengangkatan Muhammad menjadi seorang Nabi.
Surat Al-Alaq yang diturunkan ditempat yang sunyi dan dalam keheningan, situasi seperti itu menjadi puncak perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dan menemukan jati dirinya, ini juga yang menggambarkan dan mengajarkan kepada kita bahwa untuk mendapatkan pencerahan dalam menemukan jati diri memerlukan perenungan dan kontemplasi, dan panduan untuk mendaptkannya dengan mentadabburi surat Al-Alaq ayat 1 hingga 5.
Dimulai dari satu perintah yang sangat tegas dari Allah untuk membaca ““Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!” Perintah Membaca bukan sembarang membaca, membaca ini bukan hanya membaca huruf-huruf menjadi kalimat, bukan sekedar kumpulan kalimat-kalimat menjadi makna, tapi juga membaca diri, membaca lingkungan dan membaca semesta ini menjadi sebuah petunjuk agar mampu mengenal diri sejatinya.
Membaca itu terkait dengan membaca kitab, dan Allah menurunkan kepada manusia banyak kitab, ada kitab Maknun yaitu kita suci yang dirunkan kepada para nabi, ada kita mastur kitab yang terhampar adalah kitab semesta dan kitab markum yaitu kitab catatan diri setiap manusia.
Satu bentuk pembaca kita diri itu dimuali dari pemahaman tentang proses penciptaan manusia, dari membaca proses penciptaan manusia itu kita mampu mengenal diri kita secara fisik masing-masing.
Membaca proses penciptaan manusia dari segumpal darah, darah menjadi daging, menjadi tulang yang dibungkus daging dan kemudian tercipta mahluk lain yang sempurna.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ ١٢ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ١٣ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ١٤
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” (QS. Al-Mu’minun 12-14).”
Proses penciptaan manusia dilakukan di alam Rahim seorang ibu, dalam Rahim cabang bayi diberikan asupan makanan dan nutrisi melalui ibu yang menyayangi dirinya, karena memang tempat prosesnya di dalam Rahim, makna Rahim itu adalah cinta, dan manusia tercipta berdasarkan cinta dan proses ditempat yang penuh cinta yaitu Rahim, ketika dalam alam Rahim cabang bayi juga mendapatkan pembekalan yang luar biasa selain asupan makan, tapi juga mendapatkan kecerdasan DNA dari orang tuanya, dan lebih dari itu Allah meniupkan sebagian ruh kedalam manusia ketika di dalam Rahim.
Dan lebih dahsyatnya lagi dialam alam rahim itu manusia dipertemukan dan persyahadatan pertama dengan Allah langsung, dan ini tertuang dialog kita dengan Allah dalam Rahim ibu :
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Dan mengapa wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad itu adalah iqro, dan iqro itu membuka peta diri kita untuk menemukan kesejatian manusia itu sendiri, manusia itukan hanya kumpulan daging dan tulang saja dan menjadi betuk fisik sempurnanya manusia, tapi juga allah ciptakan tubuh lainnya yaitu jiwa dan juga ruh di dalamnya.
Pewarisan DNA Orang Tua
Dalam sebuah penelitian faktor warisan DNA bukan hanya faktor fisik dan biologis saja tapi kecerdasan itu diwariskan dari orang tuanya sekitar 40-60 persen, ini artinya sesungguhnya ada pengeruh yang sangat kuat bahwa dari induk atau orang tua yang cerdas akan mengalir juga kecedasan dari oarng tuanya.
Dan proses ini terjadi ketika anak masih dalam Rahim ibunya, dalam Rahim bukan saja mendapatkan asupan makan dan nutrisi, tapi juga separangkat kesadaran, keilmuan dan keahlian yang menjadi bekal bagi anak untuk kehidupan di dunia.
Sehingga surat Al-Alaq ayat 1-5 itu menjadi pedoman kita untuk membaca diri, membaca proses penciptaan manusia dan sekaligus menemukan jati dirinya, Allah yang Maha Rahman dan Rahim, telah membakali setiap manusia untuk siap beradaptasi dan berkembang dalam kehidupannya. Dan pewarisan itu kemudian disebut dengan fitrah manusia, kemudian dijelaskan dalam surat Ar-rum 30:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٣٠
“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dan kemudian ditegaskan dalam hadist nabi tentang fitrah manusia ;
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)
Setalah mengetahui bahwa ilmu, kecerdasan dan keahlian itu adalah seperangkat fitrah manusia, tapi dan semua itu dalam bentuk potensi untuk diaktivasi, dan yang pertama-tama membuka aktivasi itu adalah orang tuanya, hingga nanti setiap manusia belajar dengan kecerdasan fitrahnya masing-masing.
Untuk menemukan jati diri manusia harus mengiqroi kitab dirinya masing-masing, agar manusia bergerak sesuai dengan jalannya atau orbit dirinya. Dan akhirnya selamat membuka diri kita untuk membaca diri kita masing-masing.
