Oleh Ayah Haji Nursoleh Hasyim
Sesungguh semesta ini termasuk manusia yang hidup di alam ini adalah hamparan medan kuantum, dengan hamparan partikel, atom, energi, gelombang dan cahaya saja, semua meluputi kehidupan makhluk di dunia ini.
Kemudian meuncul pertanyaan apakah alam ini termasuk makhluk hidup didalamnya memiliki kesadaran, dan jika seluruh makhluk yang ada dalam bumi bisa saling berkomunikasi atau memiliki respon jika kita melakukan interaksi dengannya.
Sebelum kita membicara komunikasi semesta itu perlu memahami tentang definisi kesadaran itu, sehingga mempermudah dalam mencerna apa yang akan dikemukan dalam tulisan ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesadaran/ke·sa·dar·an/ n 1 keinsafan; keadaan mengerti: – akan harga dirinya timbul karena ia diperlakukan secara tidak adil; 2 hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang;- diri kesadaran seseorang atas keadaan dirinya sendiri.
Dari kamus KBBI itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kesadaran itu adalah keadaan mengerti apa yang dirasakan atau diaalami seseorang tersebut, terdapat banyak bentuk kesadaran yaitu awareness dan consciousness.
Awareness adalah istilah dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata “aware” yang berarti sadar atau menyadari. Secara umum, awareness mengacu pada pemahaman atau pengetahuan tentang sesuatu. Ini bisa mencakup pemahaman tentang diri sendiri, orang lain, atau suatu situasi. Dengan kata lain, awareness melibatkan kemampuan untuk memahami dan mengenali keberadaan sesuatu. Dan Kata menyadari sesuatu (to be conscious of something) dalam bahasa Latin pengertian aslinya adalah membagi pengetahuan tentang sesuatu itu dengan orang lain atau diri sendiri. Kata conscious (sadar) dan consciousness (kesadaran).
Sederhananya kesadarn itu kemampuan diri untuk merasakan dan mersepon apa yang terjadi pada kehidupan ini, sehingga memiliki komunikasi, dan ternyata seluruh makhluk dimuka bumi ini memeliki kesadaran yang saja kita mampu merasakan tingkat kesadaran makhluk tersebut, untuk membuktikna bahwa alam ini memiliki kesadaran ada dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an diantarnya adalah QS Al Ahzan ayat 72 :
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh, (QS. 33 : 72).
Diceritakan Allah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi enggan menerimanya khawatir tidak mampu menjalankan amanat ini, maka diambillah oleh manusia, ini menggambarkan bahwa alam semseta ini memiliki kesadaran.
Atau di ayat lainnya QS. Fusliat ayat 12 :
فَقَضٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَوْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَاۤءٍ اَمْرَهَا ۗوَزَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَۖ وَحِفْظًا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
Artinya : “Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
atau dalam surat Al-Anbiya ayat 79, bagaiman nabi Daud mampu menundukan gunung dan burung :
فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ
Artinya : “Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya”.
Atau dengan kisahnya Nabi Sulaiman dan semut dalam surat Anml ayat 18-19 sebagai berikut :
حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya : “Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Penelitian air Masaru Emoto pada tahun 2003 adalah sejenis penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Jepang, Masaru Emoto, yang meneliti pengaruh pikiran, kata-kata, dan musik terhadap molekul air. Emoto percaya bahwa air memiliki kemampuan untuk merespons energi yang dikeluarkan oleh manusia dan lingkungannya. Metode penelitiannya melibatkan memaparkan air pada berbagai pengaruh eksternal, seperti kata-kata yang positif atau negatif, musik yang harmonis atau kasar, dan gambar yang indah atau buruk. Setelah itu, dia memeriksa struktur kristal air menggunakan mikroskop untuk melihat apakah pengaruh eksternal tersebut mempengaruhi struktur molekul air.

Dalam penelitiannya, Emoto menggunakan berbagai metode untuk mempengaruhi air. Ia memberikan pengaruh dengan menggunakan kata-kata, musik, pikiran positif atau negatif, doa, dan bahkan meditasi. Kemudian, air tersebut dibekukan dan kristal yang terbentuk di dalamnya difoto. Hasil fotografi ini kemudian menjadi bukti visual yang menunjukkan perubahan struktur kristal air dengan pengaruh lingkungan yang diberikan.
Kesimpulannya adalah alam memiliki kesadaran, dan memiliki gelombang-gelombang, energi serta frekeunsi yang dimunculkannya, dan ini sudah banyak dilakukan oleh peneliti bahwa tumbuhan memiliki komunkasi tersendiri, kenapa kita mampu kita pahami karena gelombang frekuensinya yang berbeda dengan manusia, tapi mampu merasakan apa yang telah dilakukan manusia kepada tumbuhan itu sendiri, seluruh makhluk Allah akan mersepon balik kepada manusia apa yang telah dilakukan kepadanya, sehingga alam dapat berkomunikasi.
Sebagai contoh, jika kita memperlakukan alam dengan serampangan dan mengekslpoitasi seenaknya oleh manusia, maka akan terjadi musibah bagi manusia tersebut.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Respon yang terjadi karena ulah tangan-tanagn manusia yang rakus itu mengakibatkan banyak bencana, dari pemanasan global, perunahan iklim dan bencan-bencana lainnya, dan sebaliknya jika manusia memperlakukan alam ini dengan cinta dan kerahmatan, maka Alam akan merseponnya dengan kebaik pula dalam banyak bentuk salah satunya dengan memberikan kesejahteraan dan ketenangan bagi manusia.
Sehingga Allah mengutus seorang nabi akhir kaman yang stau daianta misinya adalah rahmatan lil alamiin.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya : “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al Anbiya : 107).
