GURU NGAJI KAMPUNG

Semenjak alam di ciptakan melalui proses kun fayakun, maka seluruh alam ini bergerak hidup untuk selalu mengikuti perintah yang pengendali, proses penciptaan yang dengan sifat dan asma ketepujian Penciptaanya,  tidak ada yang bergarak sendiri tanpa kendaliNya, bertasbih memuji namaNya dan tunduk patuh dengan hukum yang telah digariskanNya. Sehigga Allah Maha pencipta sering kali menggunakan sumpahnya atas nama semesta yang diciptakanNya, dan ini menunjukan bahwa manusia sebagai ciptaan terbaik dan sempurna memiliki tugas sebagai hamba, sebagai khalifah dan sebagai wali dimuka bumi ini, kesempurnaan ciptaan manusia itulah karena dilengkapi dengan nikmat ilmu dan kesadaran yang sempurna, nikmat kecerdasan yang kompleks dan nikmat keahlian yang membekali kehidupannya agara tetap hidup yang berguna, bermanfaat dan juga memberi kan nilai manfaat bagi yang lain.

Japra mencoba merenungi tentang banyaknya sumpah Allah atas nama Makhluk yang ciptakannya, seperti demi Masa ,  demi langit dan demi malam dan seterusnya, dan hanya Allah yang berhak atas sumpah itu, dan ingin menunjukan kepada manusia untuk mempelajari sumpah yang menujukan arti pentingnya mengenali Allah dari makhluk yang ia ciptakan, karena manusia tidak akan mampu  berfikir dan memikirkan zatnya Allah itu sendiri, kita bisa mempelajarinya dari yang Allah ciptakan yaitu makhluknya, Allah menebarkan ilmu yang kemudian hamparkan di semesta ini, untuk dipelajari sebagai bentuk pengetahuan manusia dan untuk mengenal Allah sebagai penciptannya.

Matahari berjalan sesuai dengan jalur orbitnya, dan memang harus seperti itu, harus patuh dan tunduk dengan hukum alam yang Allah hamparkan, sedikit saja pergerakan semesta ini tidak sesuai dengan orbitnya, maka lihatlah akan terjadi kerusakan, dan manusia juga memiliki orbir dirinya masing-masing yang sudah Allah takdirkan untuknya, dan takdir memang sudah dituliskan untuknya, dan bagaimana tulisan itu indah atau buruk adalah kecerdasan dan keterampilan kita, takdir memang sudah ditetapkan, dan bagaimana ketetapan itu menjadi baik dan terbaik untuknya adalah bagaimana ilmu dan iman sebagai cahaya terang dalam memandangnya, maka Allah berjanji kepada manusia tentang surga dan kebahagiaan, Allah berjanji tentang kesempurnaan hidup, berjanji akan menambahkan kenikmatan bagi yang bersyukur, berjanji doanya akan terkabul dan berjanji akan diberikan kehidupan yang baik, dan janji itu tertuang dan tertulis dengan jelas dalam Al-Qur’an, dan Allah tidak akan lupa dan meleset akan janjinya, pasti tepat waktunya, pas momennya, takaran dan jumlahnya tidak melebihi dari apa yang dinginkan dan dibutuhkan.

Japra teringat dengan salah satu keluarga hebat yaitu keluarga Ustad Syarif, Ustad Syarif orang berilmu, ikhlas dan tawadu’, dan begitu juga Istrinya yang rela tetap menemani suaminya sebagai guru ngaji, menjadi guru ngaji di kampung sudah hampir dipastikan secara ekonomi sangat kekurangan , apalagi guru ngaji itu tidak investasi di kampugnya, seperti sawah dan kebun sebagai mata pencariannya, guru ngaji murni, kemampuannya hanya mengajarkan Al-Qur’an pada anak-anak dan masyarakat sekitar kampung itu, mengajar membaca Al-Quran dan ilmu agama tidak mendapatkan honor apapun, hiburan guru ngaji dan sedikit tersenyum ketika ada undangan dari warga  untuk memimpin doa selamaten atau tahlilan, tapi tetap melaksanakan tugasnya dengan baik, tetap mengajarkan Ilmu agamanya kepada masyarakat, dan peran pentingnya guru ngaji terelatak pada keikhlasan seorang istri ustad itu.

Istri ustad memang wanita hebat dan kuat, tetap setia meskipun hidup sangat sederhana sekali, makan dengan apa yang ada, dan menurutnya lebih banyak puasanya ketimbang makannya, puasa bukan karena sunahnya puasa, tapi puasa karena tidak ada yang di makan untuk hari itu, dari serba kekurangan itu tetap mendukung pekerjaan suaminya seorang guru ngaji di kampung, cukup baginnya kebahagiaan itu ketika anak-anak mau belajar ngaji, cukup senyumnya ketika anak-anak kampung itu bisa memnaca Al-Quran, dan karena Istri ustad telah berjanji pada Tuhannya dengan membacakan bismillahirohmanirohim untuk tetap mendapingi sang ustad untuk tetap berdakawah di jalan Allah, karena menurutnya bismilllah adalah bentuk perjanjian suci kepada Allah, karena huruf ba didepan nama Allah yang dimaknainya demi Nama Allah yang Maha Pengasih Penyayang, sudah berjanji dengan nama Allah, sudah mengikat janji dengan Maha pencipta Alam ini, sudah bertransaki atas nama Allah, dan menurutnya Allah tidak akan meninggalkan janjiNya, dan Allah Maha menempati Janjinya.

Japra pernah membaca dan belajar Kitab Al-Hikam Karya Ibu Athoillah Al Iskandari dalam hikam ke 2 : “Keingiananmu untuk ber-Tajrid (Mengkhususkan ibadah dan meninggalkan usaha dalam menari rizki)sedangkan Allah menempatkanmu di dalam al-Asbab( Sebab akibat melakukan usaha mencari rizki) adalah termasuk syahwat yang tersembunyi, dana keinginanmu dalam maqom asbab sedangkan Allah menempatkanmu ke dalam maqqom Tajrid adalah penurunan himmah atau semangat yang tinggi”.

Kedua dimensi atau maqqom antara Tajrid dan asbab sama baiknya, dan manusia dalam hal ini tidak memiliki kehendak bebas dalam hal menentukan jalan hidupnya, jika Allah menghendaki untuk memilihkan tempat tertentu maka itulah jalan terbaiknya, jika seseorang ditakdirkan untuk menempati maqqom Asbab, maka berkerjalah dan berusahalah dengan baik, tapi juga harus mampu membagi sebagaian hasil usahanya untuk mereka yang bergerak dalam maqqom tajrid, dan juga mereka yang bermaqom tajrid beseungguh-sungguhlah untuk terus menggali dan mengembangkan ilmu untuk disebarkan untuk yang membutuhkannya, dengan demikian terjadilah keseimbangan kehidupan ini.

Dan Ustad Syarif dan istrinya telah memiliki maqqom Tajrid, memilih mengkhususkan ibadah dan meninggalkan usaha dalam mencari rizki, dan dilakukan adalah mengabdikan diri untuk beribadah kepada Allah, memberikan pengajaran ilmu Al-Quran kepada anak-anak muridnya dengan ikhlas dan ihsan dan hanya bergarap kepada Allah bukan mahluk.

Menjadi ustad di kampung harus serba bisa, bukan hanya mampu mengajar ngaji, dipaksa untuk bisa menyelesaikan masalah rumah tangga di kampung itu, kalau ada keluarga yang konflik dan berantem, maka Ustad menjadi penengah dan menjadi penasehat, kalau ada remaja yang nakal dan bandel maka ustad harus bertanggung jawab atas kenakalan itu, kalau ada yang keserupan dan ketempelan makhluk halus, maka seorang ustad harus menghadapi dan mengusir makhluk itu, urusan pekerjaan, pertanian dan urusan yang lain ustad harus tampil dan mampu menjadi solusinya, begitu berat sekali menjadi seorang ustad dan guru ngaji di kampung.

Pernah dalam satu kesempatan ketika Japra sedang berada di rumah seorang ustad, tiba-tiba seorang pemuda menghampiri ustad, dan meminta tolong kepadanya untuk menyembuhkan adiknya yang kesurupan katanya.

“Ustad Syarif, mohon maaf minta waktunya bisa datang ke rumah ya” Pinta pemuda itu

“Ada apa ya ?” Tanya Usatd Syarif

“adik saya kesurupan” Jawab pemuda itu

“oh iya, nanti saya kesana” Jawab Ustad Syarif

Kemudian Ustad syarif mengajak Japra untuk menemaninya ke rumah pemuda itu yang adiknya kesurupan, dan sesampainya di rumahnya, Ustad Syarif langsung menuju kamarnya adiknay pemuda tadi, terlihat adiknya pemuda tadi meronta-ronta sambil teriak-teriak.

“Siapa namanya” Tanya Usatad syarik kepada pemuda tadi

“Tatang nama adik saya itu” Jawab pemuda

Dan Ustad Syarif membacakan ayat-ayat ruqiyah agar bisa menyembuhkan sakitnya, tapi usaha yang dilakukan oleh Ustad syarif belum juga terlihat perubahana pada diri Tatang, diam-diam Japra memperhatikan gelagat dan sikap Tatang, maka Japra enyimpulkan Tatang itu bukanlah keserupan tapi ada keinginannya yang tidak dipenuhi oleh orang tuanya, kemudian Japra memberanikan diri untuk membantu ustad Syarif.

“Man anta, ya akhi” Tanya Japra bertanya dengan bahasa arab

“akhhhhhhh” Jawaban tatng dengan nada mengerang, tanda tidak paham bahasa arab

“iyue saha” Tanya Japra dalam bahasa sunda

“uing kakekna Tatang” Jawab Tatang

“min aina Ji’ta?” Tanya Japra dalam bahasa arab

Dan tatang tidak mampu menjawab dengan pertanyaan bahasa arab, artinya tatang bukanlah keserupan, tapi ada masalah kejiwaan saja.

“Coba sekarang saya minta air minum hangat dan satu sendok garam” pinta japra kepada orang tuanya.

Tidak berlangsung lama orang tuanya membawa air hangat dan satu sendok garam.

“Coba ibu masukan garam itu kedalam air itu lalu aduk sampai rata” lajut Japra

“ini ustad sudah saya aduk rata” Jawab ibunya Tatang

“Sekarang, minumkan air garam itu sampai habis sama tatang” Lajut Japra

“Kalau gak sadar juga, nanti saya tambahin garamnya jadi 3 sendok biar asin banget” membisikan ke telinga Tatang, dan Japra yakin Tatang mendengarnya

Betul saja baru satu tenggukan tatang sadar dari ketidaksadaranya, dan memang Tatang tidak kesurupan.

“Nah, sekarang ngomong mau minta apa?” Tanya Japra

“Mau minta dibelikan HP samsung” Jawab Tatang malu-malu

“tuh bu, Tatang mau dibelikan HP katanya” ujar Japar kepada ibunya

“Iya nanti, kalau udah panen nanti” Jawab Ibunya Tatang

“Tuh dengrin Tang, ibumu telah janji akan membelikan HP, tapi nanti kalau sudah panen katanya, Tatang bisa sabar ya” Ujar Japra kepada Tatang

“Iya, bisa” Jawab tatang

Nah itulah salah satu bentuk tugas ustad selain mengajarkan ngaji tapi juga harus mampu menyelesaikan seperti itu.

“Alhamdulillah, sudah sembuh” Ujar Ustad Syarif

“kalau begitu saya dan Kang japra pamit pulang ya” Lanjut Ustad Syarif

Kemudian Ustad Syarif dan Japra pulang ke rumahnya, dan terlihat dari jauh rumah ustad yang berbentuk rumah panggung, teras depan yang agak luas dipakai untuk mengajar ngaji, dan ruang dalam untuk menerima tamu, dan Japra lebih suka duduk di teras rumah ustad, lebih sejuk karena hembusan angin yang tidak terhalang bilik rumahnya.

Sesampainya di rumah ustad Syarif, Japra menceritakan kejadian tadi itu, ternyata Tatang bukan kesurupan tapi ada keinginan yang belum dikembulkan orang tuanya, dan berlajutlah obrolan dengan ustad Syarif, dan menceritakan kondisi sekarang ini, banyak anak-anak sekarang sudah tidak mau lagi belajar membaca Al-Qur’an, hanya beberapa anak-anak saja yang mau belajar mengaji, banyak faktor yang menyebabkan anak-anak tidak lagi mau belajar mengaji, mungkin faktor orang tua yang tidak mampu membimbing dan mengarahkan anak-anak untuk ngaji, mungkin juga faktor lingkungan yang membuat malas anak-anak belajar ngaji, banyak kemungkinan faktor yang mempengaruhi itu semua, tapi itu bukan hambatan bagi Ustad Syaruf untuk tetap mengajar ngaji di kampung ini.

“Alhamdulillah, di tempat ini masih ada yang mau belajar ngaji, di Kampung sebalah seorang ustad tidak lagi memiliki santri” Ujar Ustad Syarif

“Koq bisa?” Tanya Japra

“Iya semenjak ada program kesetaraan dari Pemerintah untuk pesantren salafiyah, setelah santri memiliki ijazah kesetaraan, semua santrinya mencari pekerjaan di pabrik” Jawab Ustad Syarif

“owh begitu” balas Japra

Menurut Japra, Program ujian kesetaraan dari Pemerintah sangat bagus untuk para santri, hanya saja perlu kesiapan dari pesantren tersebut, dan banyak juga pesantren salafiyah di berbagai daerah berhasil, dan indikatornya adalah banyak santri salfiyah dapat melanjutkan kuliahnya di dalam negeri dan luar negeri, dengan catatan pesantren salafiyah itu memiliki sisitem dan manajemen kepesantrenan yang benar, karena banyak pesantren salafiyah melakukan kegiatan belajarnya masih menggunakan tradisi turun temurun, belum mampu merancang pembelajaran yang tersistem dengan baik, membuat perencanaan pengajaran kitab-kitab yang bisa diajarkan dengan menggunakan kurikulum, atau minimal ada batasan kapan mulai pengajian dan selesai satu kitab tersebut. Sehingga pesantren mampu perkiraakan kapan satu kitab bisa selesai di pelajari dan kapan seorang santri menyelesaikan pembelajaran di pesantren salafiyah.

Berbeda dengan pesantren modern yang telah memiliki system dan manajemen kepesantrenan, dari membuat perencanaan pembalajaran setiap tahun ajarannya, mengorganisasi satu pembelajaran hingga evaluasi pemeblajaran setiap tahun akademik, terdapay pola asuh dan pola ajar, pola asuh mengatur tata pamong dalam kehidupan di pondok pesantren dan pola ajar yang mengelola pendidikan dan pengajaran, model belajar system model kelas atau classical, semua mata pelajaran memiliki kurikulum dan buku ajarnya, dan Pesantren modern bertumpu pada pengauatan bahasa arab dan inggris, tapi sedikit mengajarkan kitab-kitab yang biasa diajarkan di pesantren modern, santri pesantren modern memiliki kecakapan dalam berbicara bahasa arab, tapi tidak mampu membaca “kitab gundul”, dan pesantren salafiyah biasa mahir membaca teks kitab dan belum mahir dalam hal berbahasa arab dan manajemen kepesantrenan.

Sehingga sering kali Japra berkunjung ke Pasentren salafiyah ingin memiliki system pesantren modern, dan pesantren modern ingin sekali pembelajaran dala pembacaan teks kitab-kitab kuning, sehingga Japra mengusulkan untuk mensenyawakan program salafiyah dan modern sehingga menjadi metode baru yaitu pesantren salmon (Salafiyah modern).

“Dengan kondisi seperti ini apa yang harus saya lakukan?” Tanya ustad Syarif

“Ya, lakukan saja seperti biasanya ustad lakukan setiap hari” Jawab japra

“Bagaimana dengan anak-anak tidak mau mengaji lagi?” Tanya ustad Syarif

“Kita tidak bisa mengkontrol perubahan sekarang ini, yang bisa kita lakukan adalah merubah pendekatan saja dalam mengajar” Jawab Japra

“Maksudnya bagaimana itu, Kang Jap” lanjut Ustad Syarif

“Ustad syarif tetap mengjar seperti biasanya, hanya pendekatan jangan pendekatan seperti dulu dengan cara menakuti-nakuti anak-anak dalam mengaji” Jawab Japra

“Dulu waktu saya belajar mengaji, guru bawa sabetan dari rotan agar lebih cepat bisa, tapi anak sekarang tidak bisa lagi menggunakan pendekatan itu, coba dengan memberika kepercayaan dan tanggung jawab kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan” tambah Japra

“waduh bagaimana ya, caranya ?” Ustad Syaruf bingung dengan ususlan Japra

“Ya, minimal Pak Ustad syarif tidak perlu pake jurus muka serem lagi, cukup dengan tersenyum dan memberikan pujian kepada mereka yang mempu belajar dengan baik” Ujar japra

“Nah, kalau yang ini baru saya paham” Jawab Ustad Syarif

“ha ha ha ustad bisa aja” ujar Japra

Bertemu dan mengobrol dengan orang ang tulus dan ikhlas itu menyenangkan, Japra merasa terpapar energi postif yang selalu dipancarkan dari ustad syarif, sederhana dalam keseharian dan mulia dalam ilmu dan pengabdian. Dan masih banyak guru-guru ngaji yang begitu bersemangat dan ikhlas untuk menebarkan ilmu dan kebiksanaan, dan yang mereka khawatir adalah jika tidak terus mengabdi dalam mengajar akan datang satu masa dimana generasi berikutnya lemah dalam ilmu dan juga lemah dalam akhlak, tapi Japra sangat yakin generasi berikutnya akan baik-baik saja, jika para guru ngaji di kampung-kampung masih tetap berkhidmat untuk agamanya. Tetap berkarya guruku dan jangan lupa bahagia.

Leave a Reply