MEMBUKA DIMENSI BLIND SPOT DALAM RUMAH TANGGA

Dalam satu kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan kawan lama, ia bekerja di Kantor Urusan Agama, dan pekerjaanya adalah mengurusi tentang ritual keagamaan dan satu dari tugasnya adalah menjadi naib, menjadi penghulu pernikahan, dan diskusi yang mulai dari sore hari hingga jelang tengah malam, membahas banyak hal dari kehidupan ini, tapi ada topik yang menarik itu adalah mengapa kerahmonisan berkeluarga menjadi rendah sehingga mengingkatkan jumlah dan potensi perceraian itu tinggi.

Dua alasan terbesar adalah faktor ekonomi dan faktor perslingkuhan, padahal sebelum menikahpun mereka memulai dari sesuatu yang belum mapan secara ekonomi, atau dalam kata lain memulai dari nol, dan mengapa dalam perjalan waktu kehidupan berumah tangga menjadi masalah besar dan berujung dengan disharmonsasi dalam kehidupnya, dan mereka sanagt paham bahwa kekuarangan ekonomi sudah dketahuinya, sehingga mampu mengantisipasi dan mengatasi kekurangan itu dengan banyak cara dan banyak jalan keluar.

Kemudian masalah perselingkuhan dan bermain hati dengan yang lain selain dengan pasangan yang sahnya, baik secara sah melalui pernikahan secara diam-diam tanpa diketahui istri pertama ataupun  memang melalui perslingkuhan murni tanpa pernikahan (Pacaran), dan kalau ditelususri lebih lanjut mengapa terjadi seperti satu diantaranya mengalami kebosanan, coba bayangkan kita bersama setiap saat dengan suami dan istri dalam rentang waktu yang panjang dan lama, dengan pola hubungan dan cara yang sama, dengan tempat dan waktu yang sama, dan dengan komunikasi dan berjumbu dengan stadar yang sama, dan wajarlah muncul kebosanan, dan perlu juga sesekali merubah cara, model, teknik dan susana yang inovatif.

Satu diataranya adalah membuka blind spot dalam rumah tangga, seperti kita berkendaraan atau titik-titik blind spot dn titik black spot, bukankah kehidupan itu seperti dalam sebuah perjalanan panjang, kalau kita tidak mampu mengatur ritme dan kehati-hatian akan terjadi kecelakan pada titik black spot itu, black spot itu diartikan sebagai titik tempat dan waktu yang sering terjadi kecalakan yang sering ditempat itu-itu saja atau pada waktu yang itu-itu saja. Begitu dalam perjalan kehidupan itu terjadi inseden atau kecelakan dalam kehidupan kita disebabkan itu-itu saja, istri bertengkar dengan suaminya pada hal-hal itu saja, seperti suami istri yang lain, bukankah konflik keluarga disebabkan hal sama seperti terjadi pada keluarga yang lain, seharusnya kita mampu belajar dari kondisi dan situasi sama itu atau kemudian saya sebut dengan black spot.

Metode membuka blind spot itu adalah membuka dimensi lain dalam sebuah perilaku, contoh sederhananya, tugas istri adalah menjadi pekerjaan utamanya secara kebiasaan lama adalah dapur, kasur dan sumur kemudian ditambaah mengurus anak dan suami, dan itu dilakukan dalam waktu yang lama sekali, secara manusiawi akan mengalami kejenuhan dan kebosanan, iya gak siiih ?

Begitu juga laki-laki bekerja setiap hari atau berusaha setiap hari mencari maisyah (mencari penghidupan) berupa materi dan uang untuk dibawa pulang ke rumah, bekerja dengan situasi dan kondisi yang sama, teman bekerja itu-itu saja, bos yang sering marah dan memberikan perintah seenaknya, belum lagi ada acaman pemecatan dari bos dan owner perusahaan yang sewaktu-waktu menghantui, karena menurut bos sudah tidak produktif lagi dan lain sebagainya, dan ini membuat kita sesak, capek dan ujung-ujungnya mengalami kejenuhan dan kebosanan, iya gak siih?

Atau untuk suami yang menjadi pemimpin usaha, bos dan ataupun pemilik dari sebuah perusahaan, berfikir keras dan berusaha giat agar usaha cepat maju dan berkembang dengan pesat, memiliki omzet yang meningkat sediap waktunya, yang ada dikepalanya bagaimana usaha ini maju dan berkembang dengan fantastis, dan mendapatkan pundi-pundi keuntungan yang berlipat, berfikir agar usaha efesien dan efektif sehingga biaya ditekan sedmikian kecil agar keuntungan yang dirasakanya besar, dan biasanya biaya tertinggi adalah tenaga kerja, sehingga setiap hari kerjanya mengawai pekerja dan bahakan tidak jarang memarahi bekerja lebih giat dan setrusnya, sehngga ini dilakukan setiap hari dalam waktu yang panjang, dan ini jika dialami setiap hari akan mengalami sterss, darah tinggi, perasasaan berdebar-debar terus tidak memiliki ketenangan dalam berbisnis, lama-lama akan mengali kejenuhan dan pada akhirnya bosan juga. Iya gak siiih ?

Dan ingin saya katakan adalah seperti ini coba kita membuka dimensi yang lain yang masih tersembunyi, kalau kita menjalankan kehidupan itu hanya satu dimensi saja yang saya utarakan di atas itu adalah bekerja, menalankan kewajiban dan lain sebagainya berpatokan pada satu dimensi saja, akan terjerumus pada titik black spot, kalaulah seseorang artsitektur hobinya hanya menggambar saja, itu hidup pada satu dimensi saja, sehingga dimensi yang lain tidak terbuka,sehingga hidup hanya berkutat pada itu-itu saja, cobalah seorang artsitek punya hobi jangan menggmbar misalnya geluti hobi naik gunung atau adventurir misalnya, nah ini akan membuka carkrawala dimensi yang lain, bahwa hidup bukan hanya menggambar.

Ini ada cerita menarik dan true story, ini kisah benar-benar terjadi, penulis punya sahabat seorang kiyai besar memimpin ribuan santri, kalau seorang kiyai hobinya mengajar dan ceramah itukan berkerja pada satu dimensi saja, tapi ini jadi unik memiliki hobi mancing di laut, terlihat aneh dan nyentrik kiayai koq hobinya mancing, justru menurut pendapat saya adalah bagus dan keren, karena kiyai ini memiliki dimensi yang lain dari kehidupannya, dengan karena itu kiyai ini buka tabir-tabir dimensi yang lain, dan saya yakin dengan cara ini akan muncul ide-ide cemerlang dalam memimpin sebuah pesantren, karena telah mampu buka blind spotnya, hidup jadi berwarna dan tidak membosankan, iya kan Yai Mujib?

Begitu juga dalam berumah tangga istri itu seharusnya membuka dimensi yang lain dengan membuka hobi yang lain selain, memasak mengurus suami, kalau istri punya hobi memasak itu mah hobi yang satu dimensi saja, kalau istri hobinya dandan dan beli baju di Mall itu sih satu dimensi saja, coba lalukan hobi yang lain seperti panjat tebing (ini ekstrim jangan ya), atau keluar rumah jalan-jalan dengan teman dan sahabat-sahabatnya dan lain sebagainya, atau membuka hobi traveling, snorkeling atau mancig juga boleh, sehingga hidup itu bukan hanya itu -itu saja, banyak warna yang harus kita lihat dan rasakan.

Begitu juga suami hidup itu buakn hanya bekerja, bekerja, berusaha dan ntari duit saja, coba buka dimensi yang dengan hobi yang berbeda dari pekerjaanya, seperti yang saya kisahkan tentang kiyai hobi mancing dan lain sebagainya, dan ini hobi ini memang harus dikomunikasinya dengan pasangannya, jangan teralau serius menjalani hidup ini, kadang harus rileks dan santai dengan melakukan hobinya, kasihlah rauang dan waktu kepada pasang kita untuk menikamti hobi yang berbeda itu agar dapat membuka dimensi-dimensi lain dari kehiduapn ini. Sehingga mengisartkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Mulk ayat 15 menjadi bahan renungan kita :

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ 

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS.67 : 15).

Dalam ayat diatas ada tiga kata kunci yaitu, pertama : Hidup ini mudah dan indah, kenapa banyak dari kita memperuslit diri, nikmati hidup dengan kemudahan itu dengan membuka dimensi-dimensi yang lain dari kehidupan ini.

Kedua; jelajahi dunia ini yang begitu mempesona nan indah ini, itu menunjukan kita diminta dan dajurkan untuk berselancar kesegala arah bumi ini dan nikmati banyak cakrawala kehdiupan, jangan merasa diri kita taat hanya duduk dan berdiam diri di rumah, bumi ini luas lur, keluar nikmati pesonanya sehingga kita merasakan sisi lain dari sebuah kehidupan.

Ketiga; mencari rikzi atau bekerja dan berusaha mencari anugerah Allah yang bertebaran begitu banyak dan luas.

Wallah alam bisowab

Leave a Reply