YA ALLAH SAKIT TUBUH INI

(Memotret Anatomi Sakit Fisik)

Dalam beberapa kesempatan menjenguk orang sakit, terdapat banyak respon yang muncul dari setiap mereka yang sakit, pertama ada yang sabar dan menerima takdir yang sedang dijalaninya, kedua menolak sakit ini sehingga berusaha melawan sakit ini dengan penolakan yang luar biasa, dan terkesan belum bisa menerima takdir yang menyakitkan menurutnya, dan yang ketiga tidak lagi kuat untuk menerima sakit itu sehingga berharap kematian menjemputnya.

Begitu juga respon bagi suami, istri, anak dan saudara yang terimpa sakit itu relatif sama responya dengan yang sakit itu, dan keadaan seperti ini bisa menimpah siapa saja dari setiap manusia hidup, yuk kita sedikit muhasabah dan belajar dari sakit agar kita lebih sabar, lebih kuat imannya dan lebih memiliki kesadaran.

Dan banyak ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an memotivasi agar manusia tetap sabar dan meneguhkan keimanan ketika sakit, ini terdapat dalam surat Al-Isra ayat 82  dan surat Yunus ayat 57:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ۝٨٢

Artinya : Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ۝٥٧

Artinya : Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.

Mentadaburi dua ayat ini bahwa penyakit yang kita derita ini pasti ada obatnya dan obatnya ada dalam Al-Qur’an dan ada dalam dada kita, ini menunjukan kepada kita langkah-langkah mengatisipasi sakit itu,  pertama ketika sakit  berusaha sekuatnya untuk selalu dekat dengan Allah, berdoa dan bermohon kesembuhan , satu metode terbaik adalah dengan membaca dan mengamalkan Al-Quran sebisa dan sekuat kita.

Dan langkah kedua adalah dengan menerima takdir dan kenyataan yang Allah timpahkan kepada kita dengan cara meluaskan dada kita, dengan ikhlas dan ridho kita terima apa yang Allah berikan, bukankah yang Allah berikan pasti itu sebuah kebaikan, baik berupa sehat ataupun sakit, terima saja dulu lapangkan dada kita, jangan sekali-kali berfikir negative dengan apa yang menimpah kita, sehingga tidak menyalahkan Allah dan juga mencari-cari sebab dari kejahatan dari manusia yang lain, sehingga hati dan pikiran kita menyimpulkan bahwa sakit kita adalah disebabkan ada orang yang tidak suka dengan kita. Maka Al-quran mengingatkan kita bhwa sakit kita derita kembalikan pada kebenaran ayat ayat Allah dan bangun kedsadaran dalam dada kita.

Mengapa sakit harus kembali kepada Al-Quran, karena setiap apa yang dibaca dan didengar dari Al-Quran terdapat gelombang-gelombang penenang dan penyembuh, ada banyak tanda-tanda keberkahan Al-Quran, setiap gelombang itu akan menyentuh pada titik sakit itu kemudian dada menjadi luas dan tenang, itulah tadabur dari surat Al-Isra ayat 82 dan surat Yunus ayat 57.

Kalaulah kita tidak mampu dan tidak kuat membaca, cobalah mendengarkan dari aplikasi-aplikasi yang membuat qiraat atau bacaan Al-Quran. Dengarkan dan nikmati setiap ayat-ayat yang didengar itu dengan penuh keihlasan dan keridhaan.

  1. Setiap sakit pasti ada obatnya.

Allah Maha Pencipta dan Maha pengatur ciptaanya dengan ketelitian dan kesempurnaan yang sangat tinggi, sehingga setiap detailnya kejadian itu memiliki keseimbangan yang luar biasa, manusia diciptakan kemudian hidup di dunia ini sudah dipersiapkan sebelumnya, dan  alam untuk memenuhi kebutuhannya, makan dan minum, serta jika sakitpun Allah telah menyiapkan obatnya untuk kesembuhannya, dan ini dipertegas Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda, Disebutkan juga dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah, ia menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِلِكُلِّ دَاءِ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِاِذْنِ الله 

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR. Muslim)

Disebutkan pula dalam Musnad Imam Ahmad, dari Usamah bin Syarik, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ُإِنَّ اللهَ لَمْ يُنْزِل دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَه

“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah juga menurunkan obatnya. Ini diketahui oleh sebagian orang dan tidak diketahui oleh yang lain.” (HR. Ahmad ).

Sebelum membahas dua hadist di atas, ada baiknya kita melihat bagaimana pengobatan itu dilakukan, perlu dipahami pola mengapa kita sakit, pertama input dalam tubuh atau asupan dan makanan apa yang kita makan menjadi landasan kita menjadi sakit, sehingga makan-makanlah yang halal dan yang baik.

Kedua sakit yang diderita bisa jadi karena sistem dalam tubuh kita, bukanlah ada empat unsur besar dalam sistem tubuh kita, yaitu tanah, air, dan api dan udara. Atau aplikasinya itulah adalah dalam tubuh manusia ada sistem tulang dan rangka tubuh manusia, ada sistem pencernaan, ada sistem peredaran darah atau air dalam tubuh kita, dan ini tergambarkan dalam surat Al-Mukmin ayat 12-14 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ ۝١٢ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ۝١٣ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ۝١٤

Artinya : Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.

Dengan sederhana mentadaburi ayat ini di atas, pertama sistem nutfah, kemudian sistem darah, sistem daging kemudian disebut sistem jantung. Sistem tulang rangka dan tulang ekor. Dan sitem tulang yang dibungkus dengan daging kemudian kita sebut dengan organ tubuh manusia.

Jadi orang itu sehat dan sakit karena, Nutfah (Keturunan), sistem jantung pompa darah manusia. Sistem tulang ekor dan tulang rangka (tulang rusuk) dan sistem daging dan organ tubuh manusia. Dan untuk sistem daging dan organ tubuh itu diwakili oleh sistem otat dan syaraf.

Terakhir pengobatan dengan cara output atau pengeluaran tubuh manusia, melalui pembuangan yang normal dengan berak, kencing dan keringat atau dengan cara bekam dan pasdu’.

Dan semua pengobatan itu harus dilakukan oleh orang yang mengetahui obat itu artinya dilakukan oleh ahlinya yang memiliki ilmu, sehingga Kanjeng nabi mengatakan “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah juga menurunkan obatnya. Ini diketahui oleh sebagian orang dan tidak diketahui oleh yang lain.”

  • Jangan Putus Asa karena Sakit

Dalam satu riwayat Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengujungi pamannya Abas terkena sakit keras sehingga berharap mati saja, dan kemudian Nabi memberikan motivasi dan menasehatinya,

“Wahai Pamanku, janganlah kau berharap kematian datang kepadamu. Kau adalah manusia yang baik, tambahlah kebaikanmu dengan sakit ini. Yang demikian akan melahirkan kebaikan untuk dirimu. Dan, jika kau menyadari bahwa kau telah banyak melakukan kesalahan maka kau bisa memperbaiki dan menjauhi kesalahan itu. Yang demikian itu akan melahirkan kebaikan bagimu. Dan, jangan sekali-kali berharap akan kematian.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Ketika menghadapi sakit yang kita angggap parah dan terkesan tidak kunjung sembuh kemudian mencari jalan pintas dengan berharap kematian, ini adalah keputusan yang sangat keliru besar, justru kita harus memompa motivasi positif dengan menguatkan iman melalu memberbanyak membaca dan mendengarkan Al-Quran dan yang kedua memotivasi diri dengan menerima takdir kita sakit dengan cara menyadari pasti akan datang kebaikan yang ebih besar dengan sakit ini.

  • Beberapa Hikmah dari Sakit
  • Mendapatkan Ridha Allah

Dengan sikap rida atas cobaan tersebut, maka Allah akan memberikan keridaan kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Sesungguhnya pahala yang besar diperoleh melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang rida (menerimanya) maka Allah akan meridainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At Tirmidzi )

  • Terhapusnya dosa dan Diangkat Derazatnya

Di antara kabar gembira bagi orang yang sakit yaitu  Allah Ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 “Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

“Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya atau dengannya dihapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5640 dan Muslim no. 2572)

  • Pahala Yang Mengalir

Terkadang ketika sakit menimpa diri kita, kita tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah sebagaimana biasanya. Di antara bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah pahala amal saleh yang terus mengalir meskipun kita dalam keadaan sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا مَرِضَ العَبْدُ، أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, maka Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari )

  • Mendapatkan Kecintaan Allah Dengan Sabar

Sikap mulia orang yang beriman ketika ditimpa musibah adalah sabar. Oleh karena itu, sakit yang kita rasakan sudah semestinya kita hadapi dengan penuh kesabaran. Kita tahu bahwa Allah amat mencintai orang-orang yang sabar. Sebagaimana firman-Nya,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar.“. (QS. Ali Imran:146)

Allah Ta’ala juga menjanjikan pahala yang tak berhingga bagi hamba-Nya yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Terakhir sebagai penutup tulisan ini, sesungguhnya apapun yang menimpah kita baik kelapangan dan kesusahan, sehat dan sakit dan seterusnya pasti akan mendatangkan kebaikan dari keduanya, maka bersabar dan bersyukurlah.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Leave a Reply