Melihatmu menangis dalam pelukan ibumu, mengingatkanku diawal awal ketika masuk pesantren, aku melihat ibuku juga tak sanggup melihat kebelakang sekadar mengucapkan selamat tinggal, dan ku tahu ibu tak kuasa berpisah walau sesaat denganku…
Melihatmu tersendu semalam dalam tangisan perpisahan meski dalam waktu yang singkat, sesuaimu aku sepertimu, melawan rindu tangan dan lembut sapaan subuh menjelang pagi, terta rapih di atas meja nasi goreng ceplok telor kesukaanku, itu cukup membuat mengeluarkan air mata jauh dari ibu…
Melihatmu tertawa bersama kawan seasrama dan yakin semua seperasa denganku juga, menenggalamkan dalam ketatnya jadwal tertera di dinding lemari kamar, dan jika sore tiba bahagia menjemput karena dapat tertawa dalam lapangan bola itu…
Melihatmu makan berjamaah menambah kencang ingatanku di Daar el Qolam pesantrenku dulu, hanya dengan nasi putih satu potong tahu yang disiram sayur penambah rasa, meski sangat sederhana cukup untuk menahan hingga pagi menjelang, dalam malam terang sedikit redup membaca lantunan ayat-ayat suci bersama..
Sekarang aku menjadi bagian dalam perjalanan hidupmu disini, terus saja mata dan hatiku memandangmu dan membimbingmu agar tidak sepi dikemudian hari, harimu sekarang menjadi hari hariku, akan ku habiskan bersamamu, dalam dingin dan hangatnya suasana yang kita ciptakan bersama..
Percayalah tanganku ini sekarang menjadi tanganmu dalam menunjuk, sedikit pengalamanku akan ku tumpahkan dihadapanmu agar jalan tak segelap malam, secerah ilmu walau hanya bagian titik akan ku bariskan dalam pikirmu agar cahaya tidak terhalang dengan kebodohan, dan doa doa tak akan putus dalam setiap gerakmu menjadi benar agar di depan masamu lebih jernih dalam kebahagian..
Kini aku menjadi hidupmu disini…
