You are currently viewing BISNIS ITU IBADAH

BISNIS ITU IBADAH

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Baqarah : 198)

Dimulai dari kisah tentang ketidak sukaan umat Islam kepada mereka yang berbisnis ketika musim haji, haji itu ibadah sehingga ibadah tidak elok jika dimasuki unsur-unsur bisnis didalamnya, haji ya untuk haji bukan yang lain, itu terjadi ketika jaman mekah masih jahiliyah, para jamaah haji dilarang berdagang dan berbisnis oleh tokoh-tokoh Qurasy waktu itu, kemudian Allah menurunkan ayat 198 surat Al Bararah “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”.

Bisnis dan bekerja itu ibadah, dalam literatur fiqh ibadah itu terbagi dua yaitu Ibadah mahdhoh dan ibadah ghairu Mahdoh, tujuan penciptaan seluruh makhluk adalah untuk beridah kepada Allah, itu tertuanga dalam Q.S Adz-Dzariyat: 56 yaitu “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Menurut bahasa, mahdhah memiliki arti ‘murni’ atau ‘tak bercampur’. Sedangkan ghairu mahdhah memiliki arti ‘tidak murni’ atau ‘bercampur dengan yang lain’.

Ibadah mahdhah adalah ibadah yang selama ini kita kenal, antara lain seperti sholat, puasa, zakat, dan haji. Bahkan banyak kaum muslimin menganggap bahwa ibadah mereka adalah ibadah yang masuk ke dalam kelompok ibadah mahdhah.

Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah segala amalan yang diizinkan oleh Allah SWT, yang dalam pelaksanaannya dilandaskan dengan niat untuk mencari ridha dan pahala dari Allah SWT. Dan jika tidak berdasarkan niat karena Allah SWT, maka amalannya tetap sah, hanya saja tidak ada nilai pahala dalam pengerjaannya.

Oleh karena itu, ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah juga dikenal dengan sebutan ad-diin (urusan agama) untuk ibadah mahdhah, dan ad-dunya (urusan duniawi) sebagai sebutan ibadah ghairu mahdhah.

Karena seluruh ibadah itu adalah sebuah aktivitas, maka ibadah juga termasuk sebuah kewajiban untuk melaksanakan, dan pelaksanaanya harus karena Allah, ibadah adalah pekerjaan juga karena sifatnya aktivitas atau kegiatan, karena ibadah itu adalah pekerjaan karena Allah maka berusahalah dengan maksimal agar mendapatkan pahala yang maksimal pula, dan pahala terpuncak adalah kita akan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wataala.

Ada pekerjaan dan bisnis itu terlihat (nampak) dan adapula tidak terlihat dan tidak nampak, misalnya seseorang berjualan sembako atau toko kelontongan, itu bisnis dan usahanya terlihat, yang penjualan terlihat berusaha, barang dan produknya kelihatan serta pembelinya datang untuk membeli itu kelihatan.

Seseorang bekerja menjadi karywan di suatu perusahaan itu juga pekerjaan nyata dan terlihat, pekerja datang ke tempat kerjanya, tempat kerjanya terlihat bisnis usahanya dan juga gaji serta honor akan diterimanya kemudian, dan sistem usahanya juga dapat kita lihat dan baca, dan itu jika menurut ilmu marketing disebut dengan bisnis berbasis produk.

Ada juga seseorang tidak terlihat bekerja layaknya orang dagang, layaknya karyawan berekrja di perusahaan dan orang berbisnis memiliki perusahaan, orang tersebut hanya beribadah mahdhoh saja dan tambah dengan khusuknya berdzikir kepada Allah dan sesekali hanya mengajar kepada murid-muridnya tanpa mengahrapkan upah dari apa ajarkan kepada masyarakat, tujuan hanya ibdah kepada Allah dan hanya mengharapkan keridhoan Allah saja, mereka tetap hidup, bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, bahkan bisa memenuhi kebutuhan santri dan murid-muridnya.

Dan semua pekerjaan tersebut akan mendatang karunia Allah, jika diniatkan karena Allah Subhanahu wataala, sehingga Allah memberikan jaminan itu dalam Al-Quran :

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Artinya: Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fatir (35): 30).

Yang penulis ingin katakan itu adalah berusaha dan bekerjalah apapun pekerjaan diniatkan karena Allah pasti akan mendatangkan karunia (fadlan) yang sangat membahagiakan dan mencukupi kebutuhan tersebut, bekerja dengan sebaik-baiknya pasti Allah akan membalasnya dengan yang terbaik pula, dan berusahalah sesuai dengan orbit diri atau keahalianya  saja, jangan melakukan sesuatu yang bukan keahlianya, karena Allah memberikan setiap diri keahlian dan kemampuan, itu tertuang dalam QS. (QS. [17] Al-Isra’ : 84), Allah berfirman,

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا ࣖ  

Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. [17] Al-Isra’ : 84)

Jadi setiap diri manusia itu memiliki potensi kecerdasanya, dan potensi itu harus menjadi aktualisasi diri dengan pembelajaran dan pelatihan (pengulangan aktivitas yang sama) baik secara pelatihan formal yang dilakukan oleh lembaga pelatihan dan pendidikan atau melalui proses pengembangan diri secara sendiri atau otodidak. Bekerja dengan penuh semangat dan evaluasi setiap apa yang kita kerja itu yang akan membentuk Syakilatih (kecerdasan diri) atau keahlian, Allah tidak akan membiarkan manusia berusaha keras tanpa memberikan jalan keluar setiap usaha dan aktivitas itu sendiri jalanya, maka Allah akan memberikan petunjuk atau hidayah yang sangat terang benderang, dan membuka semua pintu karunia bagi mereka berusaha karena Allah dan kemampuanya.

Jangan terlalu silau dengan orang sukses itu, kemudian kita menginginkanya sepertinya, tanpa tahu bagaimana orang tersebut melakukan kesuksesan, bagaimana keras usahanya, bagaimana perjuangan yang sangat kuat hingga perih mungkin berdarah-darah itu, dan yang terpenting sukses seseorang itu adalah karunia Allah, sehingga kita harus bersyukur apa yang telah diberikan karunia itu, seluruh usahanya diniatkan untuk beribadah kepada Allah, dan jangan lupa memberikan kebahagiaan itu dengan cara bersedekah, sedekah itu ibarat pupuk dalam berusaha, agar usaha, bisnis dan pekerjaan tetap subur dan mendatangkan keberkahan.

Leave a Reply