Ayah haji Nursoleh Hasyim Ponpes Ashabul Fikri Baros Serang Banten
Setiap yang hidup itu pasti bergerak, dan gerakan untuk tetap hidup membutuhkan energi yang bersumber dari sumber segala sumber energi yaitu Allah Robul Alamiin, dan proses penciptaan alam ini terbentuk karena energi yang saling bergerak dengan mekanisme sunatullah, dan hukum sunatullah itulah yang kemudian kita sebut tata kelola semesta yang bersifat tetap dan tidak pernah berubah, dan itu termaktub dalam Qs. Al-Ahzab ayat 62, Qs. Fatir ayat 43 dan Qs. Al-fath ayat 23.
سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (QS. 33 :62)
ۨاسْتِكْبَارًا فِى الْاَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِۗ وَلَا يَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ اِلَّا بِاَهْلِهٖ ۗفَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا سُنَّتَ الْاَوَّلِيْنَۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ەۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَحْوِيْلًا
karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu. (QS. 35:43)
سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
(Demikianlah) hukum Allah, yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu. (QS. 48 : 23)
Dan yang ingin saya dikatakan adalah sumber energi kita itu bersumber dari sunatullah itu sendiri, karena Allah mengekpersikan kekuasaannya pada alam semesta, Semesta adalah pusat energi manusia dengan sistem tata kelola semesta.
Dan hukum alam semesta banyak sekali, minimal yang kita ketahu adalah 20 hukum semesta, mulai dari hukum siklus (ritme) hingga hukum sebab akibat, dan bagian ini kita akan bahas satu satu dalam tema Sunatullah (hukum alam), tapi sekrang ini saya akan banyak membahas tentang mengotimalkan seluruh potensi energi semesta ini untuk kemakmuran dan kesejateraan manusia.
Karena manusia itu adalah alam kecil bagi alam semesta yang luas ini, dan manusia juga menjadi keluarga dari semesta ini, sehingga kita memiliki hubungan yang spesial dengan alam semesta ini, sehingga kita seharusnya mampu mengotimalkan energi dalam tubuh kita untuk dapat menggerakan dan kolaborasikan dengan alam yang sangat luas ini, energi yang kita keluarkan untuk kebaikan makhluk Allah yang lain, akan mendatangan energi terbarukan dan tambahan energi bagi kehidupan kita didunia ini dan akhirat.
Jangan dikira kalau kita memberi makan satu orang yang tidak mampu, dan yang orang itu yang tertolong dan bahagia karena kita menguarkan energi untuknya, tapi sesungguhnya mahkluk Allah yang lain pun akan berterima kasih kepada kita dan bahkan mendoakan untuk kita yang memberikanya. Saya akan mengilutrasikan begini, dalam diri manusia terdapat banyak kehidupan didalam tubuhnya, dalam perut saja banyak makhluk hidup didalamnya, dalam organ tubuh terdapat anggota organ tubuh, setiap satu organ tubuh terdapat kehidupan yang lain yaitu juta sel dan inti sel yang terus bergerak, dan setiap organ dari tubuh terdapat sel dan inti sel (Genetika) yang terhubung dengan mahkluk yang lainnya, itu artinya setiap energi yang kita keluarkan untuk kebaikan seseorang akan dapat menggerekan kerja alam semesta, dan menolong satu orang berarti kita sudah bersedekah untuk semesta.
Senyum tulus yang kita tebarkan kepada satu orang saudaramu, akan memiliki Multiplier effect (efek berganda) bagi yang lain, satu senyumanmu dengan energi yang positif kemudian mampu membuat seseorang bahagia dan move on lagi, dan penuh semangat kembali dalam bekerja dan berusaha, sehingga keluarga yang di rumah sudah menunggu mendapatkan percikan kebahagiaan yang kita tebarkan hanya satu senjum saja, senyum itu dahsyat, dan dengan senyum dapat merubah wajah dunia dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan, senyum juga merupakan sebuah kebajikan. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. (HR. Muslim).
Ibadah syariat yang kita lakukan harus memampu menyentuh sunatullah (hukum alam), sholat kita harus mampu mencegah kemungkaran dan kedholiman, sholat itu ibadah syariat yang dapat mencegah prilaku buruk itu, ibadah syariat selalu terikat dengan hukum alam, yaitu siapa yang menebar kebaikan akan mendatang kebaikan pula, dan siapa-siapa yang menebar keburukan akan mendapatkan keburukan juga, artinya sholat kita harus mampu mendatangkan enegri positif untuk melakukan kebaikan, jika saja sholat mampu menghadirkan Allah yang Maha baik dalam setiap gerakannya, maka kita akan menjadi manusia yang penuh energi kebaikan, jika sholat tidak mampu mendatangkan energi terbaik dalam diri, perlu dipertanyakan tentang sholat kita, jangalah kita sholat tetapi menjadi tercela dan celaka karena sholat kita yang tidak benar, yang kemudian Allah gambarkan dalam surat Al-Ma’un :
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Maka celakalah orang yang salat,
(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
yang berbuat ria,
dan enggan (memberikan) bantuan.
Orang sholat tapi tidak memprehatikan anak yatim, tidak memiliki jiwa sosial, tidak pernah memberikan bantuan dan selalu pamer dan ria (ingin dilihat orang) dalam beribadah, solat yang dmikian tidak mendaparkan energi yang postif dari apa yang dilakukannya.
Kemudian pusaran energi dalam bentuk sayriat itulah semestinya miliki dan mendatangkan energi postif dan dapat ditebarkan kepada seluruh makhluk Allah dimuka bumi ini, dan apabila kita menebarkan energi positif kepada mereka yang dibumi, kita akan mendapatkan energi kasih sayang dari yang dilangit, sebagaimana sabda beliau,
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
Artinya: “Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit” (HR At-Tirmidzi no. 1924).
Dan pada akhirnya setiap energi kebaikan yang kita tebarkan dengan penuh kasih sayang akan mendatangkan energi yang lebih besar dari apa yang kita keluarkan itu, dan perbauatan kebaikan itulah sesungguhnya kita sedang memalukan kebaiakn kepada semesta (sunatullah), wajar jika Allah mengancam bagi mereka yang melanggar hukum sunatullah, yang dalilnya sudah diungkapkan diatas, sebagai bahan renungan saya munculkan lagi:
“Karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu”. (QS. 35:43)
Sebagai kesimpulan pusaran energi ilahi itu adalah kebaikan yang kita tebarkan kepada sesama dan seluruh makhluk Allah, energi kebaikan kita itu tidak akan sia-sia, karena alam tahu bagimana berterimaksih, dengan mengembilkan kebaikan itu dengan penuh kasih sayang pada kita dalam bentuk kemudahan, kelapangan rizki dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Semoga….
(Olin Ns)
