You are currently viewing TIDAK ADA YANG KEBETULAN DALAM DARMA KEHIDUPAN

TIDAK ADA YANG KEBETULAN DALAM DARMA KEHIDUPAN

oleh : Ayah Haji Nursoleh

Sering kita berkata bahwa saya dalam kondisi seperti ini adalah sebuah kebetulan saja, dilahirkan dengan ibu dan bapak sekarang ini adalah sebuah kebetulan, menjadi seorang dan pribadi yang hebat adalah sebuah kebetulan saja, saya ingin katakan bahwa peryataan seperti itu adalah kesalahan besar dan sangat keterlaluan. Sehingga Allah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an bhawa hidup  itu bukan kebetulan semata :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ 

Artinya : Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main.

Hidup dan prosesnya tidak ada yang kebetulan, semua itu adalah rangkaian menuju pada kesempurnaan, karena setiap drama peristiwa kehidupan di dunia ini ada proses dan kejadian yang mendahului, dan ada yang mengatur dalam skenario besarnya, ternasuk takdir bulanlah sebuah kebetulan saja, karena takdir dirangakaikan dengan hukum sunatullah, tidak ada takdir tidak melalui sunatullah.

Sebenarnya kehdiupan yang kompleks itu dimulai dari hal yang sederhana, karena melalui proses yang panjang sehingga menjadi kompleksitas kehidupan begitu beragam, cobalah kita mengulur diri kita sekarang ini kebelakang siapa diri kita ini dari mulai titik awalanya, seseungguhnay kita hanya satu sel saja, yang terbentuk dari nutfah yang dipancarkan, sangat kecil dan sederhana saja, hanya satu sel saja, dengan melalui proses yang panjang sesuai cerita awal kehidupan itu dalam Al-Qur’an surat Al Mukminun :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ  ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ   ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ۗ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu pasti mati.(QS. Al-Mukminun 12 : 15).

Dimulai dari saripati tanah, kemudian menjadi nutfah yang kemudian tersimpan di rahim ibu dan seterusnya, begitu sederhananya permulaan diri kita itu, di dalam rahim ibu itulah kita menerima resapan nutrisi dan anasir dari DNA orang tua kita, uang kemudian DNA itulah membentuk kode-kode tertentu, dan kode-kode DNA itu yang membentuk kecerdasaan yang manusia.

Dalam tubuh manusia, ada sekitar 3 miliar pasangan basa DNA di setiap sel tubuh manusia. Jika diregangkan, panjang untai DNA kita akan sekitar 2 meter. Dan hebatnya setiap susunan berbeda satu dengan yang lainnya, artinya setiap diri kita adalah unit yang berbeda dengan manusia lainnya, sehingga manusia itu memiliki orbit dirinya, masing-masing memiliki kecerdasan dan keahlian yang berbeda secara spesifik, dan sumber kecerdasan manusia itu dalam genetik DNAnya, sehinga setiap manusia itu memiliki potensi kecerdasannya sendiri.

Dimulai dari yang sederhana itu kemudian menjadi kompleksnya susunan tubuh kita, begitu juga kompleksitas dalam kehidupan ini tidaklah sebuah kebetulan saja, terjadi begitu saja tanpa ada pencipta, mengatur dan mengarahkan kehidupan kita menunju kebaikan dan kesempurnaan. Kecerdasan genetika bawaan akan benyak mempengaruhi kecerdasan seseorang dalam kehidupan ini, menurut teori Heritablitas atau daya waris DNA bagi kecerdasan seseorang adalah 57% hingga 70% dan sisanya dipengeruhi oleh lingkungan, meski lingkungan penegruh lebih kecil akan mempengeruhi tingkat kecerdasan seseorang, karena semua itu dalm bentuk potensi, dan potensi itu seharusnya dipantik, diarahkan dan dibimbing dengan orang dan lingkungan yang tepat.

Sehingga wajarlah jika Rosulullah mengajarkan bagaimana memuliakan generasi penerusnya dimulai dengan cara memilih pasangannya, salah satunya kemuliaan nasabnya, pemuliaan nasab adalah yang akan  membentuk generasi cerdas dikemudian hari.

“Dari Abi Hurairah, ia berkata, Nabi Muhammad bersabda: Perempuan dinikahi karena empat, yaitu harta, kemuliaan nasab, kecantikan, dan agamanya, pilihlah wanita yang taat kepada agamanya, maka kamu akan berbahagia (beruntung). (HR Al-Bukhari, 7/7)”.

Kembali lagi membahas drama kehidupan seseorang itu tidaklah sebuah kebetulan, tidak ada yang kebetulan semuah itu masuk dalam skenario besar sang pencipta, dan kita yang menjadi aktor dalam menentukan perjalanan hidupnya, agar hidup dan kehidupan ini menjadi lebih sehat, lebih baik dan lebih bahagia, maka Allah membekali banyak hal termasuk kecerdasan genetika yang telah diwarisi orang tua kita, yang kemudian disebut fitrah manusia itu sendiri, semua itu bentuknya potensial, perlu proses dan mengilmu sari setiap rangakain kehdiupan ini, maka wajaralah jika Allah memberikan wahyu pertama dalam sura al-Alaq adalah Iqro, bacalah atau dapat difenisikan pelajarilah tenatng kehidupan :

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ  الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq 1-5)

Jadi hidup dan kehidupan kita itu adalah drama yang bukan kebetulan, tapi sesuatu proses yang harus kita jalani, karena kita adalah sang aktor diberikan untuk keleluasan untuk memilih, inovasi bahkan berimprovisai, sehingga yang kita pilih dan menjadi jalan kehidupan adalah pilih kita sendiri yang akan dipertanggung jawabkan nanti. (Ns.Olin)

Leave a Reply