
Sore diujung senja, melihat dua insan yang bercanda dan tertawa bersama, sambil marik narik lengan baju suaminya, tawanya lepas dan riang sekali, bahagia hingga tua, menolak tua untuk tetap bahagia, meski umurnya tidak muda lagi, yang terlihat dari kerutan wajah dan putihnya rambut sekitaran 60 tahunan ke atas, saya sering memanggilnya emak tun dan abah Has, dua suami istri yang bertahan untuk bersama hingga sampai sekarang, keduanya memilih untuk tetap setia, memilih untuk tetap bahagia bersama berdua hingga usia senjanya.
Mata dan rasa tidak pernah berhenti memandanginya, sesekali ikut juga tersenyum melihatnya, dan juga kagum dengan keteguhannya, dan diam-diam berdoa semoga Allah terus memberikan keberkahan dan kebahagian selamanya untuknya berdua hingga akhirat nanti.
Perlahan aku mendakati dan menyapanya, semoga dengan kehadiranku tidak mengganggu kemesraannya.
“Assalamualaikum”, sapaku dengan lembut
“Walaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh” Jawabnya kompak bersamaan suami istri itu.
“Maaf mak dan abah, saya menggaggu..” Ujarku
“owh gak sama sekali, kemari duduk disini” Jawab Abah Has dengan full senyum dan keramahan
“Terimakasih bah” Jawabku
“bu, tolong buatin nak Japra ini kopi” Pinta Abah Has kepada istrinya
“ya, bah.. kopi pahit kan ?” jawab emak tun mempertegas tentang rasa kopi
“ow hiya selalu alwayslah dan tidak pernah never” candaan Abah Has
“ah.. siap honey bunny” jawanya sambil ngekek ngeloyor ke dapur
“emak sama abah luar biasa.. mesranya” tanyaku
“biasa aja nak Japra.. gak ada mesra-mesraya malah, kita selalu becanda sampai tua begini” Jawab Abah Has sambil garuk-garuk kepala
“serius bah.. ini keren banget” Ujarku
“lah ini mah biasa nak, maklum abah gak pernah serius dan selalu bercanda” Jawab Abaha Has
“abah keren baget, ini bukan muji ya bah, tapi selalu terlihat bahagia sampai sekarang sama emak” ujarku kepada abah
“Alhamdulillah, kita terus berusaha tetap santai menghadapi kehidupan ini” Jawab abah
“Wow…” kataku penuh kebanggan kepada abah Has
“Bagaimana rumusnya itu bah? biar tetap bahagia hingga sekarang ini ?” Tanyaku
Abah menatap tajam kearah Japra dengan pertanyaan itu, seakan-akan ingin menceritakan selauruh pengalaman hidupnya, yang memang terlihat indah dan ringan menjalani hidup ini, tapi dibalik itu semua penuh perjuangan dan kesabaran untuk tetap bersama dan satu ikatan cinta yang kuat.
“sederhana rumusnya, Cuma dua saja koq nak Japra” jawab Abah
“Apa Bah ?” tanya Japra semakin pensaran dengan kalimat pembuka untuk mengetahui tabirnya
“yaitu, berusaha kuat untuk tetap sabar dan sabar” jawab abah singkat
“Hmmm” beguman dalam hati, ternyata rumusnya sederhana itu pertama sabar dan kedua sabar, dua kosa kata yang sama tapi penuh penekanan tentang makna didalamnya, sabar dan sabar.
“bagaimana itu maksudnya bah, sabar dan sabar” Tanyaku semakin penasaran
“sabar pertama sabar menerima takdir yang Allah berikan kepada abah, dan sabar kedua sabar menjalankan dan menikmati takdir kehidupan tadi” Jawab Abah Has
Kemudian secara perlahan-lahan abah menceritakan tentang itu rumusan itu, bahwa dalam menerima takidr yang Allah pilihkan itu pasti semuanya baik dan cocok untuk setelan dirinya, menerima semua ketentuan Allah itu adalah bagian iman dan keyakinannya yang harus dipegang teguh, diberikan jodoh bersama emak Tun itu bukan karena kebetulan semata, tapi itu sudah menjadi garis perjalanan hidupnya yang telah dicatat dalam dalam kitab kehidupannya.
Tidak ada yang kiebetulan dalam hidup itu, semua setiap detail prosesnya ada sutradara besar yang mengaturnya dengan teliti, pasangan yang menjadi istrinya adalah ketentuan takdirnya yang telah tercatat ratusan dan bahkan ribuan tahun sebelum keberadaanya di alam dunia ini, sedangkan untuk menjalankan kehidupan dan menapaki perjalanan bersamanya di dunia hanya sebantar saja, tidak lebih dari seratus tahun, mana yang lebih lama catatan itu atau perjalan kehidupanya itu sendiri.
Tapi memang benar kata abah, yang sebentar perjalanan di dunia ini tapi begitu melelahkan dan sekaligus menyenangkan tergantung dari pilihan kita sendiri, bahagia dan sedih itu pilihan saja, mana yang akan kita pilih, bahagia harus diperjuangkan secara totalitas.
“Apakah nak Japra kira, hidup abah yang terlihat bahagia ini tanpa ujian?” Tanya Abah
“iya bah” Jawab Japra
“Abah juga diuji dengan berbagai ujian dari Allah untuk menguatkan posisi iman Abah” ujar Abah.
Japra terdiam dan tidak berani untuk menanyakan sesuatu kepada Abah Has, tidak berani untuk mempertanyakan perjalanan hidupnya, Japra hanya menghela nafas untuk menunjukan keriusannya untuk mendengarkan kisah dan cerita abah Has ini.
Dengan membacakan satu ayat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 214, abah Has memulai kisahnya, inilah bedanya jika orang tua yang penuh ilmu, segala sesuatunya dimulai dari ilmu juga.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ
Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”.
Abah Has membuka lipatan makna dari sebuah ayat ini dengan ujian iman untuk kebahagiaanya, Abah Has memulai dengan Jannah itu adalah memaknainya sebagi kebahagiaan, dan bukankah surga itu adalah puncak kebahagiaan, dan kebahagiaan itu bisa juga dirasakan di dunia ini sebelum nanti di akhirat juga, kebahagian akhirat itu absolut dan abadi, sedangkan kebahagiaan di dunia ini sifatnya sementara saja, karena memang hidup dunia juga sementara.
Surga atau Jannah yang termaktub dalam surat ini menurut penghayatan Abah Has adalah kebahagiaan, dan Jannah menurutnya adalah hal yang tersembunyi tidak nampak, dan untuk menampakan dan memasuki Jannah dan kebahagiaan melalui sebuah proses ujian yang cukup panjang dan melelahkan, dan kemudian abah has mengatakan
“Ujian itu ada tiga tingkatan Nak Japra” Ujarnya
“iya Bah, bagaimana itu penjelasan?” Semakin tertarik japra dengan uslasan Abah Has
“Pertama ujian tingkat dasar yang dinamakan ujian ba’saa, ujian hanya bentuknya hanya sapaan aja dia datang dan pergi begitu saja hanya dengan satu usaha ringan” ujar Abah Has
“yang kedua bah apakah itu?” tanyaku lagi
“kedua itu tingkatan menegah atau midle yaitu ujian untuk masuk sduah menyakiti fisik, ya ujian sudah main fisiklah, dan itu dinakaman dhorou” Kata Abah Has
“dan yang ujian ketiga ujian pamungkas yang terberat adalah zuljilu, semua tergoncang hebat kehidupan kita, tergunjang hatinya, tergunjang hartanya, tergunjang jiwanya, tergunjang fisiknya dan bahkan tegunjang seluruh jiwa raganya, seakan-akan tidak terlhat jalan keluarnya, semua gelap dan terguncang, ini sungguh mengerikan” Tambah Has.
“Ya, Allah sebegitu dahsyatnya bah ? “ Tanya Japra
“iya, hingga kita akan merasakan sesuatu semuanya hancur lebur, dan kemudian kita mempertanyakan itu kepada Allah, Ya Allah kapan pertolonganMu akan datang, katanya engkau Maha penolong bagi seluruh makhluknya” Jawab Has
“Allah karieem” dengan lirih menyebut asma Allah
“sehingga mereka berkata mataa nasrullah, kemudian Allah menjawabnya seseunggunya pertolongan Allah dekat, alaa ina nasrullag qorieb” Jawab Abah dengan penuh keyakinan.
“Alhamdulillah abah sudah melewati itu semua” dengan rasa syukur mebgucapkanya
“terus bagaiman ceritanya bisa sukses melewati itu semua?” tanya Japra
“Duuh seriut amat ngobrolnya, ini kopinya bah” Ujar Emak Tun mendadak sudah ada di depan kita semua membawakan dua kopi pahit.
“terimakasih mak, jadi gak enak kita” Basa basih Japra
“Kalau gak enak mah.. kasiin kucing aja, nak” Jawab emak enteng sambil bercanda
“bisa aja emakn nih… wkwkwkwkwkwkwkw” tertwa bareng dengan mereka.
“Nanti kisahnya kita lanjutkan aja bessok aja yang nak Japra” ujar Abah Has
“Iya Bah baiklah” Jawab Japra
“Sekarang kita nikmati saj kopi hitam ini, menikmati kopi itu gak bisa disambil” ujar Abah Has
“kalau menikmati sambilan, berarti ada sapuluh, dua puluh” Tambah abah Has sambil bercanda
“wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk” aku tertwa keras dan lepas, terimaksih sudah bisa membuat tawa ini mengasyikan.
