“jago Ngaji, hebar berbahasa arab, mimpin doa siap, jadi imam tidak diragukan, sederhana, mandiri, gak banyak gaya, gak cengeng, gak lebay, gak pencitraan, tahan banting, jago silat, orang tau dihormati, cinta Allah dan rosul sampai mati, hornat guru dan kiyai setulus Hati”. Santri Orisinil.
Pemimpin tidak hanya terlahir menjadi pemimpin, tapi pimpin juga dibentuk untu jadi pemimpin yang sesungguhnya, bakat saja tidak cukup untuk memimpin kalau hanya bakat maka pimpin tidak memiliki konsep yang jelas , dikarenakan minimnya ilmu dan pengalaman, saya percaya setiap manusia memiliki bakat untuk memimpin, karena penciptaan manusia untuk menjadi kholifah di muka bumi ini, dan bakat bisa akan muncul dengan kinclong atau redup karena tidak memilki sarana untuk mengekpresikan dirinya.
Ada istilah ketua, kepala dan juga pimpinan, menjadi ketua biasa berperinsip kolektif kolegial dalam mengambil keputusan ketua satu dengan yang lain memutuskan secara bersama sama, sedangkan kepala memiliki kekuasaan absolut kepada bahwanya, keduanya bisa dipilih atau diangkat oleh seseorang atau dan atau kelompok organisasi tertentu, setiap ketua dan kepala harus memiliki kemampuan memimpin, makanya tidak semua ketua dan kepala bisa jadi pemimpin, karena memimpin bukan sekadar diangkat atau ditunjuk tapi lebih dari itu harus dilatih, dididik serta diberikan sarana untuk mengekpresikan dirinya untuk jadi pemimpin.
Sehingga banyak ketua dan kepala tidak mampu memimpin anak buahnya, bingung memimpin, canggung bahkan mengalami kegagalan dalam memimpin, ujung ujungnyya ketua dan kepala asyeek dan sibuk untuk kepentingan dirinya sendiri tidak perduli bahkan acuh terhadap anak buahnya sendiri, ditangan Ketua dan kepala yang tidak memiliki jiwa pemimpin akan berantakan, dan juga tangan pemimpin hebat anak buah yang bodoh sekalipun jadi sangat berguna dalam mencapai tujuan tersebut.
Pondok Pesantren seluruh santri siap dipimpin dan siap memimpin, memimpin harus ada yang dipimpin begitu juga sebaliknya, setiap diri santri dibekali kemampuan memimpin sejak dini, bukan sekadar teori kemimpinan yang ada dikampus kampus, tapi juga langsung praktek bagaimana memimpin, diasah kemampuan memimpin dari merencanakan hingga mengevaluasi setiap aktivitasnya, diasah kemampuan wawasan dan inisatif dalam memiimpin, bakat memimpin dipantau diarahkan oleh pengurus Pesantren, maka jangan heran untuk mengurus semua keperluan santri dikelola oleh santri, mulai urusan makan hingga urusan kerja sama dilakukan oleh santri, fungsi dan peranan organisasi diterapka secara struktural dan terarah. Dan untuk mengangkat pimpinan tertinggi di organisai dipilih oleh santri melalui pemilihan ketua OSPM (organisasi Santri Pondok Modern) secara adil, jujur dan demokratis. Dan Persyaratan untuk menjadi calon ketua OSPM menggunakan standar tertinggi dengan syarat syarat yang ketat, rekam jejak calon harus memiliki intergritas keilmuan, wawasan, fisik, psikis terutama kemuliaan akhlak menjadi syarat utama, maka sudah menjadi calon saja merupakan kebanggaan tersendiri apalagi jika terpilih nantinya.
Yang terpilih adalah menjadi yang terbaik dari yang terbaik, miliki dan melaksanakan visi dan orientasi dalam memimpin seluruh santri yang ada di Pondok Pesantren, menyusun program kerja bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi menyusun kabinet yang diperlukan dalam menjalankan organisasi santri tersebut, menjadi pemimpin di pondok pesantren bukan karbitan apalagi pemimpin kaleng kaleng, karena seluruh mata santri memantau rekam jejak calon dari mereka mulai jadi santri, rekam jejak yang objektif dan realisistis untuk dijadikan pemimpin mereka. Pemimpin yang memiliki visi, berakhlak mulia, tahan banting, tidak cengeng, tidak asal, tidak banyak gaya, tidak pencitraan, wajar jika lulus dari Pondok Pesantren sudah siap menjadi pemimpin sesungguhnya.
Sebagai studi empiris dan pengalaman penulis, pernah menjadi Ketua di salah satu perguruan tinggi diperguruan tinggi yang menjadi Presiden BEM dan ketua perangkat organisasi kemahasiswaan biasanya adalah mereka yang pernah jadi santri, ketika memimpin biasanya organisasi menjadi aktif dan dinamis memiliki program kerja yang bagus dan keren, pekerjaan kegiatan akan selesai sampai tuntas sampai beres dengan baik dan benar.
Tidak perlu sekolah kempimpinan, masukan anak ke Pesantren Modern agar bakat dan kemampuan kempimpinannya terasah, sayang jika memiliki anak yang memiliki kecerdasasan intelektual tidak dimbangi dengan kecerdasan mental yang sempurna, penggambungan kecerdasan sekaligus hanya ada di Pondok Pesantren yang utama, memang banyak lembaga pendidikan yang berorientasi kepeimpinan tapi tidak sekomplit di Pondok Pesantren, dari latihan Pidato dalam tiga bahasa, pembelajaran bahasa Arab dan inggris yang langsung dipraktekkan, karena syarat pemimpin itu harus mampu mengolah kata dengan baik dan sekaligus kemampuan bahasa asing yaitu arab dan Inggris, maka bukan hanya terlihat pintar tapi memang pintar jika pemimpin itu harus memiliki bahasa asing terutama Inggris dan arab.
Sabagai gambaran singkat sebagai alat potret bagaimana kehidupan organisasi santri di Pondok Pesantren Modern itu, kalau boleh berpendapat secata subjektif sekaligus objektif bahwa organisasi itu berjalan secara aktif dan dinasmis bahkan dikelola dengan sistem yang baik serta modren, misalnya dalam kajian struktural ketua OSPM dan wakilnya, memiliki beberapa kabinet yaitu bagian Keamanan, Bahasa, Sekretaris dan kesekratriatan, ubudiyah dan Pengajaran, dapur dan kerumahtanggaan, Humas dan Penerimaan tamu, Informasi dan komunikasi dan lain sebagainya, dan setiap hari mereka bekerja 24 jam, ini adalah gerak organisasi yang sangat luar biasa dinamis dan efektifnya, rasanya tidak ada organisasi kesisiwaan yang sedinamis di Pondok pesantren, karena merancanakan, melaksanakan hingga evaluasi dilakukan terus menerus oleh kerana mereka tinggal di asrama yang harus terus dilayani oleh pengurus setiap harinya.
Kenapa saya katakan organisasi modern, karena seluruh kegiatan terprogram dan tercatat dengan baik hingga pada alokasi penggaran dibuat secara sistematis, begitu juga dalam pencarian dana dan sumber daya yang digunakan didapat secara mandiri, mulai membuat perencanaan kegiatan aksi hingga pelaporan terekam dan tercatat dengan baik, ini bisa dibuktikan dari setiap kepengurusan akan ada laporan pertanggung jawaban di depan seluruh santri dan disaksikan oleh seluruh civitas kepondokan, ini sangat luar biasa dan menganggumkan, kemudian ada pertanyaan apakah ada kesalahan dana pengelolaan organisasi? Saya hampir pastikan ada kesalahan disana sini karena mereka manusia pembelajar, wajar kalau salah tapi kesalahan menjadi pembelajaran bersama sehingga penggurus selanjutnya tidak boleh mengulangi kesalahan seniornya dengan kesalahan yang sama, jadilah mereka organisasi pembelajaran yang sangat efektif dan efisien.
Siklus kepengurusan satu tahun sekali, pengurus dimulai dari kelas 5 (lima) di Pondok Pesantren modern hingga mendekati pertengahan kelas 6 (enam) dan begitu seterusnya, pengkaderan dilakukan sitematis dan berjenjang, penempatan staffing dilakukan secara selektif sesuai dengan keperibadian dan kencenderungan santri akan kepeminatan secara alami, dan semua di susun oleh pengurus terpilih dibimbing oleh pengasuh Pondok Pesantren, ini sesuatu yang hebat karena sedari muda mereka sudah berorganisasi secara benar dengan kempimpinan yang membutuhkan figur yang mendekati sempurna menurut para santri dan ustad serta pengasuh Pondok Pesantren.
Selain organisasi OSPM yang berorientasi mengatur kehidupan santri di Pondok Pesantren Modern terdapat unit unit bisnis yang dikelola oleh santri juga meskipun diawasi langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren, sebut saja Koperasi Pelajar Pondok Pesantren Modern yang dikelola oleh santri disinilah penulis pernah menjadi pengurus selama 2 periode, menurut kabar dan informasi beredar dikalangan santri dan para ustad yang menjadi pengurus Koperasi Pelajar (Kopel) orang pilihan dengan kreteria khusus, tapi secara empiris pemilihan ini salah satu syaratnya adalah santri harus Jujur, rajin, khusu’ dan bisa dipercaya dan lagi diperlakukan khusus cenderung istimewa katanya siih tapi saya rasa gak juga, sama saja perlakuan disiplin santri sama saja.
Tapi bukan itu yang saya mau ungkapkan sesungguhnya penanaman kepercayaan kepada santri dari para pengasuh pondok itu yang terpenting, pembelajaran mengelola unit bisnis menjadi modal besar untuk menjadikan santri menjadi entrepreneur yang sukses, meski banyak alumni Kopel yang tidak terlibat bisnis dalam kehisupan setelah lulus jadi santri, tapi nilai nilai kewirausahaan menjadi modal yang sangat hebat menjadi manusia yang mandiri dan percaya diri, tapi tidak sedikit juga almuni kopel yang menjadi pengusaha sukses dan pemimpin sukses juga.
Dari semua itu yang terpinting adalah sebuah kepmimpinan yang kuat akan membangun rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat pula, dan ini saya rasakan hingga sampai sekarang, jika mengatakan satu almuni rasanya mereka adalah saudara saya, mereka keluarga saya mereka adalah orang orang tersayang yang selalu tersimpan dihati.
