Oleh : KH. Nursoleh Hasyim
“Apa yang kita pikirkan dan rasakan, setiap peristiwa adalah realitas, dan realitas itu sumber dari ilmu” Gus Umar Fayumi

Dan ingatlah ketika proses penciptaan Nabi Adam, yang secara fisik terbuat dari seluruh unsur semesta yang diwakili dari tanah liat yang hitam, dan tanah ini mengandung semua unsur dari semesta, terdapat unsur air, tanah, udara dan juga api di dalamnya, dan semua unsur itulah yang membuat daya raga itu menggerakan kehidupan kita.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. (QS Al Hijr: 26)
Disebutkan dalam Qashash Al-Anbiyaa’ karya Imam Ibnu Katsir, Nabi Adam AS diciptakan dari segenggam tanah yang diambil oleh malaikat dari seluruh muka bumi. Pendapat ini bersandar pada riwayat Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad dan Shahih Al-Jami’. Dari Yahya dan Muhammad bin Ja’far, dari Auf, dari Qasamah bin Zuhair, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil (oleh malaikat) dari seluruh muka bumi. Maka keturunan Adam pun masing-masing terlahir sesuai dengan jenis tanah tersebut. Di antara mereka ada yang berkulit putih, merah, hitam, atau campuran (antara warna-warni itu). Di antara mereka ada yang buruk dan ada yang baik. Di antara mereka juga ada yang lembut, ada yang keras dan ada yang campuran (antara keduanya).”
Hadits tersebut turut diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dalam kitab shahih-nya. Adapun, At-Tirmidzi mengatakan hadits tersebut termasuk kategori hadits hasan shahih.
Kemudian bagaimana mungkin tanah memiliki empat unsur yang lainnnya, tanah itu bumi ini terbentuk dari hasil ledakan yang keras, memunculkan api dan diterbangkan oleh udara, sehingga kemudian dengan air menculah kehidupan.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (al-Anbiya: 30)
Kombinasi tanah, air, udara dan api mewakili seluruh unsur jagat raya ini, yang kemudian terciptalah Nabi Adam yang merupakan kakek buyut dari semua manusia di bumi ini. Itu artinya tubuh manusia memiliki semua unsur semesta ini dalam raga dan fisiknya, dan itulah semua unsur itu memiliki simbolisasi dari empat daya raga sekaligus, dan daya raga itu adalah daya diam, daya resap, dan lontar dan daya gerak.
- Daya Diam (Tanah)
Menurut Ibu Attoilah “Sembunyikan wujudmu pada tanah yang tidak dikenal, sebab, sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak akan berbuah sempurna”, diam dan menerima apa yang ditanam adalah bentuk keikhlasan dan kecintaan, tanah selalu diam dan ikhlas apa yang ditanam di dalamnya, apakah yang tanam itu sesuatu yang bernamanfaat seperti biji dan tanaman ataupun kotoran yang yang ditanam, ia selalu ikhlas menerima apapun dengan kerelaan dan kecintaan.
Dan ini adalah daya yang dibutuhkan untuk seorang entrepreneur, keihlasan menerima apapun yang datang kepadanya, untung dan rugi itu biasa, gagal dan berhasil itu juga biasa, cercaan dan pujian juga hal yang biasa, karena pada hakikat baik dan buruk yang datang kalau diterima dengan rela, ikhlas dan penuh kasih sayang akan mendatangkan kebaikan.
Terpaan ujian baik ujian dalam bentuk kebaikan dan keburukan diterima dengan ikhlas, dan melakukan apapun yang dierimanya dengan cinta, insyaallah akan mendatangkan kebaikan pula, segala sesuatu yang ditanam dalam ruang yang gelap dan sepi akan tumbuh tunas kebaikan.
Belajarlah untuk iklhas dan ridho seperti tanah, diam dengan ketenangan dan kecintaan dan tidak perlu ingin cepat terkenal dan terlihat sedang berjuang, tanah mengajarkan pada kita untuk menghilangkan sikap riya, ingin dipandang hebat oleh orang lain.
Langkah awal dari sebuah usaha dan bisnis, menyadari potensi diri yaitu ikhlas beramal untuk semua usaha dan perjuangan. Miliki daya diam dan iklas seperti tanah, maka kita akan menemukan potensi yang sangat luar biasa untuk menjadi kuat dan tegar dalam menghadapi segala apapun yang yang datang pada kita.
- Daya Serap (air)
Meskipun ini masih bisa diperdebatankan, bahwa sifat air sesungguhnya menyerap ke dalam, air yang mengalir itu disebabkan daya serap tanah tersebut tidak dapat menampung, jika tanah itu mampu menampung serapan air, maka air itu tidak tidak mengalir ke bawah.
Air menjadi mahkluk Allah yang sangat penting bagi kehidupan seluruh makhluk, tanaman, binatang hingga manusia membutuhkan air, dan air adalah kompenen terbesar dalam tubuh manusia sekitar 70 %, artinya tubuh manusia memiliki kadar air hingga 70 %, begitu banyak dan mendominasi.
Segala sesuatu akan hidup jika terdapat air di dalamnya, dan ini ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 30 :
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (al-Anbiya: 30)

Ini menunjukan begitu besar air bagi kehidupan manusia dan makhluk Allah Yang lain, tentang air juga sudah di bahas oleh seorang Filosof Yunani bernama Thales beliau mengatakan : “All things are from water and all thing are resolved into water”. Segala sesuatu yang hidup itu dari air dan akan kembali kepada air.
Dan pendapat Thales sejalan dengan Quran surat Anbiya ayat 30, bahwa air menjadi sesuatu yang sangat penting dan sangat berharga bagi kehidupan makhluk hidup.
Karena air memiliki kekuatan dan daya yang sangat luar biasa, dalam diri kita tergakandung air, air dalam diri kita sesungguh terkoneksi dengan air yang ada pada sekeliling kita, setiap makhluk Allah memiliki daulahnya sendiri, atau memiliki kekeuasaannya sendiri, memiliki komunitas sesamanya termasuk air.
Belajar dari air adalah belajar tentang menyerap segala realitas kehidupan dan mengalirkanya untuk kemanfaatan dan kebaikan, menyerap hikmah dan ilmu dengan ikhlas dan membaginya kepada mereka yang membutuhkannya, mendapatkan sesuatu dari nikmat Allah yang diberikan berupa ilmu, harta dan kekuasaan dipergunakan untuk kebaikan diri dan lingkungnnya.
Ibarat air jika yang ditampung dan menjadi tergenang akan tidak baik dan tidak sehat, butuh kesegaranya maka untuk menyegarkan diri dan memberikan kebaikkan kepada yang lain, maka, alirkanlah, bagikanlah dan sedekahkanlah kepada yang lain.
Kapasaitas tubuh kita tidak akan menyerap secara keseluruhan, semua ada takaran dan ukurannya, untuk menjaga kesimbangan kehidupan itulah maka dibutuhkan metode mengalirkan untuk kesejahteraan, konsep memberi dan mengasih harus di miliki bagi wirauhasawan atau entrepreneur yang akan mendatangkan kebaikkan berbentuk kesehatan dan kesejahteraan.
Bersyukur itu adalah menyerap nikmat Allah atau menfaatkan dan mempergunakan dengan semestinya, setelah itu menebarkan atau mengalirkannya kepada sekelilingnya, itulah konsep bersyukur yang telah diajarkan oleh air. Sehingga air dinyatakan dalam al-quran adalah rizki yang menumbuhkan kesejahteraan dan kehidupan.
وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ
Artinya: “Yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).” (QS Az-Zukhruf: 11).
Dan bersyukur itu akan mendatangkan kebaikan-kebaikan yang sangat luar biasa:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)
- Kombinasi daya diam dan daya Serap
Terdapat kombinasi daya diam dan daya serap akan menimbulkan kesejahteraan dan kemakmuran, tanah yang disiram air akan tumbuh diatasnya tumbuh-tumbuhan dan buah buahan sehingga kita mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran.
وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَاَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًاۚ وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَّجَنّٰتٍ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ اُنْظُرُوْٓا اِلٰى ثَمَرِهٖٓ اِذَٓا اَثْمَرَ وَيَنْعِهٖ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكُمْ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Artinya : “Dialah yang menurunkan air dari langit lalu dengannya Kami menumbuhkan segala macam tumbuhan. Maka, darinya Kami mengeluarkan tanaman yang menghijau. Darinya Kami mengeluarkan butir yang bertumpuk (banyak). Dari mayang kurma (mengurai) tangkai-tangkai yang menjuntai. (Kami menumbuhkan) kebun-kebun anggur. (Kami menumbuhkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman”. (QS. Al-Anam 99).
Begitulah jika mampu memadukan strategi diam dan serap akan menumbuhkan kesejahteraan dan kemakmuran, dan secara kosmik untuk mengaktivasikan dua daya tersebut melalui meditasi tertentu dan juga bisa dilakukan melalui sholat, karena sholat merupakan meditasi terbaik sepanjang kehidupan manusia, maka wajarlah jika Rosulullah memerintahkan sholat jika kita mengalami permasalahan dan ujian hidup.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153).
Dalam Gerakan sholat terkandung simbol-simbol yang sarat penuh makna, penulis mencoba mengartikulasikan dari setiap simbol terutama sujud dan tasyahud (tahiyat), tasyahud merupkan simbul tanah yaitu diam dan ikhlas, sedangkan sujud adalah symbol air yang menyerap dan mengalir ke bawah, sedangkan duduk diantara du sujud adalah iftirasy dengan bacaan doa yang sangat luar biasa, doa kesejahteraan dan kemakmuran.
رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى
Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku”
Jadi kombinasi sujud dan taysyahud terdapat gerakan sholat namanya iftirasy, duduk di antara dua sujud yang merupakan doa dan Gerakan memohon kesejatreaan dan kemakmuran.
