You are currently viewing SUDAHKAH BERBUAT BAIK HARI INI ?

SUDAHKAH BERBUAT BAIK HARI INI ?

Giat beramal kebaikan bertujuan mengumpulkan pundi-pundi pahala dalam bulan suci romadhon, itu memang sangat diajurkan Allah dan rosulnya, karena memang romadhon itu waktunya yang tepat untuk menggandakan amalan menjadi memilki nilai lebih dari bulan yang lain, sebagian orang sangat fokus pada kebaikan itu, berlomba-lomba dengan semangat membara, aji mumpung bulan romadhon, seakan-akan tidak waktu lagi untuk sejenak merebahkan badan, mengendorkan fungsi tubuh yang lain, dipacu sedemikian rupa untuk menggapai amal sholeh sebanyak-banyaknya.

Berlomba-lomba dalam kebaikan itu diajurkan oleh Allah dalam Qs. Al-Baqarah ayat 148

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ

Artinya “berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan”.

Para sahabat nabi juga berlomba-lomba untuk menggapai kebaikan untuk akhiratnya, terlihat dari aktivitas ibadah yang sempurna dan terdepan, ada perintah untuk bersedekah mereka juga berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik dan terbanyak, baik dari sisi kualitas dan kuantitas.

Ini juga ternukil dari kisah Sahabat Umar Bin Khatab ingin sekali mengalahkan Abu Bakar Assidiq dalam hal menguarkan hartanya untuk kepenting agama.

Umar bin Khattab RA berkata, “Suatu ketika, Rasulullah SAW menyuruh kami agar berinfak di jalan Allah. Kebetulan ketika itu ada sedikit harta pada saya, maka saya berkata di dalam hati, ‘Saat ini aku memiliki harta. Jika suatu saat aku dapat melebih Abu Bakar, maka inilah saatnya.’ Aku pun pulang ke rumah dengan gembira. Lalu saya membagi dua seluruh harta yang ada di rumah. Setengahnya untuk keluarga dan setengahnya lagi saya serahkan kepada Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW berkata, “Wahai Umar, adakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Saya menjawab, “Ada ya Rasulullah.”

Nabi bertanya lagi, “Apa yang kamu tinggalkan?” Saya menjawab, “Saya tinggalkan utnuk mereka setengah dari harta saya.”

Kemudian, datanglah Abu Bakar RA, dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?”

Abu Bakar menjawab, “Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Melihat hal ini, Umar berkata, “Saya tidak akan pernah dapat mengalahkan Abu Bakar.”

Mereka berusaha menjadi terdepan untuk menggapai derajat yang mulia tersebut. Oleh karena itu, jika di antara mereka melihat orang lain mendahului mereka dalam beramal, mereka pun bersedih karena telah kalah dalam hal itu. Inilah bukti bahwa mereka untuk menjadi yang terdepan.

Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Jika engkau melihat orang lain mengunggulimu dalam hal dunia, maka kalahkanlah ia dalam hal akhirat.”

Sebagian ulama mengatakan, “Jika engkau mendengar ada yang lebih taat pada Allah darimu, seharusnya engkau bersedih karena telah kalah dalam hal ini.

Fenomena yang menarik terkadang membenturkan bersandar pada amal itu kurang baik, jika amal itu menjadi tujuan utama, amal itu tergantung niatnya, niatnya karena Allah.

Kemudian Ulama besar Syekh Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari (wafat Tahun 1309) dalam Kitab Al-Hikam menegaskan pentingnya bersandar kepada Allah.

 مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-Raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”

Ar-Raja’ adalah istilah khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta’ala. Ar-Raja lebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah untuk taqarrub.

Seluruh perbuatan harus berorientasi pada niat karena Allah Subhanahu wataala, berharap pada rahmat Allah, bukannya dengan amal itu kita dijamin akan mendatangkan kebaikan dan pahala, yang akan memberikan pahala itu Allah, maka berbuatlah karena Allah, sehingga amal yang kita lakukan tidak menjadi beban semata, tapi menjadi ringan dan ikhlas karena Allah SWT.

Seluruh amal perbuatan itu tergantung pada niatnya sehingga Rosulullah bersabda,  dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Dalam pandangan penulis bahwa seluruh amal perbuatan kebaikan adalah dicatat kebaikan pula, sekecil apapun kebaikan itu akan diperhitungkan juga oleh Allah, dengan selalu meniatkan aktivitas tersebut karena Allah buka karena yang lainnya.

Dari amal tersebut akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di dunia dan Akhira, balasan perbuatan baik tersbut berefek pada apa yang telah dijanjikan Allah, salah satu misalnya adalah amalan silahturahmi dalam hadist, Rosulullah bersabda : ” “Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (H.R Bukhari & Muslim).

Seilahurahmi akan mendatangkan kebaikan yaitu dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, itu kita harus percaya 100 persen tapi dengan niat silahturahmi karena Allah, kalau diniatkan karena Allah silahturami itu akan mendatangkan seperti yang termaktub dalam hadist di atas.

Terus saja melakukan kebaikan karena Allah, karena kita tidak tahu yang mana amal kebaikan itu dapat mendatangkan kecintaan Allah kepada kita, sekecil apapun kebaikan yang dilakukan, Allah Maha Menyaksikan apa yang kita lakukan, berbuat baik dengan terang-terangan itu baik dan berbuat baik dengan sembunyi juga lebih baik, intinya sudahkah kita berbuat baik hari ini. (ns)

Leave a Reply