You are currently viewing Beranikah menerima “Challenge dari Baginda Rosul”

Beranikah menerima “Challenge dari Baginda Rosul”

Nasihat klasik yang selalu diajarkan orang tua dahulu adalah puasa itu yang kita rasakan dari rasa lapar yang sangat, dari haus yang mengering dan dari keinginan untuk menikmati kenikmatan duniawi, itulah rasanya bagi mereka yang kurang beruntung dalam ekonomi (baca: fakir miskin) yang selalu menahan rasa lapar dan hausnya karena tidak mampu untuk mendapatkan makan tersebut, tidak mampu membeli makan, kalau mampu membeli dengan kulaitas yang rendah dan kuantitas yang sedikit.

Nasihat ini rupanya sudah tidak lagi kami dengar di jaman sekarang, apakah nasihat ini menjadi tidak berlaku dijaman sekarang, padahal kondisi ekonomi sekarang tidak lebih baik dari kondisi ekonomi jaman dulu,  sekarang ini apa-apa mahal dan lapangan pekerjaan begitu sempit, industri dan dunia usaha sangat lesu, sehingga banyak pabrik dan perusahan banyak yang bangkrut dan gulung tikar, ini akan mengakibatkan gelombang pengangguran yang besar, tingkat pertumbuhan tidak sedasyat jaman dulu, paling banter tingkat pertumbuhan ekonomi kita hanya berkisar 5 %, dan tingkat pengangguran tahun ini mencapai 9 juta orang menganggur, berarti kondisi ekonomi sekarang tidak sedang baik-baik saja.

Nasihat itu sejatinya masih berlaku untuk sekarang, bahwa masih banyak orang yang lapar sekarang, masih banyak fakir miskin yang harus dibantu oleh kita semua, atau jangan secara diam-diam kita mengalami kondisi sebenarnya terjadi pada dirinya, atau sekrang lebih banyak orang benar-benar puasa absolut bukan karena perintah Allah tapi memang berpuasa sebanarnya karena ketdak mampuan secara ekonomi dan sumber sumber penghasilan, sehinga terpaksa harus berpuasa.

Nampak sekarang seakan-akan saudara, tetangga, teman, dan masyarkat sekitar kita terlihat baik-baik saja, terlihat bahagia dan bergembira seakan-akan hidupnya sudah berkecukupan, status yang ditampilkan di media sosial begitu penuh semangat dan menyenangkan, atau jangan apa yang ditampakan tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya, biar susah tapi tetap terlihat bahagia, biar kekurangan tetap terlihat berkecukupan, biar tidak punya uang tetap terlihat bisa jalan-jalan healing ke pusat perbelanjaan dan seterusnya, ini menjadi fenomena masyarakat jaman sekarang, tetap terlihat punya meski hidupnya masih susah.

Nampak juga orang mengekploitasi kesusahan dan pendiritaan ini menjadi ladang pengumpulan pundi-punda keuangan masyarakat, penggalangan donasi bantuan ini baik dilakukan secar langsung turun ke jalan atau secar on line dengan menggunakan platform media sosial, seringkali kita dapat kiriman tawaran untuk membantu seseorang baik bentuknya tulisa, gambaran dan juga video intinya minta bantuan keuangan untuk kegiatan dan kondisi yang harus dibantu, akhirnya sangat sulit membedakan apakah infomasi yang disebarkan itu memang kondisi sebenarnya yang harus kita bantu dan tolong, atau itu memang strategi pengumpulan dana masyarakat untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Nampak sebenarnya adalah mereka yang membutuhkan bantuan kita itu tidak akan pernah meminta bantuan kepada kita, karena faktor iman yang tinggi, hanya kepada Allah segala permintaan diarah dan ditujukan, berharap hanya kepada Allah yang tidak pernah mengecewakan, karena meraka tahu bahwa berharap bantuan dari manusia akan mendatangkan kekecewaan dan rasa sakit hati, apalagi ketika meminta bantuan kepada seseorang yang dianggap mereka akan bisa dapat membantu kesesuhannya yang diterimanya omongan belaka, mereka butuh uang bukan omongan, lama sekali mendengarkan cerita sukses hidupnya hingga berjam-jam tapi belum keluar juga uang bantuan dari dompetnya, yang diterimanya amsyoong, nihil dan nol belaka, pernakah mengalami seperti ini, niatnya mau minta bantuan keuangan tapi yang didapatkan hanya cerita diri dan sukses hidupnya tapi uang bantuannya tidak keluar sedikitpun hingga akhir pertemuan, padahal orang seperti ini dapat sedekahnya jadi batal tidak memiliki nilai bahkan menjadi perbuatan yang divenci Allah tidak memberi tapi mengumpat dan menghina kepada yang datang minta tolong, dalam QS. Al-Barah ayat 264 ditergaskan sebagai berikut :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ  كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ  فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ  لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir”.

Membangun kecerdasan sosial itu memerlukan tuntunan dan ilmu, bukan hanya maen perasaan saja, perasaan kebaikan itu memang harus disaluran dan juga diaplikasikan, tapi semua membutuhkan ilmu tentang sedekah yang menjadi tuntunan, sedekah itu butuh staregi yang tepat dan orang yang tepat, pada tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat, sehingga sedekah kita akan lebih optimal secara kegunaan dan termanfaatkan dengan baik bagi penerima sedekah itu, tapi juga pemberi sedekah itu juga mendapatkan ridho Allah, kasih sayang Allah dan bahkan mendaptkan balasanya juga secara optimal.

Yang perlu diperhatikan beberapa indikator yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut :

Pertama : Kepada siapa kita harus bersedekah ? pertanyaan ini harus mampu dijawab sesuai tuntunan Al-Quran dan Nabi kita Muhammad SAW, sehingga sedekah tidak salah sasaran, yang diutamakan sedekah itu ditujukan kepada sesama muslim, kepada keluarga terdekat, kepada tetangga yang membutuhkan, kepada orang lain yang membutuhkanya, ini diungkap oleh hadist nabi, “Jika salah seorang dari kalian fakir, maka mulailah (sedekah) dari dirinya sendiri, jika ada kelebihan lalu ke ke keluarganya, jika ada kelebihan lalu ke kerabatnya, jika ada kelebihan maka silahkan ia bersedekah ke sana atau ke sini.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Kedua : Kapan waktu sedekah yang tepat ?  pertanyaan ini pernah ditanyakan sahabat kepada Rosulullah, ini tergambar dari hadist berikut ini :

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Dari hadist diatas maka terdapat empat challenge (tantangan) sebagai berikut :

  1. Bersedekah ketika badan lagi sehat

Sedekah ini dianjurkan kepada mereka yang masih muda, penuh energi dan masih memiki kemampuan untuk menggapai rizki dan kesuksesan besar, karena biasa pada kondisi ini sering lupa akan sedekah, terlampau menikmati sehat dan bugar untuk berkerja dan berusaha, sehingga rosulullah mengingat kita untuk itu,  “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

  • Bersedekah ada kinginan menjadi saudagar kaya raya

Terdapat tantangan dari Rosulullah jika ingin kaya bersedekahlah agar terhindar dari sifat kikir dan pelit, karena kondisi ingin mengejar kekayaan biasa membutuhkan modal yang besar juga, sehingga menhitung secara teliti agar anggaranya lebih efektif dan effisien, karena begitu sangat terukurnya dana tersebut tidak ada terselip anggaran untuk sedekah, padahal menurut stregi Nabi masukan anggrana sedekah dan budget anggarakan bisninya, sesuai dengan hadist diatas tersebut.

  • Bersedekah ketika takut miskin

Ini juga tantangan ketawakalan kita kepada Allah, menjadi kaya dan miskin itu bisa menimpa kita, orang bisa saja menjadi jadi miskin jika Allah berkehendak, oarang juga bisa mendadak kayak jika Allah berkendak.

Bersedekah ketika dalam waktu takut miskin adalah sebuah tantangan yang diberikan Rosulullah sesauai dengan hadist di atas, atau ditegaskan dalam Al-Quran surat Ali-Imron ayat 134 : “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan “.

Coba deh bagi mereka yang merasa takut miskin kita bersedekah, karena banyak yang lebih susah dari diri kita, ada yang lebih menderita dan terluka melebihi derita diri kita.

  • Bersedekah jangan pada waktu akan mati

Ketika waktu menjelang azal tiba biasanya seseorang terdorong untuk bersedkah untuk persiapan hidup dialam barja, tapi kalau sudah tua, dan sakit parah lebih dekat dengan kematian bukan yang dipikrkan adalah sedekaha tapi bagaiman mangutur warisan, agar anak-anak dan istri yang hidup tidak bersitegang menghadapinya.

Bersedkahlah jika masih kuat dan jagjag, bersedkahlah yang masih terilhat masih bugar dan segar, jangan menunggu sakaratul maut akan menjemput kita mau bersedekah itu kurang baik menurut Rosulullah seperti hadist diatas, kemudian dipertegas dengan firman Allah QS. Al-Munafiqun ayat 10:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ 

Artinya : “Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.”

Itulah mengapa kecerdasan sosial itu harus dibangun atas dasar ilmu dan tuntunan Allah dan Rosulnya, agar apa yang menjadi kewajiban kita untuk bersedekah kepada yang lain lebih optimal secara manfaat dan juga optimal secara ganjaran dan balasan Allah Subhanahu wataala

Leave a Reply