You are currently viewing FASE PENSIUN MEMBUNUHMU

FASE PENSIUN MEMBUNUHMU

Beberapa bulan ini saya bertakjiah kepada saudara, sahabat dan tetangga yang meninggal dunia, meninggal dunia itu memang takdir, tapi bagaimana takdir yang menjemput kita menjadi sesuatu yang indah dan membahagiakan.

Dalam takjiah tersebut saya banyak bertemua teman, saudara dan tetangga kemudian berbincang banyak hal, yang seumuran anatar 50 tahunan keatas, banyak membahas tentang anaknya, anaknya kuliah dimana ? sudah  nikah apa belum anaknya ? dan tentang penyakit yang menderanya dari asam urat, kelesterol, strok dan lain-lain, seakan-akan mereka ingin mengatakan waktu habis hidup didunia ini, perlu banyak istirahat dari hiruk pikut perjuangan kehidupan dunia, waktu berjuang untuk berkarya dalam hidup sudah selesai, dan yang terjadi mencul kecemasan, kegalauan dan ketakutan dalam menghadapi pengujung kehidupannya.

Sering dalam pertemuan itu,  saya melontarkan gagasan-gagasan untuk membuat karta terbaik di seperiga sisa umur.  insyaallah ada banyak manfaatnya untuk umat dan masyarakat, diusia 50 tahun ini malah waktunya untuk berbuat sesuatu membangun peradaban yang baik bagi generasi penerus, yang kemudian kawan-lawan mengatakan inget umur broh, usiamu itu sudah tua untuk meraslisasikan sebuah karya terbaik sudah lewat, ente sudah terlambat untuk membuat sesuatu itu, seharusnya waktunya sekarang ini adalah menikmati apa yang dulu ente perjuangkan.

Tidak salah sih pandangan kawan saya itu tapi sepenuhnya benar apa yang dikatakannya, benar umur saya sudah di atas 50 tahun, benar bahwa usia sudah memasuki manula awal menurut Deparatemen kesehatan Republik Indonseia, tapi kalau menurut WHO usia 50 tahunan itu adalah usia pertengahan, dan saya tidak menyalahkan atau membenarkan pendapat dari dari dua instansi tersebut, tapi jika lebih memilih siklus fase usia manusai menurut Al-Quran ayat Al-Ahqaf ayat 15, lebih benar dan lebih realistis.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ  قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ 

“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya”. (Al-Ahqaf : 15)

Dari ayat di atas fase kehidupan manusia dibagi pada 4 fase saja, yang Pertama 0-15 itu adalah fase anak, fase ini manusia yang berumur 0-15 adalah fase membutuhkan bimbingan dari orang tua dan lingkungan secara langsung, karena fase ini disebut masih mukallaf atau belum balig, semua masih dalam bimbingan orang tuanya.

Fase kedua adalah 15-40 tahun yaitu fase prmuda (syabab), dalam islam tidak dikenal masa remaja, yang ada adalah pemuda, fase ini menrima panggila pertma tugas langit,  peroses pencarian dan pembekalan hidup untuk menemukan jati dirinya, di fase ini sering dihinggapi kegelisahan dalam hidupnya, karena mencari jatidirinya dan mencari kemampanan hidup, waktu untuk mencari orbit diri agar mampu menghadapi kehdiupan difase berikutnya.

Kalau membaca siroh nabawiyah (sejarah kehidupan para nabi), pada usia ini terlihat para nabi mengalami kegelisahan yang sangat untuk mencari kebenaran dalam hidupnya, kegelisahan itu adalah bentuk sinyal dari Allah untuk dapat menemukan keberanan hidupnya, karena Rosulullah 3 tahun menjelang 40 tahun tersebut bolak-balik ke gua hiro untuk sebuah proses pencarian tersebut dari apa yang dirasakan dari sebuah kehelisahan, gelisah karena memilihat masyarakatnya yang selalu melakukan banyak penyimpangan dalam kehidupannya, begitu juga nabi Musa dan Ibrahim pada usia untuk mengalami kegelisan, sehingga Allah menuntunnya untuk melakukan proses pencarian kebenaran.

Dan para Nabi tersebut rata-rata mendapatkan kewahyuaan pada usia 40 tahunan, dan fase ini adalah awal dari sebuah perjuangan, sehingga Rosulullah apada usia 40 tahunan tersebut menerima wahyu oertamanya, dan sekligus diangakt menjadi Nabi dan Rosul oleh Allah subhanahu wataala.

Dan kita akan mengalami gelisah menjelang usia 40 tahun, gelisah untuk membuat karya terbaik menjadi sarana untuk beramal sholeh, ayo sabut gelisahan untuk dapat berbuat yang terbaik untuk berjuang di jalan Allah, jika meuncul getaran atau gelisahan untuk berbuat kebaikan diusia itu, segeralah melakukan sikap untuk memulai menemukan suara langit itu.

Sejak menerima misi kenabian tersebut hingga usia 63 tahun, pada masa itu nabi memulai dakwah dan perjuangannya, waktu beramal kebaikan yang dirihoi Allah, sepertinga akhir hidupnya dimulai dari 40 tahun itu justru digunakan untuk bergerak penuh semangat untuk berjuang dengan misi kenabianya.

Menarik ada sebuah riset dari sebuah perusahaan besar tentang 7000 karyawan yang pensiun menurut usianya, karyawan yang penisun yang di muru 40 tahun bisa hidup 80 sampai 90 tahun, kartawan yang pensiun 50 tahun bisa hidup 70-80 tahun, sedangkan karyawan yang pensiun diumur 60 tahun itu mati dtahun yang sama, ini adalah sebuah riset tapi kesimpulanya bukan pada harus cepat pensiun agar hidupnya lenbeih lama, tapi karena bekerjanya bukan karena keahlian dan panggilan jiwanya, sehingga dalam bekerja penuh tekanan dan kegelisahan, hidup penuh ketakutan dan kegelisahan menjadi faktor meninggalnya cepat, meskipun kematian itu takdir, tapi faktor kegelisahan yang amat sangat membuat hidup tertekan dan tidak bahagia menyebabkan kematian menjadi lebih cepat.

Untuk itu dalam usia  40 tahun itu Al-quraan menggambarkan keistimewaan usia tersebut, yang disebutkan dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15, seharusnya kita bisa menangkap keistimewaan pada usia tersebut, saking istinewanya Allah meberikan anjuran dan sekaligus bentuk doa bagi yang berumur 40 tahun yaitu :

ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ  قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ 

Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Ada tiga yang oerlu diperhatikan pertama adalah memohon petunjuk agar dapat menysukur nikmat yang telah Allah berikan selama hidupnya itu, ini menunjukan bahwa nikat hidup yang telah diajalani selama ini perlu kita syukuri, syukur ini bukan hanya maknanya menikamati, tapi mengisi seluruh hidupnya dengan karya-larya terbaiknya, kedua bersyukur terhadap orang tuanya, dan pada usia 40 tahun kita seharusnya sadar untuk mampu bersykur kepada orang tua dengan tidak selalu menyalahkan apa yang telah diperbuat dalam mendidik kita,  karena keterbatasaN kemaMpuan sehingga orang tua mendidik dan membesarkan dengan apa adanya dan belum mampu menggali potensi diri anakny, sehingga hidup kita jalani tidak maksimal untuk sejahtera, maafkan itu dan syukuri apa yang telah dilakukan orang tua kita pada kita, agar Allah meridhoi perjalan hidup kita dan terakhir berbuat amal sholeh yang Allah Ridhoi.

Fase ketiga 40-60 tahun, adalah fase dewasa, menemukan panggilan langit kedua untuk beramal sholeh, jika Rosul pada fase ini adalah melakukan panggilan langitnya untuk hijrah membangun tatanan peradaban baru, membangun visi besar untuk berbuat sesuatu bagi peradaban manusia dengan tata kelola yang lebih baik dan benar, bukan pada fase ini kita merasa bebas tugas karena pensiun didalam pekerjaanya, bukan waktu untuk berhenti dati tugas langit dan berjuang hingga ajal menjemputnya, bukan berhenti dari rutinitas bekerja yang membosankan, setalah pensiun dan bebas tugas merasa waktunya berkarya telah usai, dan runtintas itu membunuhmu. Merasa sudah selelsai tugas dengan sendirinya sel-sela dalam tubuh sudah tidak dibutuhkan lagi untuk beribadah dan beramal sholeh, maka sel-sel tersebut akan berhenti dan mati karena tugasnya sudah selesai.

Jika dalam fase ini merasa sudah pensiun dan sudah bebas tugas, kemudian berhenti melakukan amal sholeh yang diridho Allah, berati ada amal sholeh yang tidak diridho Allah, mengerjakan rutinitas bekerja adalah amal sholeh tapi belum tentu diridhoi Allah seperti yang tersirat dalam ayat di atas, yang kemudian di koerelasikan dengan QS. Fatir ayat 37, sebagai berikut :

وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَاۚ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ ࣖ

Artinya : “Mereka berteriak di dalam (neraka) itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, bukan (seperti perbuatan) yang pernah kami kerjakan dahulu.” (Dikatakan kepada mereka,) “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa (yang cukup) untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka, rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (Fatir 37).

Ini ayat menunjukan kita telah nerasa beramal sholeh, tapi amal sholehnya tidak dinginkan dan diridhoi Allah, sehingga amal itu menjadi sia-sia belaka, ketika dalam akhirat memohon kepada Allah unt beramal sholeh (kebajikan) dengan cara lain, tidak seperti selama itu lakukan sebelumnya agar dapat diterima di sisi Allah, kemudian Allah menjawab bukankah kami sudah memanjangkan umurmu (40 tahun) dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi iarng-orang berfikir, dan waktu 40 tahun adalah waktu yang cukup untuk memulai panggilan langit untuk berbuat kebajikan yang diridhoi Allah.

Dan fase terakhir 60-70 adalah fase syuyuh, dan merupakan fase legacy atau mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada anak-anaknya, anak disini bukan hanya anak bilogis saja tapi anak idologis (anak didik), jadi yang diwariskan bukan hanya harta, tapi yang terpenting merawiskan ilmu, kecerdasan dan keahliaanya bagi generasi penerusnya, ini tercantum dalam ayat berikut ini.

وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Mewariskan kesalehan kepada anak-anak hingga cucunya, dan juga kepada anak-anak yang lain yang menjadi anak idilogis dan didiknya, tugas terakhir dari pengujung usia ini. Berjuang hingga sampai akhir umur yang diberikan Allah, karena hidup itu karir dan karena perjuangan tidak diatasi oleh usia. Tidak ada kata pensiun untuk berbuat kebajikan dan menebarkan kebaikan kepada yang lain. (NS.Olin)

Leave a Reply