You are currently viewing SEJENAK MERENUNG, APAKAH ROMADHON INI UNTUKKU?

SEJENAK MERENUNG, APAKAH ROMADHON INI UNTUKKU?

AYAH HAJI NURSOEH HASYIM

Menjelang bulan suci romadhon sudah terasa sekali, oarang-orang sudah siap-siap untuk menjemputnya, begitu banyak cara orang untuk menandai akan memasuki bulan romadhon, di RTku ibu- ibu pengajian sibuk kumpul mugahan puasa sambil menutup pengajian rutin mingguan, acaranya bancakan.

Ya,  belajar mengaji anak-anak ditutup sementara karena memasuki bulan romadhon, kita semua fokus ibadah dalam bulan suci romadhon, selain berpuasa ibadah yang diajurkan menurut para ustad ketika pengajian adalah berlomba-lomba membaca Qura’an, berlomba-lomba berbuat kebaikan, memanfaat malam secara maksimal untuk solat malam tanpa putus, dan membuka diri untuk selalu bersedekah, memberikan makan yang berbuka puasa, muncul banyak ustad-ustad dadakan mengisi kultum (kuliah tujuh menit), dan pokoknya semarak deh romadhon itu.

Seakan-akan dalam bulan suci romadhan itu tingkat keiman dan tingkat keshalehan meningkat tajam, dan tidak ada yang salah itu benar semuanya, karena ada dua oreintasi dalam beribadah yaitu pertama menurut dogma dan doktrin dan yang kedua iman dan akal, yang pertama oreintasi puasa hany karena tradisi dan kebiasaan saja, orang tua kita dulu juga berpuasa di bulan romadhon maka kiat juga berpuasa, orang-orang dulu juga ketika berpuasa itu harus berbuat baik, waktunya bersedkah, waktunya tadarusan al-quran hingga hatam berulang-ulang, waktunya sholat malam tanpa putus, pokoknya begitu deh yang harus dilakukan, setalah romadhan berlalu maka berlalu juga berbuat baiknya, hilang juga sedekahnya, putus juga sholat malamnya dan seterus dan setrusnya.

Dan yang kedua adalah oerintasi motivasinya karena iman dan akal, jika yang ini akan melahirkan kesadaran, iman dan akal jika dikombinasikan akan memunculkan the power of love kepada Allah, karena Allah memberikan romadhon itu sarana untuk membangun kesadaran diri bahwa kita ini makhluk yang sering lupa, banyak bodohnya, sering curangnya, dan sangat tergantung banget dengan namanya kemelekatan diri, baik melekat tentang makanan, harta, jabatan dan perhiasan dunia yang lainnya.

Romadhan itu dua belas bulan dan puasa romadhan itu hanya satu bulan, ini artinya puasa romadhan adalah bulan latihan untuk membangun kesadaran diri, puasa romadhan bukan tujuan keimanan kita, tapi puasa romadhan adalah melatih kesadaran diri untuk tetap sadar diri bahwa kita makhluk dan Allah adalah kholiq, romadhon itu artinya panas membakar, apa yang dibakarnya?

Yang dibakar adalah kemelekatan diri, sebelum romadhan makan siang itu boleh tapi ketika romadhon tidak lagi, maka sesuatu yang melekat dari kebiasaan itu dibakar, agar kita sadar diri hidup itu bukan hanya tentang makan saja, tapi hidup itu perlu pola dan pengendalian diri, dari puasa kita membakar kesombongan, membakar nafsu, membakar kepelitan, membakar sifat-sifat buruk yang selama ini bersarang dalam diri kita, kita kembali kepada kesucian jiwa yang penuh cahaya ilahi.

Atau jangan-jangan ketika bepuasa kita begitu baik, ketika puasa kita menjadi makhluk sangat beriman, dan ketiaka puasa romadhon menjadi manusia yang paling sholeh sedunia, lepas romadhan kembali lagi menjadi manusia yang lupa dirinya, kembali rakus kepada harta, kembali lagi pelit seperti biasanya, kembali tidak sholat malam, kembali tidak mampu menahan nafsu makan, kembali lagi menjadi manusia paling sombong, kembali lagi korupsi memakan harta yang bukan haknya, dan  kembali lagi hatinya menjadi keras seperti batu.

Kalau itu yang terjadi esensi puasa romadhan tidak kita dapatkan sama sekali, wajar kalau baginda Nabi Muhammad mengatakan : “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Nilai puasa pada akhirnya tertanamnya nilai ketaqwaan selama-lamanya buka temporer ketika berpuasa romadhan saja, dan ditutup dengan idul fitri, idul makna kembali, kembali pada orisinalitas diri, bukan menjadi yang palsu atau kawe, yang orisinil itu bahwa kita mahkluk Allah tercipta karena fitrahnya, dan fitrah itu kita telah melakukan perjanjian dengan Allah dalam kandungan ibu kita,

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ  اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (Al-A’raf 172)

Dan pada bagian akhir ingin saya katakan, bahwa yang melekat pada diri kita hanya Allah, semua yang dari luar itu adalah asesoris saja, harta, tahta, anak dan lain-lain adalah asesoris menjadi hiasan saja, dan janganlah kita melekatkan diri hanya pada hiasan (kepalsuan) itu maka kita mengingkari fitrah kita sebagai hamba Allah, dan pengikaran dan pembangkangan terhadap Allah adalah bentuk kesyirikan.

Leave a Reply