Shaum yang diartikan dalam bahasa Inonesia adalah puasa, untuk mendapatkan kesamaan persepsi tentang (shaum) puasa, terlebih dahulu mendfinisikan makna puasa itu sendiri, puasa dalam literasi Fiqih itu adalah tidak makan dan minum serta yang membatalkanya dari mulai terbit matahari sampai tenggelamnya matahari, dan makna puasa dari sisi bahasa adalah shaum artiya imsak, yaitu menahan diri dan atau mengekang.
Dan jika kita berhenti pada puasa fisik saja seperti dalam literasi fiqih itu sangat mudah dikerjakan dan dipahami semua orang termasuk anak kecil, yang kita akan rasakan hanya lapar dan haus saja, dan setalah waktu buka puasa lapar dan hausnya hilang kemudian kita berharap ampunan, keberkahan bahkan syurga dari Allah Subhanahu wataala, apa seperti itu ?
Perintah puasa begitu khusus dan utama bagi mereka beriman, hanya untuk menjalankan kewajiban lapar-laparan saja, sehingga Rosulullah menegaskan dalam sabdanya : “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i). sepertinya Rosulullah sangat paham benar kalau umatnya puasanya hanya puasa fisik saja tidak makan dan tidak minum dalam waktu tertentu, hanya memindahkan pola makan dari pagi hingga siang kedalam malam hari, memang tidak salah sih puasa tersebut, Cuma sayang aja kalau puasa hanya badan fisik saja dan belum menyentuh pada jiwa dan spiritualitas.
Bagaimana target puasa itu adalah taqwa hanya dilakuan secara tubuh fisik saja tanpa diiringi dengan jiwa dan ruhani, puasa tidak mampu memunculkan kesadaran diri, puasa hanya sebatas mulut, perut dan kelamin saja tidak akan sampai pada target taqwa kepada Allah, karena untuk mencapai ketaqwaan memerlukan totalitas dalam beribadah, totalitas bukan hanya keseriusan dalam menjalankanya tapi harus juga membawa jiwa dan ruhani kita juga untuk melakukan yang sama seperti fisik kita, fisik kita latih menahan makan, maka jiwa juga dilatih menahan dari naluri hawa nafsu, dan ruhani juga harus dilatih untuk menahan dari sikap yang sama.
Menahan itu bukan mengilangkan, puasa itu tidak membunuh rasa, rasa lapar, rasa haus dan rasa seksual tapi puasa itu hanya mengatur dan mengendalikan rasa tersebut, manusia jika sanggup mengendalikan rasa maka tidak akan mampu mengendalikan pikiranya.
Dalam diri manusia sedikitnya ada 3 tubuh yang melingkupi yang harus dipuasakan, yaitu tubuh kasar (tubuh fisik), kedua tubuh gas (naluri) dan tubuh cahaya (pikiran), tubuh kasar atau fisik yaitu seperti tangan, kaki, kepala, perut badan dan lain-lain yang memilki kemapuan panca indera, dan lebih dalam lagi yaitu tubuh gas (naluri) yang memiliki kecenderungan untuk bertahan hidup, rasa aman, berkuasa, keakuan, ingin tampil, ingin diakui orang hebat, orang kaya dan banyak lagi, insting dan naluri seperti itu juga dimiliki binatang, makanya jika manusia jika mampu mengendalikan medan nalurinya, membiarkan liar sifat-sifat kebintangan insting dan nalurinya maka menjadi sesat bahkan lebih sesat dari binatang ternak
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Maksudnya: “Atau adakah engkau menyangka bahawa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (apa yang engkau sampaikan kepada mereka)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan (bawaan) mereka lebih sesat lagi.” (Surah al-Furqan: 44)
Dan yang ketiga yang perlu puasa (shaum) adalah tubuh cahaya (pikiran) manusia, dalam memuaskan tubuh cahaya adalah dengan mengatur dan mengendalikan pikiran dan intuisi untuk diarahkan kepada ketaatan kepada Allah, kekacauan berpikir akan berdampak pada fisik dan juga mental seseorang, misalnya selalu berpikir kalau hidupnya selalu sengsara dan tidak bahagia, karena standar kebahagian hanya pada materi pada materi, bahagia itu kalau makan yang enak-enak yang ada restauran, bahagia itu kalau punya rumah, bahagia itu kalau punya kendaraan dan lain sebagainya, padahal kebahagian itu bukan orang lain miliki, kebahagian itu apa yang kita miliki dengan rasa syukur, kebahagian itu dari bagaimana kita berpikir.
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” Menjadi Indah jika kita mampu mengenali diri kita, membangun kesadaran diri dengan jalan berpuasa, puasa dalam arti pengendalian diri, mampu mengendalikan tubuh fisik kita untuk tetap bisa menahan lapar dan haus hingga waktunya nanti tanpa sikap yang rakus dan balas dendam, kita juga mampu mengengendalikan tubuh gas (Naluri) kita agar tepat pada posisi seimbang, dan juga mampu mengatur ritme tubuh cahaya (sentra pikiran) agar tetap menerangi kegelapan berpikir, menerangi kesesatan berpikir dan menerangi dari kesempitan berpikir, dan jika puasa romadhom tahun ini mampu mengatasi 3 tubu sekaligus maka puasa itu telah mampu membangun kesadaran kita sebagi manusia ciptaan Allah yang paling sempurna dan komplit (fi ahsanu takwim).
