MANAKAH YANG UTAMA BERDZIKIR ATAU BERFIKIR ?

Oleh : Ayah Haji Nursoleh Hasyim

Dalam sebuah kesempatan saya kedatangan tamu, dan dalam obrolan yang menjurus pada diskusi yang menarik, satu tema yang menarik adalah “mana dulu berdzikir atau berfikir?”, atau jika disederhanakan masalahnya, manakah yang utama berdzikir atau berfikir dalam kehidupan kita di dunia ini ?.

Dalam hal ini saya berpendapat keduanya tidak bisa diadukan atau dibenturkan mana yang utama dan mana yang didahulukan, karena berdzikir dan berfikir dua hal yang berbeda secara makna dan fungsinya, tapi antara dzikir dan fikir bisa saling melengkapi dan menguatkan, seseorang yang kuat sekali berdzikir tanpa berfikir akan mengalami sebuah kondisi kepasarahan yang total, bahwa dengan berdzikir Allah akan memberikan segalanya dengan tanpa usaha, semuanya telah diberikan Allah dengan Cuma-Cuma tanpa berfikir dan berusaha mendapatkanya, padahal untuk mendapatkan yang kita butuhkan diperlukan proses usaha yang maksimal, usaha yang efektif dan efisien itu dengan ilmu dan teknologi, ilmu dan teknologi itu tercipta dari proses berfikir.

Sedangkan seseorang yang mengandalkan berfikirnya yang teralalu dalam, sehingga seorang filosof  berkata : “bahwa saya ada kerena berfikir dan berfikir membuat saya ada”, eksistensi seseorang hanya bisa dilakukan dengan berfikir, akal menjadi sandaran segalanya, dengan akal banyak sekali bisa diperbuatnya untuk kemajuan kehidupan, seluruh alat yang berbasis teknologi tercipta karena hasil berfikir bukan berdzikir. Dengan proses berfikir itulah memunculkan sain dan teknologi seperti sekarang ini, dan mereka menganggap sain dan teknologi bebas nilai, karena bebas nilai itulah sain dan teknologi banyak disalahgunakan untuk memenuhi nafsu berkuasa, menguasai sumber-sumber energi, sumber ekonomi, budaya, politik bahkan kehidupan manusia, dan menjadikan dirinya menjadi superior yang terkuat dan dapat menguasai segalanya, lupa bahwa ada yang lebih berkuasa dan kekuasaanya tidak terbatas yaitu Allah Robul alamiin.

Sehingga Allah mengingatkan kita untuk proses berfikir dan berdzikir :

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ  الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali Imron (3) : 190-191)

Mengingatkan pada kisah bangsa Tsamud yang selalu mengagungkna ilmu dan teknologi yang dimilikinya, dan sesungguhnya berhala bangsa Tsamud adalah kecerdasanya dari sisi sain dan teknologi, teknologi pertaniannya dan teknologi arstek bangunannya, sehingga kaum Tsamud terpesona akan kemampuan dirinya, secara ekonomi dan kesejahteraan kaum Tsamud sangat tinggi, peradabannya sangat maju dengan sain dan teknologinya pada waktu itu, sehingga terpesona akan kemampuan dirinya dan lupa akan dzikir kepada Tuhannya yang telah menciptakan segalanya termasuk kemampuan dirinya itu, dan hingga sekarang sisa-sisa peninggalnya bisa kita lihat di Madain Saleh, kaum tsamud lupa bahwa seluruh nikmat ilmu dan kecerdasanya dari Allah, dan itu tenukil dalam surat Hud ayat 61 :

۞ وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

Artinya : dan kepada kaum samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud (11) : 61).

Dan dari kisah Nabi Saleh dan kaumnya itu dapatlah kita mengambil hikmah bahwa sehebat apapun manusia dan golongan itu, akan hancur dan binasa jika melupakan Allah, tidak mampu membangun dzikir kepada Allah, bahwa yang membuat cerdas dan berilmu adalah Allah, yang membuat kemakmuran dan kesejahteraan itu Allah, dan ketidak mampuan untuk bersyukur  nikmat yang Allah yang telah diberikan adalah bentuk kekufuran kepada Allah.

Dua komponen ini tidak bisa dipisahkan antara dzikir dan fikir, untuk berinteraksi dengan Allah melalui dzikir, karena Allah Maha Agung dan tidak dapat dijangkau dengan pikiran kita, hanya bisa didekati dengan rasa, dan membentuk rasa yang halus itu dengan dzikir, sehingga dengan dzikir kita akan selalu dekat dengan Allah, dengan dzikir kita akan mendapatkan ridhonya Allah.

Sedangkan Tafakaru atau berfikir itu digunakan untuk mengetahui ciptaan Allah, mempelajari seluruh ciptaan Allah dan menggunakan secara maksimal itu dengan berfikir, pengelolaa alam semesta ini akan memiliki manfaat yang tinggi dengan menggunakan proses berfikir, dengan berfikir akan menemukan sain dan teknologi, dengan demikian kita akan mendapatkan ilmu izinnya Allah, izin Allah itu dilakukan dengan cara memahami algoritma kehidupan alam ini.

Dan jika kita mampu mengkombinasikan, mengkordinasikan dan memadukan dzikir yang akan mendatangakan ridho Allah dan berfikir dengan metologi yang benar akan mendatangakan izinnya Allah, baldatun toyibatun wa rabul gofuur akan tecipta.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ

Artinya : Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’ (34) : 15)

Leave a Reply