You are currently viewing MASIH MAU JADI MANUSIA  BIASA ?

MASIH MAU JADI MANUSIA  BIASA ?

Dalam satu kesempatan antara jam 10 dan 12 malam, berdiskusi dengan anak lanang dan itu jarang sekali moment itu terjadi, membicarakan dan mendiskusikan pilihan hidup yang begitu terbentang luas, saking luasnya pilihan itu bukan hanya dua atau tiga secara kuantitas, bukan hanya tentang pilihan dalam negeri tapi sudah mengarah pada pada sudut-sudut dunia, bahwa bumi Allah begitu luas untuk ditelusuri keunikan dan keajaibannya, dan membedah apa yang tersirat dan tersurat dari jejak-jejak peradaban manusia, pencapain perdaban manusia bukan sekadar bagaimana mengolah kekayaan alam dan kemudian tergelincir pada ekploitasi tanpa batas, tapi membicarakan aktor dari semesta ini, dan pada akhirnya memilih pilihan peran dalam membangun diri dan perdaban itu, karena sejarah akan mencatat minimal tiga hal, pertama tentang aktor atau pelakunya siapa, kedua peristiwa apa yang diciptakan dalam bentuk karya yang layak untuk dicatat dalam lembaran sejarah dan yang ketiga adalah dari peristiwa muncul ruang dan waktu.

Dan pencapain peradaban yang luhur adalah tentang kesejahteraan, keadilan dan perkembangan ilmu, trilogi membangun peradaban diri dan masyarkatnya, untuk mengkolaborasikan antara sejahtera, adil dan perkembangan ilmu dibutuhkan pelaku dan aktor sejarah yang kuat, untuk menghadirkan aktor tersebut, melalui proses yang panjang dan dipersiapkan dengan matang, mempersiapkan aktor perubahan bukan sekadar karena nasab turunan saja tapi yang terpenting kaderisasi yang kuat dan rasional.

Karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang tercipta dengan kesempurnaan, saking sempurnannya manusia ditunjuk oleh Allah menjadi khalifah, dan khalifah bermakna pengganti, menjadi wakil atau utusan dan juga menjadi pemimpin di atas bumi ini, dan untuk menjadi khalifah Allah Maha teliti dalam memperisapkan itu semua, mulai dari proses penciptaan bentuk fisiknya saja menggunakan bahan-bahan terpilih dari semesta, segala unsur semesta menyatu dan bersenyawa dalam tubuh fisik manusia, sehingga nanti ketika manusia itu meninggal, tubuh fisiknya menyemeta lagi menjadi tanah.

Untuk menghidupkan tubuh fisik dan kasarnya itu Allah meniupkan sebagian ruhnya di dalamnya, ruh bukan diciptakan seperti tubuh fisik tapi dengan Maha Rahmannya Allah meniupkan ruh untuk manusia itu, sehingga manusia hidup dan bergerak fitrah penciptaanya, dan tidak hanya berhenti sampai disitu saja, diri sejati manusia juga telah melakukan perjanjian suci dengan Tuhannya, dan diri sejati telah menyanggupi bahwa Allah adalah Tuhan sebagai Rabbnya.

Nikmat perwujudan kita sebagai manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, kemudian Allah mewariskan nikmat pembekalan hidup dan kehidupan di dunia ini dengam nikmat pembekalan dalam bentuk potensi, fitrah manusia adalah bentuk pembekalan manusia untuk hidup di dunia ini.

Dan hidup di dunia ini ibarat panggung sandiwara besar dan kolosal, semua manusia memiliki peran, fungsi dan manfaatnya masing-masing, pilihan peran tergantung pada dirinya sendiri, kunci peran itu adalah kepantasan diri kita, untuk menjadi pantas dalam pentas itu semua ada dalam dirinya yang Allah siapkan dengan seksama dan sempurna, dan memantaskan diri untuk satu peran itu tergantung pantikan potensi kemampuaanya dan Allahlah pengatur semua permainan itu, selain kemapuan diri tersebut bermohonlah kepada Allah agar kita dipantaskan dengan peran yang kita inginkan itu.

Dan untuk pantas akan peran yang kita mau, maka yang pertama adalah kita mampu mengenali diri kita sendiri, mengenali diri bukan hanya tentang sekadar fisik belaka, tapi lebih dari itu aku sejati kita, ada diri kita yang paling dalam yang harus kita munculkan kepermukaan kehidupan ini, yaitu berbicara tentang jiwa kita, jiwa yang yang membentuk sifat dan karakter masing-masing, ada kompenen terbesar untuk membentuk jiwa yang hebat adalah kemampuan mengendalikan naluri dan mengoptimalkan fungsi akal kita.

Dalam tubuh naluri terdapat naluri kehadiran diri untuk selalu tampil dan terlihat , naluri perasaan, naluri keakuan dan naluri kesenangan, dan seluruh tubuh naluri itu harus terjaga keseimbangannya, dan kesimbangan itulah yang akan memunculkan qolbun salim, hati yang tenang dan damai, dalam kondisi apapun hati menjadi luas dan mampu menampung semua permaslahan hidup ini, menjadi pribadi yang mempesona dengan ketengannya, tidak gampang baperan, tidak mudah marahan dan tidak bernafsu untuk memuaskan dirinya.

Optimalisasi fungsi akal menjadi titik tolak dari kesempurnaan hidup, nikmat yang membawa manusia kedalam peradaban luar biasa adalah optimalisai fungsi akal, akal adalah fungsi maka otak sebagai organ tubuhnya, dalam akal terdapat sentral pikiran manusia, minimal terdapat 4 sentral pikiran manusia itu, sentra intuisi, sentra logika, sentra naluri dan sentra sensasi, dan jika tiga sentar pikiran itu kita mampu mengelolanya dengan maskimal maka akan menghadirkan aqlu salim.

Manusia juga tidak boleh melupakan fisik kita menjadi lemah dan loyo karena kekurangan enegi dan nutrisi, fisik atau jismi yang sehat dan kuat dalam seorang muslim lebih disukai Allah daripada yang lemah, memiliki dan mengelola daya raga sehat akan menumbuhkan jismi salim, jismi salim adalah raga fisik sehat dan berfungsi baik.

Jismi salim akan mendorong kekuatan yang kita sebut dengan daya raga, qolbun salim memimbulkna daya hidup dan kemampuan mengelola aqlu salim memunculkan daya sadar, dan jika manusia mampu mengelola jismi salim, qolbun salim dan aqlu salim itu maka terciptalah insan kamil, manusia sempurna sebagai manusia, manusia yang berdaya, manusia yang befungsi , dan manusia yang bermanfaat karena telah mampu dan cerdas mengelola fitrahnya sebagai manusia, masih maukah menjadi manusia ?

Leave a Reply