MARKETING LANGIT
(Solusi Startegi Bisnis dimasa pandemi Covid 19)
Oleh: H. Nursoleh Hasyim, SE, MM*
Dalam marketing mengenal namanya marketing mix terdapat 4p, mungkin sudah menjadi menjadi 7P merupakan strategi marketing dalam menjual produk atau jasa, empat dasar startegi marketing yaitu produk, price. Place dan promotion yang kemudian menjadi startegi bauran pemasaran, pemasar harus mengenal produk dan tidak harus membuat atau memproduksi produk, karena produk yang akan dijual begitu banyak dan beragam yang menanti pemasar yang keren dan cerdas merubah produk yang statis lama terjual menjadi produk yang laris manis diminati dan dikonsumsi oleh para konsumen, dikarenakan gaya pemasar dalam memasarkan produk tersebut. Kalau boleh disebut pemasar atau marketer menjadi peluang yang menjanjikan, pemasar bukan lagi sebagai profesi tapi lebih dari itu sudah menjadi industri pemasaran, menjadi pengusaha atau juragan pemasaran.
Dalam sitauasi pandemi ini pergerakan manusia secara fisik begitu diatur dan terbatas, kekakuan dalam bergerak membuat banyak usaha yang merasa tertekan dan bahkan tidak sedikit mengibarkan bendera putih tanda menyerah dengan keadaan ini, pemerintah mencoba untuk menyemangati para pelaku bisnis dengan jurus jurus merangsang agar tetap bangun dan bangkit, progran stimulus usaha dioles oleskan sebagai obat perangsang pebisnis untuk tetap kuat dan bertahan, mungkin ada yang mampu bangkit dan mungkin banyak juga yang sekarat hidup tak kuat dan mati tak mau, banyaknya usaha yang sekarat itu ukuranya sederhana saja daya beli masyrakat menurun atau banyaknya usaha usaha dipusat pusat perbelanaan sudah tidak ramai lagi dari pengunjung. Pengusaha dan pebisnis hantaman pademi Covid 19 dan lagian juga pengusaha sesungguhnya sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya, jadi percepatan kematian usaha yang begitu masif tidak terkendali.
Semua jurus marketing digunakan untuk menundukan hati konsumen agar tidak berpaling kelain hati paroduk lain digencarkan, apalah daya hati konsumen semakin beku dan kaku karena dorongan hasrat membeli tertutup rapat karena daya beli semakin terkuci begitu rapat mungkin juga karena konsumen dan pelanggan sekarang semakin menjadi pemilih dan pemilah yang ulung untuk mengeluarkan uangnya pada sektor sektor tertentu saja, ada juga yang menarik ternyata ada beberapa pengusaha dan pebisnis sekarang mendapatkan rizki nomplok dari kondisi saat ini, karena mampu membaca isyarat isyarat dari langit yang mempu ditafsirkan dan ditadaburi dengan benar.
Sebelum penulis membahas marketing langit ada baiknya kita membaca isyarat isyarat dari langit agar mampu ditafsirkan atau minimal bisa ditadaburi oleh pelaku bisnis itu sendiri, dan isyarat isyarat tersebut sudah banyak temaktub dalam kitab suci Al quran baik yang tersurat ataupun yang tersirat, yang tersurat misalnya adalah bisnis itu harus memiliki keterikatan dengan keimanan, usaha tidak bisa menafikan itu sehingga memiliki prinsip business is businesss, binis jangan dicampur adukan dengan keimanan, inilah mulai memunculkan perilaku bisnis itu bisa dilakukan dengan segala cara tidak perduli haram dan halal, pada banyak yang berdoa mendapatkan rizki yang halal dan berkah, tapi perilakunya menyimpang akhirnya antara doa bertabrakan dengan perilaku bisnis yang menyimpang. Satu isyarat dari langit yang sering kita abaikan adalah ketika ada panggilan adzan berkumandang untuk menghentikan sejenak hiruk pikuk bisinis untuk melaksanakan sholat dan beribadah ke masjid, banyak diantyara mereka yang mengabaikannya karena merasa tidak penting ada juga untuk solat atau merasa lagi tanggung asyiik berdagang, perintah untuk menghentikan sementara aktivitas bisnis untuk menghadirkan diri penghambaan kita kepada pemilik modal sesungguhnya, pemilik kekayaan sesungguhnya dan pemilik dari semua kepemilikan, sejenak saja tidak menghabiskan berjam jam apalagi berhari hari, satu waktu kita merefresh, instrupeksi diri bahkan perenungan tentang diri dan perjalanan bisnisnya dalam tempat dan waktu yang paling mulia, agar energi bertambah untuk menghadapi hidup dan kehidupan.
Bisnis butuh energi yang begitu besar, energi ini bukan hanya sekadar modal yang cukup dan energi dalam menjalankan strategi bisnisnya, semua aktivitas bisnis itu memerlukan energi pendorong yang kuat, satu hari yang namanya hari jumat adalah waktunya mencas energi tersebut untuk full kembali, pada hari itulah seluruh isyarat terbuka dengan sempurna, dan hari itu pula dibukakan pintu pintu keberkahan dari langit, terlalu mengandalkan logika dan otak dalam menyusun strategi akan membuat strategi itu jadi garing bisa jadi kering kerontang. Kemudian apa pertanyaan kenapa orang yang jarang solat dan agamanya beda bisa sesukses itu mereka berbisnis (pertanyaan ini nanti saya jawab pada tulisan berikutnya). Dan dari itu nyatakan istilah berkah bukan sukses atau kaya, berkah inilah yang manjdi kata kunci bisnis, karena berkah lebih nilainya dari sekadar sukses duniawi ataupun kaya materi pada saat ini, kalau boleh mengutip berkah dari EJ Brill dalam The Encyclopedia of Islam menyatakan berkah berarti kasih sayang Tuhan. Secara batin, berkah memunculkan ketenangan, secara fisik memunculkan kebahagiaan, hal itu terjadi karena nikmat dari Allah terus ditambah dan terus tumbuh dalam batin.
Berkah datang dari Allah, baik dalam hal rizki, pertolongan, dan kesembuhan. Tidak boleh meminta berkah selain Allah. Dalam sebuah kisah yang menjadi inspirasi bersama ketika Rosulullah menunjukan berkah berupa air kepada umat, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhairi, Rosulullah melakukan perjalanan bersama sahabatnya, ketika itu persediaan air sedikit, rosul bersabda , “carilah air.” Para sahabat membawa bejana berisi sedikit air, rosululllah memasukan tangannya, kemudian berkata, “kemarilah kalian menuju air yang diberkahi dan berkah itu dari Allah.” Ibnu mas’ud menjadi saksi yang melihat kejadian tersebut. Sedikit belum tentu tidak berkah dan banyak belum tentu itu berkah, artinya banyak dan sedikit itu tergantung nilai manfaat yang bisa dinikmati, karena keberkahan itu meuncul dengan satu syarat yaitu pandai mensyukuri hal tersebut.
Isyarat kuat dari langit itu adalah hidup dan bisnis adalah mencari berkah bukan menjadi sukses dan kaya raya, karena sukses bukan tujuan dan kaya bukan juga cita cita, begitu banyak orang kaya terlihat bahagia secara nampak fisik ketika melihatnya, jika unsur berkah tidak terpenuhi yaitu unsur batin dan fisik seperti yang kemukakan oleh Brill yaitu ketenangam dan kebahagian hakiki yang benar bersumber dari kasih sayang Allah kepadanya. Ketenangan dan kedamaian yang berada di hati dan perasaan tercipta karena keberkahan dari Allah, orang sukses yang katanya kaya raya, coba tanya batinnya apakah tenang tidak was was dan galau atau berujung stress karena teralalu rakus menumpuk numpuk harta yang berlebihan dan sangat takut sekali kehilangan hartanya, seakan hartanya itu menjadi sumber kebahagiaan. Logikanya mengatakan jika harta yang dikeluarkan tidak sesuai dengan pos bisnisnya akan sia sia dan tidak memiliki manfaat bagi usahanya, mislanya hartanya enggan dikeluarkan zakat dan sedekahnya yang dianggap tidak mendatangkan keuntungan secara bisnisnya, pelit dan rakus adalah penyakit batin meraka yang tidak dikaruniai keberkahan.
Bagiamana rasionalisasi berkah, dalam siklus konsep inti pemasaran yang digambarkan oleh Philps Kotler sebagai berikut Bisnis dan pemasaran dimulai adanya kebutuhan, keinginan dan perimintaan individu dan masyarakat akan produk dan jasa yang miliki nilai dan kulitas dan itu bisa dipenuhi dan dimilki dengan beberapa cara yaitu pertukaran, transaksi dan hubungan humanis, semua itu terjadi di pasar, sedangkan pasar sendiri terbentuk oleh individu dan mayarakat yang memiliki kebutuhan, keinginan dan permintaan, dan begitu seterusnya yang dimodelkan oleh Kotler.
Dari kosep inti pemasaran yang digagas oleh kotler tersebut bisa ditarik kata kuncinya itu pasar, dan pasar itu terbentuk dari individu dan organisasi yang memiliki kebutuhan dan keinginan serta perimntaan, setiap individu dan organisasi dipastikan memilki kebutuhan yang harus dipenuhi untuk tetap hidup, dan kebutuhan tersebut juga dibangkitkan daya belinya yang kemudian disebut permintaan, dengan kondisi sekarang dimasa pandemi Covid ini daya beli masyarakat turun drastis bahkan boleh disebut tidak memiliki daya beli lagi, kalau sudah begitu apa yang harus diperbuat agar mata rantai siklus pemasaran terus berputar dan tidak terputus, maka sedehananya bagi pelaku bisnis dan mereka yang beruntung secara materi pada saat ini harus bersembangat membagi hartanya untuk menghidupkan kembali daya beli masyarakat secara bersama sama serta saling menguatkan. Dan konsep sedekah itulah yang akan menumbuhkan keberkahan bagi yang mengetahuinya.
Dan ini pernah dicontohkan oleh sahabat nabi yang mulia Utsman Bin Affan sekaligus dicatat dalam tinta emas sejarah. Ketika itu terjadi krisis air karena kemarau yang sangat panjang, air merupkan salah satu sumber kehidupan bagi umat manusia, untuk itu krisis tersebut harus segera diatasi dan ditanggulangi, kemudian pertanyaannya siapakah yang bisa menyelesaikan krisis tersebut bukanlah oleh pemerintah atau penguasa tapi oleh seorang pebisnis sejati yang bernama Ustman Bin Affan.
Seorang sahabat Rasulullah yang terkenal dermawan, Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu segera bergerak untuk membebaskan sumur raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Meski sudah ditawarkan harga yang bagus, Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya. Ia beralasan, seandainya sumur tersebut dijual, penghasilan yang diperolehnya setiap hari akan berhenti.
Utsman tidak kehilangan akal untuk kembali menawar sumur tersebut. Ia pun memberi tawaran menarik akan membeli setengah dari sumur tersebut. Jika Yahudi itu setuju, ujarnya, maka sumur itu bisa dimiliki bergantian. Satu hari dimiliki Utsman, besoknya kembali lagi menjadi milik Yahudi. Begitu seterusnya.
Yahudi itu pun menerima tawaran Utsman. Ia merasa bisa mendapatkan uang banyak dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur. Utsman pun meminta penduduk Madinah untuk mengambil air tersebut dengan gratis. Ia juga mengingatkan warga mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk dua hari karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itu pun mendatangi Utsman. Ia meminta Utsman untuk membeli setengah lagi sumurnya tersebut dengan harga yang sama seperti saat Utsman membeli kemarin. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham maka Sumur Raumah menjadi milik Utsman secara penuh.
Utsman lalu mewakafkan Sumur Raumah. Sejak itu, sumur tersebut dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Setelah diwakafkan, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah hingga saat ini berjumlah 1.550 pohon.
Departemen Pertanian Saudi kemudian menjual hasil kebun kurma ini ke pasar-pasar. Setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, sedangkan setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan.
Lihatlah keberkahan itu terpancar sehingga perekonomian mastarakat tumbuh lagi dan berkembang dengan pesatnya, disebabkan oleh sedekahnya perkebunan kurma masyarakat menjadi bergairah sehingga siklus pemasaran berputar dengan baik.
Begitulah jika para pengusaha dan pebisnis menggunakan markting dari langit, semua akan mendatangkan ketenangan dan kebahagian yang oleh Brill disebut konsep berkah.
