You are currently viewing MARKETING LANGIT #3 (Bisnis Berbasis Kerahmatan)

MARKETING LANGIT #3 (Bisnis Berbasis Kerahmatan)

Dalam sejarah dinukil sebuah kisah inspiratif seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Ustman Bin Affan yang hingga sekarang manfaat bisnis kerhamatannya dapat dirasakan sampai sekarang ini, Ketika Seorang Yahudi memilki sebuah sumur dan airnya begitu berlimpah, kota Madina pada waktu itu musim kemarau yang berkepanjangan dan hanya sumur itu yang masih mengeluarkan air, orang Yahudi tersebut memanfaatkan sumur tersebut untuk diperjual belikan airnya dengan harga yang tinggi, hampir seluruh umat muslim di Madinah membeli air kepadanya, dalam waktu yang panjang bisnis itu memberatkan umat muslim kala itu, sehingga Rosulullah mengumumkan maklumat untuk membeli sumur itu kepada umat islam “ “Wahai Sahabatku, bagi siapa di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, untuk umat islam maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala.” (HR Muslim). Tanpa pikir panjang Usman Bin Affan mengambil kesempatan itu dengan rasa bahagia dan penuh cinta.

Orang yahudi bersikeras tidak mau menjual sumurnya, karena menghasilkan uang yang banyak dari hasil memeras penduduk Madinah. Ustman yang cerdas mengatur siasat. Ustman menawarkan untuk membeli separuh sumur.  Akhirnya Si yahudi bersedia menjual sumurnya 12 ribu dirham. Keesokan harinya Ustman mengumumkan kepada penduduk Kota Madinah untuk ambil air sumur gratis sebanyak mungkin, sehingga bisa digunakan sampai besok. Hari berikutnya sumur yahudi tidak ada lagi yang membeli air. Dan Akhirnya Si yahudi menjual setengah sumurnya lagi dengan 8 ribu dirham. Sekarang Ustman menjadi pemilik sumur sepenuhnya. Dan Ustman mewakafkan semuanya kepada siapa saja yang mau memanfaatkannya. Selama 1400 tahun sampai hari ini, sumur wakaf Utsman tak pernah kering seperti sumur zamzam. Tumbuhlah di sekitar sumur itu pohon kurma berjumlah 1.550 pohon disalurkan anak yatim fakir miskin, setengahnya ditabung direkening khusus atas nama Utsman bin Affan.

Ini salah satu bentuk bisnis berbasis kerahmatan, bisnis bukan sekadar menumpuk kekayaan dan manfaatnya hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, memperlakukan bisnis merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memiliki manfaat jangka panjang untuk manusia dan alam, kata kunci bisnis kerahmatan adalah menebarkan kasih sayang (rahmat) kepada seluruh alam, “Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani). Terdapat trilogi konsep bisnis kerahmatan itu Tuhan, Manusia dan Alam, bisnis yang selalu dicintai Allah dengan cara menebarkan kerahmatan kepada penduduk dunia yaitu manusia dan Alam semesta. Dan jika Allah cinta kepada kita pasti akan selalu dinaungi kedamain, keselarasahan bahkan kesejahteraan yang memberkahi.

Kita manusia adalah khalifah dimuka bumi, yang dalam pengertian sebagai manajer jagad alam ini, khalifah itu bukan diartikan sebagai penguasa alam yang dengan semana mena menguasai dan mengeksploitasi manusia lain dan alam untuk kempentingan dirinya, khalifah dalam pengertian manajer yang memilki rasa kasih sayang dan memposisikan manusia lain dan alam setara sebagai makhluk Allah, komunikasi bisnis yang dibangun adalah komunikasi cinta dan kasih sayang bukan komunikasi ancaman, menakut nakuti dan intimidasi. Alam sebegitu harmoni dan selaras dikeploitasi dengan kekuatan penuh dan habis dikeruk hingga alampun menunjukan kekuatanya dengan izin Allah memberikan sedikit ujian bencana.

Untuk menuju bisnis kerahmatan diperlukan bentuk trisula kerahamatn yaitu yaitu sikap cinta, sikap harmoni dan altruis, bisnis dilandasi dengan cinta kasih yang memunculkan konsep kepuasaan tersebut akan mempengaruhi sikap konsumen dalam mengambil keputusan, karena telah terpapar oleh sikap yang yang tulus dan jujur dari cinta pebisnis tersebut, haromoni sikap selarah dengan semangat bekerjasama dengan siapapun termasuk pelangggan dan konsumen, konsumen diposisikan sebagai mitra bisnis yang saling menguntungkan dan membahagiakan, dan yang terakhir sikap atruis yang peduli dengan sesama, prinsipnya lemah daya beli konsumen disebabkan ketidakberdayaan dalam hal kemampuan dan kemauan membeli itu karena ketidakberdayaan finansial dan akses ekonomi, dengan sikap peduli kita membantu mereka agar terus berdaya dan mampu akan membangkitanya daya beli mereka juga, semua akan terkoneksi dengan kode kode kerahmatan yang akan diberikan Allah dan alam semesta.  Wallahu alam bisowab (NS)

Leave a Reply