Ayah Haji Nursoleh Hasyim, Ponpes Ashabul Fikri Baros Serang Banten
Untuk dapat mengapai kehdupan baru yang penuh kebahagiaan, yang mungkin sekarang hidup ini koq begini-begini aja, atau mungkin kita hidup dihadapkan dengan pengulangan masalah-masalah yang itu-itu saja tanpa terlihat akan selesai, untuk mengurai hal tersebut butuh kesadaran untuk mempelajari setiap fenomena kehidupan, dan jika masalah kehidupan terasa berulang-ulang kejadiannya, itu berarti kita belum selesai masalah kehidupan masa lalu kita.
Kehidupan itu bagaikan lembaran-lembaran episode, dan setiap episodenya itu tidak akan terlepas dari cerita episode yang lalu, untuk mendapatkan cerita kehidupan baru dari rangkain itu kita harus meneyelesaikan kejadian masalah kehidupan masa lalunya dengan kesadaran untuk menuntaskanya, selama kejadian kesalahan atau dosa masa lalu belum tuntas, maka pengulangan kesulitan yang dihadapi akan terus muncul sepanjang hidupnya.
يَوْمَ نَطْوِى السَّمَاۤءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِۗ كَمَا بَدَأْنَآ اَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيْدُهٗۗ وَعْدًا عَلَيْنَاۗ اِنَّا كُنَّا فٰعِلِيْنَ
Artinya : “(Ingatlah) hari ketika Kami menggulung langit seperti (halnya) gulungan lembaran-lembaran catatan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Itu adalah) janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami akan melaksanakannya”.
Jelasnya kehidupan itu seperti lembaran-lembaran catatan, yang akan terus terbuka mulai catatan awal kita perbuat, dan kalau catatannya adalah kebaikan maka Allah akan membuka lembaran-lembaran selanjutknya dengan kebaikan pula, tapi catatanya awalnya penuh dengan dosa dan kesalahan maka yang muncul adalah keburukan dengan masalah kehidupanya.
Sehingga kehidupan ini penuh dengan masalah-masalah yang selalu muncul dalam setiap episodenya, bukan Allah hendak menguji hambanya, tapi adalah masalah kehidupan kita masa lalu yang belum selesai, untuk menyelesaikanya adalah dengan menyadari kesalahan diri dan memperbaikan serta tidak mengulangi dosa dan kesalahan yang sama, dan kemudian orang sholeh dan ulama menyebutnya tauban nasuha.
Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: “artinya adalah, taubat yang sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya.”
Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya ulumuddin” adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.
Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya.
Dan dari semua pengapat tersebut diatas menunjukan bahwa perkara yang timbul disebabkan dosa kita tidak hanya akan didapatkan ketika di akhirat nanti, tapi dapat dirasakan kepedihanya selama hidup di dunia ini, dengan pengulangan masalah-masalah dalam kehidupannya. Maka dibutuhkan taubat nasuha, taubat asal katanya rujuk atau kembali kepada kebenaranan yang Allah tuntunkan kepadanya, sedangan nashua diambil dari nash artinya bersih dan murni tanpa campuran dan lawan katanya adalah palsu (al-gisysy).
Hukum pengulangan kehidupan itu adalah hukum alam, siapapun akan mengalami hal tersebut, tidak terkecuali, karena sunatullah akan memapar setiap manusia yang hidup di dunia ini, Allah memberikan pelajaran pada kita untuk sadar akan apa yang telah kita lakukan masa lalu itu, dan kemudian merubah sikap dengan bertaubat dan merubah kesalahan itu dengan kebaikan-kebaikan, sehingga kehidupan kita akan dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan.
Seseorang dengan umur panjang kemudian kembali seperti anak kecil lagi, itu bagian dari pengulangan kehidupan manusia, seperti anak kecil yang belum memiliki memori dalam ingatanya, sehingga masyarakat menyebutnya pikun, dalam Al-quran Surat Yasin ayat 68, Allah Berfirman :
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
Artinya : “Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?”
Kuat menuju lemah bukan hanya tubuh kasarnya atau fisiknya tapi juga memori ingatanya, banyak yang panjang umurnya, fisiknya kuat tapi memori ingatanya melemah, untuk menghindari pelemahan memori itu maka dibutuhkan untuk memaksimalkan memori itu dengan ilmu Allah, memaksimalkan memori dipenuhi untuk selalu mengingat Allah Subhananhu wata’ala.
Dan yang membuat kita diingatkan lagi melalui musibah oleh Allah, ada dua hal yang perlu diperhatikan, pertama belum selesainya kurikulum kehidupannya dan kedua belum sadar dan menyadari kesalahan dan dosa sehingga Allah ingatkan lagi dengan timpahan musibah yang berulang-ulang.
Dan sebagai renungan sebagi penutup tulisan ini adalah sebagai berikut :
Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
Mengapa wajib bagi setiap Muslim untuk menuntut ilmu? Karena ada banyak keutamaan ilmu. Beberapa keutamaan ilmu diantaranya adalah:
Pertama : Ilmu adalah kekhususan, ilmu adalah keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala khususkan hanya untuk manusia semata. Selain ilmu, manusia dan hewan memiliki kesamaan.
Kedua : Ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju kepada kebajikan dan ketaqwaan. Dan sebab ketaqwaan itu, seseorang dapat memperoleh kemuliaan
Karena hidup adalah sebuah perjalanan yang panjang, dalam setiap langkah dan peristiwa, itu membutuhkan penyelesaiannya, dan penyelesaian terbaik itulah dengan ilmu, karena hidup itu adalah pengulangan kejadian sehingga kita butuh kesadaran diri untuk menerima dan merubahnya dengan ilmu yang Allah dikepada kita.
Dan sebagai penutup kita akan mendapatkan kehdiupan baru yang penuh kebahagian dan keberkahan, maka kita introspeksilah, bermuhasabah diri dari setiap kejadian yang menimpah kita, dengan penuh kesadaran berbasis ilmu, sehingga kita tidak mengulangi kejadian maslah yang buruk karena ulah kita sendiri, Allah tidak pernah menghukum manusia, manusia sendiri yang mendatangkan hukuman itu, cara terbaik adalah sadar dan merubah diri dengan mengakui dan menyelesaikan masalah lalu itu dengan cara bertaubat nashuha.. Wallahu A’lam Bishawab
Ns. Olin
