You are currently viewing KETAHANAN PANGAN MIKRO DI PONPES ASHABUL FIKRI

KETAHANAN PANGAN MIKRO DI PONPES ASHABUL FIKRI

“Tanam tanam pohon kehidupan

Siram siram sirami dengan sayang

Tanam tanam tanam masa depan

Benalu benalu kita bersihkan ….”

(Tanam Siram – Iwan Fals)

Ahh.. pemilihan judulnya terlalu hiperbolis, pada kenyataannya bangsa ini dari dulu sampai sekarang masih berkutat dengan jargon ketahanan pangan. Bahkan Dewan Ketahanan Pangan yang terbentuk pada tahun 2006 harus dibubarkan dengan Perpres 112 tahun 2020.

Ups, kalimat di atas jadi terkesan ironis atau bahkan sinisme pada agenda besar yang belum juga tercapai. Terinspirasi oleh konsep 3M-nya Aa Gym (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil, Mulai saat ini), Pondok Pesantren Ashabul Fikri meluncurkan program dengan jargon yang bombastis KETAHANAN PANGAN SANTRI sebagai motivasi untuk keluarga besar AF dan memulai dengan hal kecil yang bisa kita lakukan.

Sebagus apapun konsep, sematang apapun rencana dan sesempurna apapun sebuah agenda hanya akan menjadi tumpukan kertas belaka. Maka Pimpinan dan Pengasuh Ponpes Ashabul Fikri melakukan kebijakan “Sempurnakan konsep dengan aksi”. Kerjakan segera sebuah kebaikan dan sempurnakan konsep sambil bekerja. Atau mungkin juga diingatkan  dengan quote bahasa Arab, atau mahfudzot “Laa Tuakhir amalaka ilal ghodi Maa taqdiru ‘an ta’malahul yaum”Jangan engkau tunda rencana kerja sampai besok, apa yang engkau mampu lakukan sekarang, atau bahkan ditampar oleh ucapan seorang Bob Sadino “Orang pinter kebanyakan ide dan akhirnya tidak satupun yang jadi kenyataan. Orang bodoh Cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan”.

Ketahanan pangan ala santri ini hakikatnya adalah bagian integral dari pendidikan holistik ponpes AF, membekali santri dengan pengetahuan praktis tentang survival, pembiasaan dan pendidikan karakter. Program ini begitu sederhana, siapkan lahannya, pelajari tata caranya, semai benihnya, rawat pertumbuhannya, petik hasilnya.

Nenek moyang kita memang pelaut, karena nusantara dikelilingi oleh lautan. Tapi harus diingat juga bahwa pulau Jawa adalah pulau tersubur ketiga di dunia. Negara kita pun sering disebut dengan negara agraris atau negara yang berdaya dengan pertaniannya. Pulau Jawa jaman dahulu disebut dengan Jawadwipa, artinya pulau padi pulau yang sangat subur untuk tanaman pangan.

Petani, menjadi profesi pilihan terakhir dengan diksi “daripada nganggur”, padahal menurut kang Emil, gubernur Jawa Barat, pertanian merupakan sektor terbesar ketiga yang menyumbang perputaran roda ekonomi di Jawa Barat. Sehingga kang Emil melihat agrikultur atau pertanian yang dikelola dengan teknologi tepat guna dan integrasi digital akan menjadi sektor yang menjanjikan bagi kaum milenial dan Gen Z sebagai peluang usaha yang prospektif.

Berdasarkan kajian dan penelaahan di atas,  ponpes AF mengembangkan program Ketahanan Pangan Santri dengan skala terukur dan berkesinambungan. Mulai dengan menanam beberapa jenis sayuran yang biasa dikonsumsi santri seperti kangkung, bayam, selada, tomat, cabe dll. Untuk dikonsumsi sendiri. Pada tahap selanjutnya mulai melakukan kajian pasar untuk menawarkan hasil pertanian santri kepada masyarakat sekitar dan pasar pasar terdekat.

Setidaknya, kebutuhan sayuran untuk santri bisa terpenuhi setiap harinya maka satu masalah konsumsi santri bisa teratasi, apalagi kalau hasil taninya bisa memenuhi kebutuhan  masyarakat sekitar, ini akan menambah sumber income untuk membiayai operasional di pondok pesantren AF.

Mengawali kegiatan ini dengan bismillahi ar rahmaan ar rahiim, menikmati prosesnya dengan cinta dan kesabaran, memetik hasilnya dengan alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, dan gembira. Dari santri untuk santri oleh santri.

Ashabul Fikri, 14 Rabi’ul Akhir 1443H/19 November 2021 M

Abah Izal (AFlovers)

Leave a Reply