You are currently viewing ISTIQOMAH & MALAIKAT

ISTIQOMAH & MALAIKAT

MENTADABURI AYAT MOTIVASI FUSHILAT AYAT 30

Setiap membaca ayat inim yaitu surat Fushilat ayat 30 ini, kemudian dibaca-berulang-ulang dibaca dan berikut artinya entah berapa kali dibacanya, kemudian ada terasa yang yang aneh hati ini bergetar seakan-akan mengatakan ayat untuk saya, pas banget sesuai dengan sausana pikiran dan batin yang sedang dilanda kegalauan yang sangat, perlahan-lahan ayat ini menunjukan sesuatu kepada saya tentang apa yang harus dilakukan.

Ayat ini berulang kali dibaca semakin kencang aja motivasi yang diterimanya, dan menariknya seakan-akan dibawa pada situasi bahwa  tidak sendiri dalam melakukan perjuangan ini, dan ayat ini seperti sedang berdialog tipis-tipis dengan saya, dan kalau boleh dtuliskan dialognya seperti ini.

“Apa iya yang saya lakukan ini adalah benar?, dan kenapa setiap melakukan perjuangan kebenaran selalu muncul rintangan dan kekurangan ?” Tanyaku

“Apakah setelah berkata beriman semua selesai semua urusan ? coba deh baca surat Al Ankabut ayat 2 ?” Jawab ayat

Dengan rasa pensaran saya membuka surat Al-Ankabut ayat dua itu yang bunyi seperti ini :

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ۝٢

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?”

Jawaban yang menohok yang saya terima, menunjukan beriman bukan sesuatu yang pasif tapi menjadi aktif diperjuangan dan dipertahankan, untuk melihat seberapa hebat iman seseorang itu diukur dengan seberapa besar ujian yang menimpanya, dan ujian itu termasuk ujian fisik, ekonomi, politik hingga ujian psikologis.

Kembali lagi membaca surat fushilat ayat 30 itu, baca lagi dibaca lagi kemudian menunjukan satu pertanyaan pada diri sebenarnya.

“Terus siapa yang membersamia ketika mengatakan saya beriman kepada Allah Tuhanku, dan terus beristiqomah dengan keyakinan ini ?” tanya ku pada diri sendiri

“Coba sekali baca dengan pelan-pelan membacanya, hayati dan renungkan dengan ayat ini” jawabnya

Kemudian dengan perlahan dan hati-hati membaca ayat tersebut, huruf demi huruf dan mencari makna dan singkapan ayat tersebut yang berbunyi seperti ini.

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ۝٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Alhamdulillah mendapakan lipatan makna dari ayat ini, yaitu jika beristiqomah dalam perjuangan untuk menegakan kalimah Allah, dan Allah akan menurunkan malaikat-malaikatnya dengan narasi tatanjalu malaikat, dan malaikat-malaikat itu turun menjumpai dengan membisikan kata-kata indah penuh motivasi “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

“Dan Mengapa  banyak juga bisikan yang menjurus kepada yang negatif, seperti rasa sedih, takut, frustasi dan yang lainnya menambah kegaluan?”  Tanyaku

“Dan memang yang membisikan kepadamu bukan hanya malaikat dan termasuk juga setan ikut dalam gelombang kebisikan “ jawabnya

Oh jadi begitu,  teringat sebuah perkataan nabi tentang ini dalam sebuah hadist sebagai berikut ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ اْلأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثُمَّ قَرَأَ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمْ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ َالاَيَةَ

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki bisikan pada manusia, malaikat juga memiliki bisikan. Bisikan setan  menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat  menjanjikan kebaikan dan mempercayai kebenaran. Barangsiapa mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah Azza wa Jalla, kemudian hendaklah dia memuji Allah Azza wa Jalla . Dan barangsiapa mendapatkan yang lain, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari setan yang dilaknat”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ( al-Baqarah/2: 268) [HR. Tirmidzi)

Dan rupanya telinga dan hati itu pusat pertempuran yang sangat dahsyat, yaitu pertemburan bisikan dari para malaikat dan juga dari setan, dan kitalah yang menentukan dari sebuah bisiikan itu, untuk dapat menerima bisikan kebaikan dari malaikat dan menolak bisikan yang dari dari para setan , dan karena dada ini pusat sebuah pertempuran sengit semua bisikan, dan kemudian ada pertanyaan yang muncul.

“Kemudian apa yang harus dilakukan dengan situasi seperti ini? “ Tanyaku

“Menata hati agar dada menjadi luas” Jawabnya

Lagi-lagi harus cepat berfikir dan mencari-cari bagaimana menata hati itu, apa itu hati yang selalu menjadi pembicaraan jika kita menghadapi dalam situasi yang menekan, kemudian seseorang mengatakan tanyakan hatimu, bagaimana cara berta kepada hati itu ?

Kalau hati bisa ditanya, hati siapa yang kita tanya, apakah hatiku, hatimu atau hati semua orang? Wah begitu repotnya bertanya kepada hati, lantas hati atau qolbun itu apa ? sehingga qolbu itu begitu penting bagi kehidupan manusia dan bahkan Rosulullah bersabda mengenai hati itu :

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Hati bisa menunjuk pada fisik yaitu jantung, kemudian para ilmu tasawuf bukan hanya fisik tapi pada fungsi qolbu, dan qolbu itu bisa artikan secara harfia diambil dari qolaba yang arti bisa berbolak balik, tidak ajeg tapi bisa berubah dalam waktu yang cepat, dan wajar sekali kita ada doa untuk memantapkan hati atau qolbun itu, doa keketapan hati memiliki kisahnya seperti ini :

Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

“Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?”

Ummu Salamah menjawab,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ».

“Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”

Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”

 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”

Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi)

Semakin jelas saja bahwa istiqomah terhadap sesuatu itu pekerjaan hati dan iman kita, sehingga memerlukan perjuangan dengan segala daya agar tetap istiqomah, dan keistiqomahan karena Allah akan mendatang bantuan dari para mahluk terbaiknya yaitu para malaikat untuk membisikan kebaikan itu, maka dengarkan bisikan kebaikan itu karena itu datangnya dari Allah, dan bermohonlah kepada Allah perlindungan dari bisikan setan yang menuju kesesatan yang nyata.

Terakhir jika meneguhkan diri untuk beristiqomah, dan orang-orang beriman yang bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Sesungguhnya orang-orang beriman yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka bermohon kepada Allah agar meneguhkan pendirian mereka beristikamah dalam hidup, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka yang akan menjadi teman mereka dengan berkata, “Janganlah kamu merasa takut menghadapi masa datang, dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu melalui Rasul-Nya.

Leave a Reply