You are currently viewing MENTADABURI AYAT-AYAT MOTIVASI DALAM Al-QURAN

MENTADABURI AYAT-AYAT MOTIVASI DALAM Al-QURAN

Bismillah dengan menyebut nama-nama Indah yang Allah sematkan pada diri-Nya, dan nama-nama itu selanjutnya menjadi laku bagi setiap makhluk Allah terutama manusia, hidup yang dijalani pada hakikatnya adalah bagian dari pengamalan asma-asmanya Allah, dan asma-asma itu telah Allah ajarkan kepada khalifah pertama di muka bumi ini yaitu Adam Alaihi salam, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah : 31)

Tuangan asma-asma Allah itu bertaburan dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an sendiri bukan hanya perunjuk bagi manusia tapi juga motivasi hidup dalam setiap ruang dan waktu kehidupan, semua tergambar jelas semua permasalahan hidup manusia dalam Al-Qur’an, dan tugas kita adalah mentadaburi Al-Quran agar kita hidup lebih bersyukur dan bahagia, Tadabbur bertujuan menghidupkan hati, meningkatkan keimanan, dan mengaplikasikan nilai Al-Quran dalam kehidupan. Ini dilakukan dengan membaca tartil, merenungkan makna, atau menggunakan terjemahan/tafsir, “Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur’an? Seandainya (Al-Qur’an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa : 82).

Untuk menunjukan Al-Quran menjadi motivasi dan sekaligus jalan keluar dari sebuah permasalahan hidup itu, ambillah satu surat dalam Al-Qur’an misalnya surat Ad-dhuha, mulai membaca dengan memahami sedikit asbabul nuzul surat Ad-Dhuha itu turun, dalam banyak pendapat ulama tentang sebab-sebab turunya surat ini adalah kegundahan Nabi Muhammad SAW karena merasa terhentinya wahyu yang datang kepada beliau, dan ini diketahui oleh banyak orang di Mekah pada waktu itu, sehingga banyak dari orang-orang kafir Quraisy menghina dan mengolok-olok nabi dengan mengatakan “ Tuhanmu telah menggalkanmu Muhammad”, dan bahkan ada riwayat ada tokoh pengosip dan penghina terbesar itu kala itu yaitu istrinya Abu Lahab yaitu Umu Jamil berkata ““Wahai Muhammad, setanmu benar-benar telah meninggalkanmu.” Lantas turunlah firman Allah swt dalam surah Ad-Dhuha (HR. Bukhari, no. 4983).

Nah Surat Ad-Dhuha ini adalah merupakan surat yang ke-93 dari 114 surat dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 11 ayat. Surat ini diturunkan di Mekkah – tepatnya sesudah surat Al-Fajr – atau lebih dikenal dengan istilah surat Makkiyah. Nama ad-Dhuha diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya “waktu matahari sepenggalahan naik”.

Surat ini menggambarkan hati yang gundah merasa ditinggal, merasa diabaikan dan bahkan merasa kecewa dengan keadaan, karena tidak ada satupun yang mengerti tentang dirinya, dan perasaan ini sering menimpah orang-orang sekarang ini, sakit hati karena merasa sendiri bahkan ditengah keramaian dunia medsos, mislanya buat status apapun tidak ada yang melihat, apalagi memberi like dan jauh dari komentar teman-teman di medos, sehingga merasa sendiri terasing dan merasa tertinggalkan, dan surat Ad-dhuha cocok nih untuk menumbuhkan harapan dan kepastian hidup.

Ketika membaca surat Ad-Adhuha langsung aja kita mendapatkan jawaban atas merasa ketakutan akan merasa ditinggal, dengan Allah berfirman “ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ۝٣ ” yang artinya seperti ini “ Tuhanmu tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu”.

Nah dengan pernyataan Tuhan tidak meninggalkan dan tidak pula membecimu, itu bentuk peryataan cinta dan kasih sayang Allah untuk kita, dan ini menjadi petunjuk bahwa kesedihanmu, ketakutan dan kekhawartiran itu akan sirna jika mampu memaknai dari pernyataan ini.

Dan bukan itu saja, kemudian Allah memotivasi kita dengan mengatakan “ وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ۝٤ “ dengan janji Allah kepada kita bahwa “ Sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan”, dan ini penegasan bahwa sekarang ini dalam masa-masa sulit ini, menjadi mudah dan semangat untuk menggapai masa depan, dengan berorientasi akhirat atau masa depan seakan-akan menghapus kesulitan sekarang ini, dan bisa dikatakan inilah peta perjalanan hidup untuk menjadi lebih bahagia.

Dan bagaimana peta kebahagian masa depan itu bisa kita dapatkan, dan solusinya adalah kita diingatkan untuk flashback kebelakang, melihat masa lalu sebagai gambaran untuk melihat peta masa depan, dengan alur seperti ini, bukankah dulu juga kita merasa kurang, sakit dan bingung, kemudian Allah memberikan petunjuk dan mencukupi dan melindungi hingga sekarang kita masih tetap menjalankan hidup, bukankah dulu juga punya masalah yang berat kemudian seiring waktu mengurai masalahmu hingga kita masih tetap hidup hingga sekarang, dan gambaran ini tertuang dari ayat 6 hingga 10 dalam surat Ad-dhuha.

Dan surat ini ditutup dengan deklarsi cinta dan kasih sayang Allah kepada kita “ وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْࣖ ۝١١“ yang artinya “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur)”. Sederhananya setiap peristiwa seharusnya yang selalu mengingatkan akan syukur dan nikmat Allah itu, bersyukur dengan cara berpikir postif  dan husnu dhon kepada dari semua peristiwa kita alami, sebagai ilustrasi seperti ini, jika kita tidak memiliki rizki dalam bentuk uang yang banyak, coba berpikir postif alhamdulillah kita masih diberikan kesehatan dan masih bisa makan hari ini, karena banyak orang yang kaya raya kemudian sakit dan tidak bisa makan apa-apa sedangkan uangnya bisa membeli apa saja bisa, dan petunjuknya adalah selalu mencari alasan kebaikan yang Allah berikan kepada kita sehingga kita bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah ala kuli hal.

Leave a Reply